Selasa, 06 Maret 2012

Pertemuan ke-4: LEBIH JAUH TENTANG: FOTO BERITA DAN FOTO HUMAN INTEREST

ket. Gambar: Foto berita tentang anak-anak dan wartga sipil yang jadi korban bom napalm yang dijatuhkan pesawat terbang AS dan Vietnam Selatan di Distrik Trang Bang, Provinsi Trang Bang (dulu – Vietnam Selatan) pada 8 Juni 1972 karya jurnalis Nick Ut memiliki daya pengaruh dan daya provokasi yang tinggi dalam membakar semangat rakyat AS untuk berdemo besar-besaran menuntut pemerintah AS menghentikan keterlibatannya dalam perang di Vietnam. Dan, tak berapa lama kemudian pemerintah AS memenuhi desakan rqakyatnya itu. (foto: Nick Ut/AP)

Pertemuan ke-4:
LEBIH JAUH TENTANG:
FOTO BERITA DAN FOTO HUMAN INTEREST

            FOTO BERITA (SPOT NEWS)

            FOTO berita adalah foto yang menyajikan suatu informasi peristiwa atau berita.
Seperti halnya berita yang harus selalu mengedepankan nilai aktulitas (terkini), foto berita juga mengutamakan nilai aktulitas.
Kekuatan atau daya tarik foto berita terletak pada:
1.      Aktualitas informasi peristiwa yang disampaikan.
2.      Fakta dan momen peristiwa yang tersaji.
3.      Komposisi fotografi.

Informasi peristiwa yang tersaji atau disampaikan foto berita tersebut haruslah memiliki nilai aktulitas yang tinggi. Informasinya terkini atau terbaru. Karena informasi peristiwa terkini merupakan informasi yang dicari pembaca (publik). Selain informasi peristiwanya terkini, daya tarik lainnya juga terletak pada siapa tokoh yang ada di dalam peristiwa itu.
Foto berita harus menyajikan fakta peristiwa yang jelas dan lengkap, serta momen peristiwa yang menarik. Fakta peristiwa yang disampaikan atau diinformasikan foto berita tersebut ke pembaca (publik) haruslah menggambarkan secara jelas dan lengkap tentang peristiwa yang terjadi.
Momen peristiwa yang disajikan harus bisa dipahami dengan mudah dan jelas oleh pembaca (publik), sehingga pembaca mengetahui serta memahami tentang apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Sebagai bagian dari karya fotografi, fotojurnalistik, termasuk di dalamnya foto berita, tidak bisa mengenyampingkan atau mengabaikan peran komposisi.
Komposisi yang merupakan penempatan posisi objek pada bidang pemotretan, sehingga menjadi pusat perhatian, memiliki peran dalam menarik perhatian pembaca (publik) untuk tertarik ke foto berita tersebut. Pembaca akan tertarik karena foto berita itu tidak saja punya nilai informasi, tapi juga memiliki nuansa keindahan.
Komposisi merupakan penataan elemen-elemen atau unsur-unsur dalam gambar. Elemen-elemen itu terdiri: sudut pemotretan, sepertiga bagian, pola, garis, warna, bingkai, latar belakang, dan latar depan.
Dalam kaitan fotojurnalistik, foto berita merupakan pilihan utama media pers seperti suratkabar, maupun majalah berita (termasuk juga media online).  Sebagian besar fotojurnalistik yang disajikan atau dimuat media pers seperti suratkabar dan majalah berita tersebut adalah foto berita.
Karena itu dibanding jenis fotojurnalistik lainnya, foto berita mendapat tempat yang ‘istimewa’, diutamakan, dan selalu dicari.
Hampir semua mediampers seperti suratkabar dan majalah berita (termasuk juga media online), selalu ‘mengutamakan’  foto berita dalam memilih atau menentukan foto headline (foto utama).
Foto headline atau foto berita utama selalu berukuran lebih besar dari foto-foto jurnalistik lainnya yang dimuat di halaman yang sama.
Foto headline atau foto berita utama haruslah memiliki daya tarik yang besar dibanding foto-foto lainnya (yang dimuat dalam waktu bersaamaan).
Daya tarik itu tidak saja terletak pada besar atau tingginya nilai informasi peristiwa yang disampaikan, tapi juga pada pesona fakta serta  momen  peristiwa itu sendiri.
Foto headline harus memiliki daya tarik atau pesona yang lebih besar dari foto-foto lainnya dalam menarik serta mempengaruhi mata dan hati pembaca.
Foto headline atau foto berita utamaq biasanya selalu hadir bersamaan dengan berita yang juga menjadi berita headline pada media pers tersebut. Demikian juga foto-foto berita lainnya, selalu hadir bersamaan dengan informasi peristiwa yang disajikan.
Kekuatan visual yang dimiliki foto berita lebih mempertajam daya tarik kekuatan verbal yang dimiliki berita tulis.
Suatu berita atau tulisan jurnalistik lainnya, seperti feature, reportase dan lainnya, akan lebih memiliki daya tarik atau pesona bila dilengkapi dengan dengan foto.
Foto yang melengkapi suatu berita atau tulisan lainnya akan membuat berita atau tulisan tersebut menjadi lebih kuat dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada pembaca (publik). Dengan kata lain, daya tarik atau daya pesona informasi itu menjadi lebih tinggi dan lebih bernilai.
Sering pula terjadi, selembar foto berita (termasuk juga jenis foto jurnalistik lainnya) memiliki kekuatan informasi atau daya tarik yang lebih dibanding berlembar-lembar halaman berita atau tulisan (beribu-ribu karakter tulisan).
Satu hal yang perlu diingat, bahasa foto (dalam foto berita) memiliki daya pengaruh datau daya provokasi yang lebih tinggi dibanding bahasa tulis.
Foto berita atau jenis foto jurnalistik lainnya, sering juga disebut sebagai  perpaduan antara foto (gambar) dan kata-kata. Perpaduan keduanya memberikan penjelasan atau pemahaman kepada pembaca (publik) tentang informasi suatu peristiwa.
            Dalam sejarah perjalanan jurnalistik, usia foto berita demikian pula foto-foto jurnalistik lainnya jauh lebih muda daripada jurnalistik tulis. Keberadaan foto jurnalistik dalam kerja jurnalistik diawali dengan kemunculan jurnalistik gambar. Peristiwa yang akan disampaikan ke publik direka ulang dalam bentuk gambar atau sketsa. Media jurnalistik atau suratkabar pertama yang memuat gambar sketsa sebagai berita adalah The Daily Graphic. Gambar berita pertama yang disajikan The Daily Graphic adalah gambar tentang suatu peristiwa kebakaran, dan diterbitkan pada edisi 16 April 1877.
            Foto berita atau fotojurnalistik pertama yang dimuat atau ditampilkan adalah foto tentang suatu kawasan tambang pengeboran minyak di Shantytown. Foto yang dihasilkan oleh Henry J Newton dimuat oleh suratkabar New York Daily Graphic pada terbitan  tanggal 4 Maret 1880.
            Sedang foto berita atau bahkan juga foto jurnalistik paling bersejarah dalam kontek sejarah perjalanan bangsa Indonesia adalah foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta, serta foto pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih yang disaksikan Bung Karno, Bung Hatta dan Ny Fatmawati, hasil karya kakak beradik Alex Mendur (1907-1984) dan Frans Soemarto Mendur (1913-1971).
Pada dasarnya foto berita atau fotojurnalistik lainnya merupakan foto biasa, seperti halnya foto-foto karya fotografi lainnya. Yang membedakan, foto berita (fotojurnalistik)  mempunyai nilai berita (informasi) atau pesan yang memiliki kelayakan untuk diinformasikan ke publik.

Untuk menghasilkan suatu karya foto jurnalistik, termasuk di dalam foto berita yang baik, seorang wartawan foto harus memposisikan dirinya pada dua profesi kerja: pertama sebagai wartawan (jurnalis); kedua sebagai fotografer.
Sebagai wartawan, seseorang harus cepat tanggap dan peka terhadap suatu peristiwa yang disaksikannya. Seorang wartawan harus cepat mengetahui apakah peristiwa yang disaksikannya itu layak diinformasikan atau disampaikan ke publik atau tidak. Dan, sebagai fotografer, ia tentu harus cepat memutuskan untuk memindahkan informasi tentang peristiwa itu ke dalam kameranya, yaitu dengan memotretnya.
 Karenanya dalam melaksanakan kerja jurnalistiknya, langkah ideal yang harus dilakukan adalah memadukan tiga hal penting:
1.      Melakukan kerja sebagai wartawan (jurnalis) sesuai dengan profesi kerjanya.
2.      Melakukan kerja sesuai dengan hobi atau kesukaannya terhadap dunia fotografi, atau sebagai fotografer.
3.      Melakukan pekerjaan sesuai kesukaannya terhadap seni, dalam hal ini fotografi seni.
Maka bila ingin menjadi seorang wartawan/jurnalis foto yang berhasil, maka seorang wartawan foto harus dapat memadukan ketiga hal penting tersebut.

Ket. Gambar:
                Foto berita karya Eddie Adam tentang eksekusi jalanan terhadap seorang tahanan Vietcong bernama Nguyen Van Lem yang dilakukan Kepala, Polisi Nasional Vietnam Selatan, Nguyen Ngoc Loan, di kota Saigon, pada 1 Februari 1968, ini juga memiliki daya pengaruh dan daya provokasi yang tinggi terhadap masyarakat dunia dalam mengecam kekejam perang dan mendesak dihentikannya keterlibatan AS dalam perangh di Vietnam tersebut.
                                                                                                                                                        (foto:Eddie Adam/AP)

FOTO HUMAN INTEREST
Foto human interest adalah foto yang menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan daya tarik manusiawi, atau foto yang berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Foto human interest adalah foto yang mampu menggugah emosi kemanusiaan kita yang melihatnya.
Foto human interest memiliki daya tarik yang berbeda dengan foto-foto jurnalistik lainnya.
Daya tariknya meliputi:
1.      Mampu bercerita mengenai keadaan manusia, dengan pesonanya.
2.      Mampu bercerita atau berkisah banyak dibanding berlembar-lembar halaman tulisan.
3.      Mampu menggugah emosi atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran (mampu mengembangkan imajinasi).

Bagaimana dan di mana mencari foto human interest?
Pertama-tama yang harus dipahami, foto human interest itu bisa diperoleh dengan terlebih dulu direncanakan (dicari/ditarget), tapi juga diperoleh secara tiba-tiba (insidential).
Foto human interest bisa  diperoleh atau didapatkan di mana pun. Bisa di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Bisa di belakang rumah. Bisa di tetangga sebelah. Bisa di dalam keramaian pasar, keramaian mall, di keriuhan jalan raya, di trotoar-trotoar jalanan, di tempat pameran, atau di mana pun.
Bila ingin mendapatkan foto yang baik, khususnya foto human interest, maka seorang wartawan foto tidak harus tinggal diam di kantor menunggu perintah. Tapi ia harus rajin ‘berkeliling’ atau ‘memburu’ foto di mana pun. Karena dengan ‘berkeliling’ atau ‘memburu’ itu seringkali diperoleh foto-foto human interest yang berhasil. 
Seorang wartawan foto merencanakan untuk mencari objek foto atau target foto di suatu desa yang jauh dari kota. Di dalam benak si wartawan sudah ada rencana-rencana target foto yang akan difotonya ketika berada di desa tersebut. Misalnya, suasana kehidupan masyarakat desa yang damai, rumah-rumah penduduknya, kesibukan para petani di ladang atau di sawah, kesibukan anak-anak desa bermain, pemandangan-pemandangan yang indah di desa, dan lain-lain.
Di perjalanan, tiba-tiba wartawan itu melihat suatu pemandangan yang menarik di sebuah sungai. Di sungai yang penuh bebatuan gunung itu terlihat beberapa ibu dan perempuan muda sedang mencuci, ada pula yang sedang memandikan anak-anak balitanya. Ada juga yang sedang mandi. Beberapa anak yang sudah usia sekolah terlihat pula sedang sibuk mandi dan bermain air.
Di mata si wartawan, pemandangan yang dilihatnya di sungai itu merupakan objek pemotretan yang menarik. Objek pemotretan yang tidak direncanakan. Objek pemotretan yang diperoleh secara tiba-tiba. Dan, objek pemotretan yang diperoleh tiba-tiba itu bisa menjadi foto-foto human interest yang menarik dan berhasil. +++
                                                                                             sutirman eka ardhana

Rabu, 29 Februari 2012

Pertemuan ke-3: MENGENAL FOTOGRAFI JURNALISTIK

               Pertemuan ke-3:               MENGENAL FOTOGRAFI  JURNALISTIK

    DALAM kerja jurnalistik, fotografi memiliki peran yang penting dan besar. Suatu informasi atau berita di dalam kerja jurnalistik tidak hanya disampaikan melalui berita tulis atau ‘rangkaian kata-kata’, tetapi juga melalui foto yang merupakan karya dari kerja fotografi. Karena itu di dalam kerja jurnalistik dikenal istilah “berita tulis” dan “berita foto” atau “foto jurnalistik”.
    Tidak hanya sebatas itu. Peran karya fotografi di dalam jurnalistik tidak hanya sebatas bisa menjadi ‘penyampai atau pemberi informasi’, tapi juga bisa sebagai ‘mempercantik wajah’ media itu sendiri. Coba Anda bayangkan, suatu surat kabar, tabloid dan majalah (majalah berita, hiburan, gaya hidup, dan lainnya) yang tidak ada satu foto pun. Bagaimana kesan Anda? Informasi berita di media pers itu pasti terasa hambar. Tidak ada daya pesonanya. Tidak ada daya tariknya.
    Bagi media pers, baik surat kabar maupun majalah, berita tulis dan berita foto (foto jurnalistik) mempunyai peran dan kekuatan yang sama. Berita tulis menyampaikan informasi dalam deskripsi verbal, sementara berita foto menyampaikan dalam deskripsi visual.

    Sifat-sifat Foto Jurnalistik
Di dalam kerja jurnalistik dikenal ada enam sifat foto jurnalistik (foto berita). Keenam sifat yang dimiliki foto jurnalistik itu, meliputi: mudah dibuat, akurat, universal, visual, kompak dan selalu aktual.
   
Mudah dibuat – Teknologi fotografi yang terus berkembang dari masa ke masa, membuat proses pembuatan foto menjadi sesuatu yang mudah. Terlebih dengan teknologi digital, sebuah karya foto sekarang sudah bisa dibuat hanya dalam hitungan menit.

Akurat – Dalam bentuk aslinya (bukan rekayasa), foto selalu akurat, dan tidak bisa berbohong. Selembar foto merekam suatu peristiwa secara apa adanya.

Universal – Bahasa foto adalah bahasa yang universal. Bahasa yang bisa diterima dan dipahami oleh manusia di belahan dunia mana pun. Secara visual, selembar foto akan menginformasikan suatu berita atau peristiwa, dengan bahasa yang akan dimengerti oleh bangsa atau etnis apa pun.

Visual – Bahasa foto adalah bahasa visual. Bahasa visual, bahasa yang bisa dimengerti dan dipahami oleh siapa pun. Artinya, bahasa visual yang disampaikan selembar foto akan bisa ‘dibaca’, dimengerti dan dipahami oleh orang yang bisa membaca sampai ke orang yang tidak bisa membaca sekali pun.

Kompak – Ketika suatu peristiwa terekam di dalam berbagai lembar foto secara berurutan, urutan foto-foto itu tetap menyampaikan informasinya secara kompak. Informasi yang disampaikan foto-foto secara berurutan itu akan semakin memperjelas pengertian dan pemahaman orang yang melihatnya. Karena informasi itu hadir secara kompak, berurutan dan teratur.

Selalu aktual – Foto memiliki nilai informasi yang selalu aktual. Artinya, nilai informasi dan daya pesona yang dimiliki selembar foto akan senantiasa aktual atau ‘baru’ sampai kapan pun. Berbeda dengan nilai informasi dan daya pesona suatu berita (berita tulis) yang memiliki batas waktu tertentu, nilai informasi dan daya pesona foto memiliki batas waktu yang panjang.

Nilai-nilai Foto Jurnalistik
Di dalam kerja jurnalistik, nilai suatu foto jurnalistik ditentukan oleh beberapa unsur yang ada: 
1. Aktualitas.
2. Berhubungan dengan berita.
3. Kejadian luar biasa.
4. Promosi.
5. Kepentingan.
6. Human Interest.
7. Universal.

    Aktualitas
    Karya foto tersebut harus memiliki nilai-nilai aktualitas. Khusus foto berita, nilai aktualitasnya terletak pada nilai informasi terbaru atau terkini yang dimilikinya. Nilai aktualitas adalah sesuatu yang dicari pembaca suratkabar atau media pers lainnya. Publik atau pembaca pasti akan lebih memilih informasi terbaru atau terkini, daripada informasi yang sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya.

    Berhubungan dengan berita atau artikel
    Karya foto tersebut harus memiliki hubungan atau keterkaitan informasi dengan berita atau artikel (tulisan). Untuk berita langsung atau straith news, fotonya juga harus peristiwa terkini dari berita yang juga terkini tersebut. Untuk artikel-artikel jurnalistik lainnya, seperti feature atau berita kisah, maupun laporan, foto yang dimaksudkan untuk melengkapi tulisan tersebut haruslah menyesuaikan dengan isi tulisannya. Fotonya bisa saja peristiwa terbaru, maupun yang sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya (lama).

    Kejadian luar biasa
    Karya foto itu memiliki nilai yang luar biasa. Objek maupun informasi yang disampaikan foto itu memiliki nilai keluarbiasaan.

   Promosi
   Karya foto itu memiliki nilai promosi, yaitu kemampuan menarik perhatian orang yang melihatnya, untuk tertarik pada objek yang ditampilkan di dalam foto tersebut.

   Kepentingan
   Karya foto itu memiliki nilai kepentingan, yaitu kepentingan untuk menyampaikan suatu informasi dengan tujuan agar informasi tentang sesuatu itu diketahui oleh publik atau masyarakat luas.

   Human Interest
    Karya foto itu memiliki nilai-nilai yang berkaitan dengan rasa kemanusiaan setiap orang yang melihatnya. Persoalan human interest adalah persoalan yang mudah atau cepat mempengaruhi atau menarik rasa simpati.

   Universal
   Karya foto itu memiliki nilai universal, yaitu mampu dan mudah dipahami oleh siapa pun yang melihatnya. Artinya, untuk memahami atau mengerti tentang informasi yang disampaikan foto tersebut, seseorang tidak akan terkendala dengan kemampuan berbahasa apa pun.
       
   Dalam proses perolehannya, foto jurnalistik terbagi dalam dua kategori.
1. Foto-foto yang diperoleh secara insidential (tidak direncanakan), seperti foto  berita (sport news). Misalnya: foto-foto bencana seperti gempa bumi, banjir,  kebakaran, kemudian kecelakaan lalulintas, kerusuhan, dll.
2. Foto-foto yang direncanakan, seperti foto yang mendukung suatu
    artikel/tulisan, foto feature, foto human interest, foto essay.

    Jenis Foto Jurnalistik
    Di dalam kerja jurnalistik selama ini, dikenal ada tujuh jenis atau ragam foto jurnalistik. Ketujuh jenis foto jurnalistik itu meliputi: foto berita (spot news), foto human interest, foto essay,  foto cerita, foto humor, foto feature, dan foto olahraga.

Foto berita (spot news) – Foto berita adalah suatu foto yang menyajikan atau menyampaikan informasi mengenai satu peristiwa yang berdiri sendiri. Misalnya, foto tentang tabrakan di jalan rata atau kecelakaan lalulintas, dengan cepat dipahami bahwa telah terjadi suatu peristiwa tabrakan atau kecelakaan. Informasinya akan menjadi lebih jelas dengan tambahan keterangan pada keterangan gambarnya.

Foto human interest – Foto human interest adalah foto yang menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan daya tarik manusiawi, atau foto yang berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Dengan kata lain, foto human interest adalah foto yang mampu menggugah emosi kemanusiaan kita yang melihatnya.

Foto essay – Foto essay adalah foto yang menghadirkan sejumlah aspek dari suatu masalah yang bisa menjadi bahan pembahasan, bahan analisa atau bahan kajian. Foto essay bisa hadir secara tunggal, atau secara berangkai. Misalnya, foto tentang kehidupan anak jalanan, foto siswa sekolah menengah di dalam komplek pelacuran, dll.

Foto cerita – Foto cerita memiliki kesamaan dengan foto essay. Hanya bedanya, foto cerita yang hadir secara berangkai, tidak menghadirkan suatu informasi yang harus dibahas, dianalisa, dikaji atau diperdebatkan oleh pembaca yang melihatnya. Foto cerita hanya menyampaikan informasi secara apa adanya. Dan, foto cerita harus selalu faktual.

Foto humor – Foto humor adalah foto yang memiliki unsur kelucuan. Tapi unsur kelucuan yang hadir adalah kelucuan yang berkualitas, bukan kelucuan yang melecehkan atau merendahkan martabat dan kehormatan orang lain.

Foto feature – Foto feature adalah foto tunggal yang tidak sekadar memiliki nilai informasi, tapi juga menyampaikan suatu gagasan berharga pada orang yang melihatnya.  Sekalipun hadir tunggal, foto feature bisa menghadirkan beragam penafsiran. Misalnya, foto tentang seseorang yang baru bebas dari menjalani hukuman di LP. Ekspresi orang yang baru bebas dari LP itu bisa dijadikan foto feature yang menarik.

Foto olahraga – Foto olahraga adalah foto yang khusus menyajikan informasi tentang peristiwa olahraga. Foto olahraga harus memberikan tekanan pada gerak atau aksi (aktion), tapi juga ekspresi.

Secara umum selama ini memang dikenal tujug jenis foto jurnalistik. Tapi World Press Photo (WPP), suatu organisasi nirlaba yang memberikan perhatian terhadap fotografi jurnalistik dunia yantg berpusat di Belanda membagi foto jurnalistik dalam beberapa kategori. Meliputi: foto berita hangat (spot news), foto berita umum (general news), foto portret (porttraits), foto peristiwa alam (nature), foto isu kontemporer (comtemporary issues), foto orang dalam isu (people in the news), foto berita Iptek (sience and technology), foto seni dan budaya (arts and culture), foto berita kehidupan keseharian (daily life) dan foto berita olah raga (sports action).
                                                                        (sutirman eka ardhana)

        ket. gambar: foto-foto di atas merupakan beberapa karya foto jurnalistik yang mendapat penghargaan dalam penilaian World Press Photo (WPP) tahun 2009.

Selasa, 28 Februari 2012

KASSIAN CEPHAS Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

    

    Suplemen: Pertemuan ke-2
   
     KASSIAN CEPHAS
    Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

    SEJARAH fotografi DI Indonesia diawali pada tahun 1841. Di tahun itu, Juriaan Munich, seorang pegawai kesehatan Belanda ditugaskanoleh Kementerian Kolonial Kerajaan Belanda untuk datang ke Batavia (sekarang Jakartqa). Munich datang dengan membawa kamera dauguerreotype.
Tugas Munich di Batavia adalah untuk mengabadikan tanaman-tanaman serta kondisi alam yang ada di Indonesia dengan kameranya. Kamera dauguerreotype yang merupakan teknologi fotografi terbaru di masa itu telah digunakan oleh Pemerintah colonial Belanda untuk mendata semua hal yang berkaitan dengan Hindia Belanda.
Misalnya tentang kondisi atau keadaan suatu wilayah, perilqaku adapt istiadat dan budaya masyarakatnya, dan banyak hal lainnyqa lagi. Foto-foto itu bisa menjadi sumber informasi sekaligus bahan pijakan dalam menentukan strategi dan  kebijakan kolonialnya di Hindia Belanda (Indonesia).
Sepanjang 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia, yaitu sejak 1841 sampai 1941, penggunaan kamera atau alat fotogradi tersebut nyaris sepenuhnya berada di tangan orang Belanda ( Eropa), kemudian sebagian kecil orang keturunan Cina (Tionghoa) dan Jepang. Dari hasil penelitian Pemerintah Kolonial Belanda diketahui sejak tahun 1850 hingga 1940 di Hindia Belanda terdapat 540 studio yang tersebar pada 75 kota besar dan kecil. Kemudian sepanjang tahun itu pula terdata sebanyak 315 fotografer berdarah Eropa, 186 orang Tionghoa, 45 orang Jepang, serta emapt orang pribumi Indonesia. Dan, salah seorang fotografer pribum itu adalah Kassian Cepas.


Orang Yogya
Kassian Cephas adalah fotografer pribumi yang pertama di Indonesia.Sayang sekali namanya berpuluh-puluh tahun tenggelam dan nyaris tak dikenal di negerinya sendiri, sebagai seseorang yang memiliki peran dan jasa besar dalam sejarah keberadaan fotografi di negeri ini.
Kalau saja pada bulan Juni 1999 tidak diselenggarakan pameran foto-foto karya Kassian Cephas di Keraton Yogyakarta, nama Kassian Cephas mungkin tidak diketahui banyak orang di Indonesia. Bahkan, para penggemar dunia fotografi di negeri ini p7un pasti merasa asing  bila mendengar namamnya. Padahal selain sebagai orang pribumi yang pertama berprofesi sebagai fotografer professional, seorang sejarawan Belanda, Gerrit Knaaf, di dalam bukunya “Cephas, Yogyakarta : photography in the service of the Sultan” menyebut Kassian Cephass sebagai salah seorang  pionir modernitas di Indonesia.
Siapa sesungguhnya Kassian Cephas? Kassian Cephas adalah seorang pribumi asli Jawa yang lahir di Yogyakarta pada 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Tapi kemudian ia diangkat sebagai anak angkat oleh pasangan keluarga Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft. Ia pun kemudian sempat disekolahkan ke Belanda.
Dalam usia relatif muda, di tahun 1860-an Cephas mengenal dunia fotografi. Bahkan di tahun-tahun itu juga ia mulai belajar menjadi fotografer professional. Kariernya sebagai fotografer professional diawali dengan magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer Belanda yang pada tahun 1863-1875 bertugas di Jawa Tengah.
Kariernya sebagai fotografer professional semakin melejit ketika di tahun 1888 ia membantu Isaac Groneman yang membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa. Buku-buku karya  Isaac Groneman yang seorang dokter itu di antaranya “In den Kedatonte Jogjakarta” dan “De Garebeg”s te Ngajogjakarta”. Di dalam buku-buku itu terdapat sejumlah foto karya Kassian Cephas.

Fotografer Keraton
Pada masa Kesultanan Yogyakarta diperintah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Kassian Cephas diangkat sebagai fotografer keraton. Dalam kedudukannya sebagai fotografer keratin, ia dapat memotret berbagai peristiwa budaya atau momen-momen khusus yang diadakan di dalam keratin.
Ketika pada tahun 1889-1890 pemerintah kolonial Belanda melalui Archaeologische Vereeniging atau Archeological Union (AVAU) di Yogyakarta melakukan proyek penelitian di kompleks Candi Prambanan (Candi Loro Jongrang), Kassian Cephas dipercaya untuk membantu pemotretan.
Saat AVAU melakukan penggalian dasar Candi Borobudur, Kassian Cephas juga dilibatkan. Selama proyek penggalian dasar candi itu berlangsung, ia menghasilkan sedikitnya 300 lembar foto. Dari hasil jerih payahnya itu ia memproleh honor sebesar 3000 gulden. Padahal dana keseluruhan untuk proyek penggalian dasar Candi Borobudur itu hanya sebesar 9000 gulden.
Karya-karya foto Kassian Cephas di masa itu sering dijadikan souvenir-souvenir berharga oleh kalangan elite Belanda. Terutama foto-fotonya tentang Keraton Yogyakarta, Sultan, keluarga dan kerabat Sultan, para abdi ndalem, serta beragam ritual budaya dan kesenian. Dan, karya-karyanya itu terhimpun dalam souvenir album berjudul “Souvenir von Jogjakarta”.
Kassian Cephas, sang pionir modernitas fotografi di Indonesia ini meninggal dunia pada tahun 1912, dengan meninggalkan warisan karya-karya fotografi yang tak ternilai harganya. Dan, hamper semua karyanya itu tersimpan di Negeri Belanda.
                                                                                 Sutirman Eka Ardhana

ket. gambar: Kassian Cephas (paling atas). Lainnya, karya-karya Kassian Cephas, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dll. (sumber foto: fotografernet.com)

Rabu, 22 Februari 2012

Suplemen: KAMERA "MAMMOTH" PANJANGNYA LIMA METER LEBIH


Suplemen (tambahan): untuk Pertemuan ke-1
Kamera “Mammoth”
Panjangnya Lima Meter Lebih

PARA pecinta fotografi di era digital ini telah mendapatkan banyak kemudahan. Dewasa ini kamera bisa dengan mudah dibawa ke mana-mana. Ukurannya yang kecil dan praktis membuat kamera tak perlu lagi dimasukkan ke dalam tas besar, tapi bisa dimasukkan ke dalam saku celana saja. Tetapi, pernahkah Anda bayangkan betapa repotnya para fotografer atau pecinta fotografi di tahun-tahun awal perkembangan teknologi fotografi tersebut?
Sejarah perjalanan fotografi tidak bisa lepas dari peran Al-Hazen, seorang ilmuwan Arab. Pada abad ke-10, Al-Hazen sudah menjelaskan prinsip-prinsip tehnik fotografi yang sederhana, melihat gerhana matahari melalui media ruangan gelap yang di dalamnya terdapat lubang kecil. Prinsip-prinsip Al-Hazen itu kemudian dikembangkan secara lebih detail lagi oleh Remerus Gemma-Frisius (1544), seorang ahli fisika berkebangsaan Belanda. Apa yang dikemukakan Al-Hazen dan kemudian dikembangkan Reinerus Gemma-Frisius itu kemudian terwujud di dalam kamera yang disebut kamera abscura.
Sejak prinsip-prinsip fotografi dinyatakan Al-Hazen di abad ke-10, kemudian diikuti perkembangannya yang pesat pada abad ke-19, hingga hari ini fotografi tidak pernah berhenti memainkan perannya bagi kepentingan kehidupan manusia. Eksistensi fotografi yang semakin nyata bagi kehidupan manusia ini tidak bisa lepas dari jasa dua orang Perancis, Nicephore Niepce dan Jacques Mande Daguerre yang sejak 1811 telah berupaya menciptakan serta mengembangkan teknologi fotografi tersebut.
Dari tahun ke tahun fotografi terus berkembang. Tahun 1840 Fiedrich Voigtlander berhasil membuat kamera metal yang pertama. Kemudian di tahun 1884, seorang ilmuwan Amerika bernama George Eastman menemukan film fotografi yang menggunakan seluloid yakni bahan plastik pertama buatan manusia. Seluloid ini pertama kali ditemukan Alexander Parkes, ahli kimia Inggris, di tahun 1856.
Keberhasilan Eastman tidak berhenti di situ. Tahun 1891, bersama mitra kerjanya Hannibal Goodwin, ia telah memperkaya dunia fotografi lagi dengan memperkenalkan satu rol film yang dimasukkan ke dalam kamera. Sebelum itu pada bulan Juni 1888, Eastman telah memperkenalkan pula kamera berukuran kecil yang disebutnya kotak “Kodak”.

Kamera Besar
Tapi teknologi fotografi di masa itu masih belum menemukan tehnik pembesaran foto. Kamera atau “Kodak” temuan Eastman hanya bisa menghasilkan foto atau gambar dalam ukuran kecil saja. Sejumlah upaya pembesaran foto telah dilakukan, tapi hasilnya mengecewakan. Gambarnya selalu kabur.
Para ilmuwan fotografi masa itu kemudian menemukan cara, untuk membuat foto besar maka harus digunakan kamera yang besar pula.Hal itulah yang kemudian dilakukan. Sekitar tahun 1900 sejumlah ilmuwan fotografi di Amerika Serikat membuat kamera besar yang ukuran panjangnya lebih dari lima meter. Kamera raksasa ini diberi nama “The Mammoth”.
Kamera “The Mammoth” ini dibuat berdasarkan pesanan dari perusahaan kereta api “Chicago and Alton Railroad Company”. Perusahaan kereta api itu ingin membuat foto rangkaian kereta api mewah baru yang akan diluncurkan dalam ukuran besar.
Penggunaan kamera “The Mammoth” untuk memotret kereta api mewah di stasiun kereta api itu telah mengerahkan tenaga lebih dari duapuluhlima orang. Untuk membawa kamera raksasa seberat 700 kilogram itu ke lokasi pengambilan gambar diperlukan setidaknya tenaga sepuluh orang.
Kamera itu ditempatkan di atas panggung yang terbuat dari kayu. Ketika kamera sudah di atas panggung, diperlukan beberapa orang untuk siaga menjaga agar kamera tidak terguling atau terjatuh dari atas panggung. Seorang bertugas sebagai pembidik sekaligus pemejet tombol penutup rana, seorang lagi bertugas di lensa (cincin lensa), dan ada juga yang bertugas untuk memberi aba-aba. 
Sungguh, betapa repotnya kala itu hanya untuk membuat gambat sebuah kereta api.
                                                                              Sutirman Eka Ardhana

Pertemuan ke-2: Memahami Profesi Fotografer

Pertemuan ke-2


Memahami Profesi Fotografer


            FOTOGRAFER adalah sebutan bagi seseorang yang bekerja sebagai ‘juru foto’, baik di media massa (pers), institusi-institusi tertentu, studio foto, maupun yang bekerja secara perorangan.
Sejak tahun 1800-an, ketika fotografi terus memainkan perannya yang sangat berarti bagi kehidupan manusia, sejak itu pula profesi fotografer mulai menapakkan kakinya dan menanamkan eksistensinya dalam kehidupan. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dari waktu ke waktu, profesi fotografer semakin diakui keberadaannya. Bahkan kini, profesi fotografer sudah mendapat tempat yang sejajar dengan profesi-profesi lainnya, seperti guru, advokat, notaris, dokter dan lainnya.
Sebagaimana halnya fotografi yang kini telah merambah ke berbagai bidang kehidupan manusia, profesi fotografer pun kini telah memainkan perannya yang besar dan sangat berarti dalam berbagai bidang kehidupan manusia tersebut.
Sejak fotografi diyakini telah menjadi media atau alat untuk memvisualisasikan ide, maka fotografi pun semakin diyakini pula telah menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam aktivitas penyampaian gagasan. Bila gagasannya untuk mengemukakan nilai-nilai estetika atau hal-hal yang bernuansa keindahan, maka ia akan menjadi fotografi seni. Apabila gagasannya berkaitan dengan kepentingan bisnis atau komersial, maka ia disebut fotografi komersial.
Kemudian bila gagasannya berkaitan dengan mendokmentasikan sesuatu atau menyampaikan informasi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa aktual, ia pun menjafi  fotografi jurnalistik. Sedangkan bila gagasannya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian dan semacamnya, maka ia menjadi fotografi ilmiah.
Jadi, sebagai media penyampaian gagasan atau ide, maka fotografi bisa dibagi dalam empat bidang garap, yaitu: 1) fotografi seni (art); 2) fotografi komersial; 3) fotografi jurnalistik; 4) fotografi ilmiah.
Dengan demikian, sesuai bidang garapnya tersebut, maka fotografer pun dikelompokkan  pada empat kelompok, masing-masing: 1) fotografer seni; 2) fotografer komersial; 3) fotografer jurnalistik (wartawan foto/jurnalis foto); 4) fotografer iilmiah.
Melihat pada empoat kelompok tersebut, maka sangatlah jelas bahwa bidang garap atau ‘lapangan kerja’ bagi profesi fotografer kini tersedia amat luas.
Namun yang paling menonjol, karena memiliki keterkaitan dan hubungan sangat erat dengan kebutuhan serta dinamika kehidupan manusia sekarang ini adalah fotografi komersial dan fotografi jurnalistik. Sedang khusus untuk fotografi seni (art), sesuai dengan kepentingan dan peruntukannya maka karya-karyua dari fotografi seni itu sekarang bisa masuk ke fotografi komersial dan fotografi jurnalistik.

Fotografi Komersial


Sekarang ini lahan garap fotografi komersial atau bidang kerja yang bisa dimasuki fotografer komersial sangatlah luas dan beragam. Haruslah diakui, bahwa dewasa ini tidak ada satu pun bidang usaha atau bisnis yang tidak memerlukan ‘jasa’ atau ‘uluran tangan’ fotografi. Dengan kata lin, tidak ada usaha atau bisnis yang sukses tanpa dukungan fotografi, atau tanpa keterlibatan profesi fotografer.
Lahan garap fotografi komersial yang luas dan merupakan ‘ladang kerja’ potensial bagi profesi fotografer itu di antaranya: fotografi periklanan, fotografi fashion, fotografi pemandangan dan wisata, fotografi arsitektur, fotografi industrial, fotografi pernikahan, wisuda, dan nbanyak lainnya lagi.

Fotografi Periklanan

Fotografi perikalanan adalah fotografi yang mengkhusukan spesialisasinya pada dunia periklanan. Dunia periklanan memberikan lahan yang sangat luas dan lebar bagi para fotografer untuk mengembangkan kemampuan dan kreasinya. Hal ini dikarenakan, tidak ada satu usaha pun yang tidak menggunakan media periklanan dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Fotografi memiliki peran sangat besar dan penting bagi dunia atau media periklanan dalam menyuguhkan sebuah karya iklan yang mampu menarik perhatian masyarakat.
Hampir semua produk iklan memerlukan jasa fotografi. Misalnya, produk iklan busana, makanan, minuman, kerajinan, peralatan elektronik, mobil, perhiasan, rumah, apartemen, dan lain sebagainya, memerlukan dukungan kerja fotografi. Karya-karya fotografi itu diyakini memiliki daya tarik yang sangat tinggi bagi masyarakat, sehingga tertarik terhadap produk yang ditawarkan.
Karena prinsip utama iklan adalah menarik perhatian masyarakat sehingga kemudian tertarik untuk memilikinya, maka seorang fotografer yang ingin menggeluti dunia fotografi periklanan haruslah memiliki wawasan atau pengetahuan mengenai ilmu ekonomi terutama yang berhubungan dengan teori-teori pemasaran. Selain menguasai prinsip-prinsip pemasaran, fotografer periklanan juga harus memiliki kepekaan yang cukup tinggi terhadap nilai-nilai estetika.
Pengetahuan tentang nilai-nilai estetika tersebut sangat penting, karena foto-foto iklan tidak hanya punya nilai inmformasi bisnis tapi juga harus sarat dengan nuansa keindahan. Karena nuansa keindahan itu akan lebih menggoda emosi seseorang yang melihat sajian foto dalam produk iklan tersebut.

Fotografi Fashion

Salah satu jenis fotografi komersial yang memiliki daya tarik serta pesona cukup tinggi adalah fotografi fashion atau busana. Meskipun layak dikelompokkan di dalam kategori fotografi periklanan, namun karena ‘penggarapan’ foto-foto fashion memiliki kekhususan yang tersendiri dibanding produk iklan lainnya, maka fotografi fashion menjadi bidang garap yang tersendiri.
Foto-foto fashion  dewasa ini tidak lagi befrbentuk foto-foto produk, tapi telah berkembang menjadi suatu aliran dalam dunia fotografi yang mengutamakan atau mengedepankan segi artistik atau nilai-nilai estetika yang tinggi. Dalam fotografi fashion, obyek pemotretannya tidak hanya mode busana, tapi juga model yang mengenakan busana atau fashion tersebut. Karena itulah di dalam fotografi fashion, nilai-nilai artistik yang dikedepankan haruslah mewakili rancangan fashion atau busana itu sendiri yang menawarkan ide maupun konsep-konsep cemerlang, disamping ttata make-up dan rambut model (pergawati yang memeragakannya), tata gaya, tata ruang serta tehnik fotografi, dan llain-lainnya yang menghadirkan nilai-nilai keindahan.
Di dalam foto fashion, detail busana sangatlah penting untuk ditampilkan. Detail busana yang ditampilkan dimulai dari bahu hingga ke ujung kaki model yang mengenakannya. Wajah model serta latar-belakang dari posisi model itu berada juga memiliki peran arau fungsi yang sangat esensial dalam menonjolkan busana yang dikenakan hinga menghadirkan pesona tinggi.
Dalam bekerja, fotografer fashion tidak bisa bekerja secara sendiri tanpa dukungan pihak lain. Untuk menghasilkan foto fashion yang baik, sang fotografer harus selalu berhubungan dengan perancang mode (desaigner), fashion stylist yang menata keserasian mode busana yang dikenakan modelnya. Selain itu juga akan bekerjasama dengan make-up artis yang  membuat seorang model menjadi terlihat cantik dan penuh pesona.
Fotografer apa pun  pasti akan bekerja berdasarkan konsep dan ide. Jadi, fotografer tidak semata-mata bertumpu pada kemampuan atau keterampilannya dalam tehnik fotografi semata. Karena itulah fotografer fashion dalam melaksanakan kerja profesinya juga bekerja berdasarkan konsep, ide serta fashion itu sendiri.
Konsep dan ide di dunia fotografi fashion sekarang ini sangat cemerlang. Konsep-konsep dan ide-ide cemerlang itu telah membuat batas antara  sebuah foto porno, art nude san foto-foto yang menghadirkan nilai-nilai kesopanan serta etika sudah tidak terlihat lagi.
Konsep dan ide fotografi fasion kebanyakan memang terkesan mengarah pada kecenderungan mengeksploitasi seks. Hal seperti ini terjadi, d barangkali dikarenakan seks memang dipandang atau diyakini sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan yang tidak pernah ada habisnya.

Fotografi Pemandangan dan Wisata

Indonesia merupakan negeri yang kaya dengan obyek wisata serta kaya akan pemandangan alam yang indah. Kekayaan obyek wisata dan panorama alam yang indah tersebut membuat Indonesia selalu didatangi para turis atau wisatawan dari  berbagai penjuru dunia.
Kekayaan obyek wisata dan keindahan alam yang ada itu merupakan ‘lahan potensial’ bagi para fotografer yang memang ingin mengkhususkan dirinya pada fotografi pemandangan dan wisata ini. ‘Lahan subur’ ini tentu memberikan nilai komersial yang menarik bagi para fotografer. Dengan kata lain, kekeyaan obyek wisata dan keindahan alam yang dimiliki negeri kita itu merupakan ‘tambang emas’ yang tidak akan pernah habis digali.
Keindahan panorama alam yang merupakan ‘tambang emas’ itu berupa keindahan pemandangan daratan (pandscape), keindahan pemandangan pantai dan laut (seascape), keindahan pemandangan gunung atau pegunungan dan dataran tinggi (mountainscape), serta keindahan pemandangan alam bawah laut (unerwater world). Keindahan alam ini diperkaya lagi dengan banyaknya obyek wisata yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air.
Foto-foto yang merekam panorama keindahan alam itu bisa dijadikan ‘komoditi’ yang menguntungkan. Misalnya, bisa dijadikan kartu pos maupun souvenir-souvenir yang menarik bagi wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.
Sekalipun fotografi pemandangan dan wisata masuk dalam kategori fotografi komersial, namun karena foto-foto pemandangan dan wisata juga sarat dengan tampilan nilai-nilai estetika yang tinggi, maka dapat juga masuk ke dalam kelompok fotografi seni. Disamping itu, karena foto-foto pemandangan dan wisata merupakan foto-foto yang mampu ‘bercerita’ kepada khalayak penikmatnya, maka dapat pula menghiasi media-media massa cetak.
Seorang fotografer pemandangan dan wisata adalah seseorang yang dituntut untuk memiliki kepekaan maupun rasa seni yang tinggi. Selain itu, hal yang harus dipahami oleh setiap fotografer pemandangan dan wisata adalah pemandangan-pemandangan indah yang akan menjadi obyek jepretan komeranya itu memiliki sejumlah unsur penting, seperti ttanah (hamparan padang, gurun, perbukitan dan gunung), air (luat, pantai, danau atau telaga, danm sungai), tumbuhan (pepohonan, hamparan hutan, rumput) dan langit (awan serta cuaca).

Fotografi Arsitektur

‘Ladang kerja’ yang menarik lainnya bagi fotografer komersial adalah fotogradi arsitektur. Sesuai dengan namanya maka fotografi arsitektur akan mengambil obyek pemotretannya karya-karya arsitektur.
Obyek fotografi arsitektur ini cukup bervariasi atau beragam. Diantaranya, bangunan-bangunan perkantoran, mall, kondominium, apartemen, rumah, bangunan masjid, candi, gereja, bangunan keraton atau istana, jembatan layang, rumah-rumah ttradisional, dan banyak lainnya lagi.
Nilai jual bagi foto-foto arsitektur tersebut cukup tinggi, dikarenakan banyak diperlukan oleh kalangan arsitek. Fotografi arsitektur tidak hanya menghasilkan foto-foto tentang beragam bentuk bangunan saja, akan tetapi yang paling utama adalah mampu menghadirkan informasi mengenai dunia arsitektur yang diperlukan oleh kalangan arsitek tersebut.
Foto-foto arsitektur tidak hanya penting dalam upaya perkembangan dunia arsitektur, tapi juga dimanfaatkan oleh para arsitek, organisasi-organisasi profesi arsitek maupun lembaga-lembaga terkait untuk kegiatan-kegiatan seperti kompetisi arsitektur dan lain-lainnya lagi.
Foto-foto arsitektur juga memiliki peran besar bagi studi arsitektur. Selain itu foto-foto arsitektur dapat digunakan untuk portfolio dan promosi oleh kalangan arsitek, perancang interior, kontraktor, sub-kontraktor, sampai pemasok eleman bangunan maupun elemen interior. Nilai jual lainnya, foto-foto arsitektur dapat pulka dijadikan media promoso. Misalnya, pengelola hotel. Restoran, pusat-pusat perbelanjaan, apartemen dan lain-lainnya lago, bisa menggunakan foto-foto dengan obyekj bangunannya dalam promoso usahanya ke masyarakat.  ***
       
                                                           Sutirman Eka Ardhana


Keterangan foto:
 1. (atas) - Kamera obscura yang digunakan fotografer di awal-awal penemuan kamera (alat memotret).
2. (bawah) - Gaya seorang fotografer dengan kamera yang dilengkapi tele.

Selasa, 21 Februari 2012

Pertemuan ke-1: MEMAHAMI FOTOGRAFI


 

Pertemuan ke-1


MEMAHAMI FOTOGRAFI

 


            FOTOGRAFI  bermula dari kata photos dan graphos,  yang merupakan bahasa Yunani. Photos berarti cahaya, sedangkan graphos artinya menulis. Jadi, fotografi secara  harafiah berarti ‘menulis dengan cahaya”. Arti harafiah ini bisa dikembangkan lagi menjadi “bercerita derngan cahaya” atau “melukis dengan cahaya”. Namun di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa fotografi adalah suatu seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan.

            Fotografi memang  tidak bisa dipisahkan dengan kerja seni. Sebab, karya fotografi apa pun bentuk dan obyeknya merupakan media ekspresi diri. Sebagai bagian dari bidang seni, fotografi memiliki kesamaan dengan seni lukis, yakni sama-sama  merupakan media  penyampaian ekspresi  Perbedaannya hanya pada media atau sarana yang dipakai. Karya seni lukis memakai media dan sarana seperti kanvas, kuas dan cat, sementara  fotografi memakai cahaya, film dan kamera. Dengan kata lain, bila seni lukis  adalah melukis dengan cat, sedangkan fotografi ‘melukis dengan cahaya’.
            Bila ingin memahami fotografi, haruslah diawali lebih dulu dengan langkah untuk memahami sejarah panjang perjalanan fotografi. Sebagai bagian dari ilmu  pengetahuan, ilmu fotografi yang di dalamnya terdapat seni mendokumentasikan perisatiwa demi peristiwa, sesungguhnya sudah berusia  sangat tua. Usia ilmu fotografi sama tuanya dengan usia peradaban manusia.
            Manusia-manusia prasejarah dalam peradabannya ketika itu sudah menemukan iilmu  fotograf tersebut  Hal itu terbukti dari peninggalan-peningggalan masa prasejarah di gua-gua kuno yang berwujud goresan-goresan atau lukisan-lukisan di dinding-dionding batu gua. Misalnya gua Lascaux, gua kuno yang terdapat di Perancis, di dalamnya terdapat ‘karya dokumentasi sejarah tak ternilai harganya’ berupa  lukisan-lukisan  tentang bagaimana manusia prasejarah berburu binatang, berperang, tentang senjata-senjata yang dimiliki sampai  busana atau pakaian yang dikenakan.
            Sejarah perjalanan  fotografi  tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ilmuiwan Arab yang bernama Al-Hazen. Pada abad ke-10, Al-Hazen sudah mengutarakan penemuannya mengenai  tehnik fotografi yang  sederhana, yakni melihat gerhana matahari melalui media ruangan gelap yang di dalamnya terdapat  lubang kecil (pinhole). Pernyataan atau penjelasan Al-Hazen itu kemudian dikembangkan secara lebih nyata lagi oleh seorang ahli fisika dan mate,matika  berkebangsaan Belanda, Reinerus Gemma-Frisius (1544), seorang ahli fisika dan matematika berkebangsaan Belanda. Apa yang dikemukakan Al-Hazen dan dikembangkan oleh Reinerus Gemma-Frisius itu kemudian terwujud di dalam kamera yang disebut obscura.
Giambattista della Porta, seorang ahli fisika Italia, pada tahun 1569 telah memasang kamera abscura berukuran besar yang pertama. Komponen utama kamera obscura ini adalah sebuah kamar gelap. Di bagian atas kamar gelap itu terdapat lubang (dengan lensa bulat cembung) dan di atasnya terdapat pula sebuah cermin yang berada di sudut 45 derajat terhadap horison. Cahaya masuk ke kamar gelap melalui lubang tersebut. Sinar dari cahaya itu memantul secara vertikal ke bawah, dan jatuh ke permukaan meja besar berwarna putih.
Sejak prinsip-prinsip ’fotografi’ itu dinyatakan Al-Hazen pada abad ke-10, kemudian diikuti perkembangannya yang pesat pada abad ke-19, hingga hari ini fotografi tidak pernah berhenti memainkan dan meningkatkian perannya bagi kepentingan kehidupan manusia. Eksistensi fotografi yang semakin nyata bagi kehidupan manusia ini tidak bisa lepas dari jasa dua orang Perancis, Nicephore Niepce dan Jacques Mande Daguerre yang sejak 1811 telah berupaya menciptakan serta mengembangkan teknologi fotografi tersebut.
Nicephore Niepce, seorang mantan perwira tentara Napoleon Bonaparte, seusai tugas perang pada tahun 1811 mulai melakukan serangkaian peneloitian dan percobaan. Penelitian yang dilakukannya antaralain mencoba sejumloah bahan kimia yang memiliki sifat sangat sensitif terhadap cahaya. Niepce juga melakukan penelitian dan percobaan untuk menangkap serta menyimpan cahaya di dalam kamera obscura kecil. Dan, Niepce pulalah yang pertama kali memperkenalkan istilah ”fotografi” yang dikenal hingga hari ini.
Dalam perjalanan kreatifnya Niepce kemudian bertemu dengan Jacques Mande Daguerre. Daguerre, seorang dekorator dan pekerja seni itu, ternyata memiliki ketertarikan yang sama dengaqn Niepce. Ia juga telah melakukan serangkaian percobaan yang berkaitan dengan pemanfaatan cahaya. Keduanya pun sepakat bekerjasama untuk menghasilkan suatu karya teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manus8ia. Setelah bekerjasama dengan Niepce, sejak tahun 1831 Daguerre tidak henti-hentinya bekerja keras untuk mendapatkan proses pembuatan gambar yang kekal pada pelat perak. Usaha Daguerre tidak sia-sia, karena di tahun 1837 ia berhasil menemukan pengaruh air raksa terhadap gambar-gambar kekal di atas piringan-piringan diodide perak. Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 1839, cata atau proses tersebut diberi nama ”Daguerreotype”.
Bersamaan dengan penemuan ”Daguerreotype” itu, Niepce pun berhasil menyempurnakan kamera obscura yang dimilikinya. Kamera yang sudah disempurnakan itu berbentuk sebuah kotak persegi panjang, berukuran enam inci dari dinding belakangnya. Di dalamnya terdapat piringan yang sensitif terhadap cahaya, hasil temuan Daguerre. Sayangnya, Niepce tidak bisa berlama-lama menikmati hasil jerih-payahnya bersama Daguerre itu, karena dua tahun kemudian ia meninggal dunia.
Perkembangan fotografi berikutnya ditandai dengan upaya Willian HF Talbot yang di tahun 1839 itu juga mencoba proses pembuatan gambar yang memakai bahan lebih peka terhadap kertas. Upaya ini disusul kemudian oleh seorang profesor di Universitas New York, Amerika, John W Draper, yang pada tahun 1840 telah membuat gambar wajah manusia dengan proses pencahayaan yang hanya memakan waktu selama lima menit.
Sejarah perjalanan dan perkembangan fotografi berikutnya antaralain: dibuatnya kamera metal yang pertama oleh Fiedrich Voigtlander pada tahun 1840, kemudian di tahun 1884 seorang ilmuwan Amerika, George Eastman, menemukan film fotografi yang menggunakan seluloid, yakni bahan ’plastik’ pertama buatan manusia. Seluloid ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Parkes, seorang ahli kimia Inggris, di tahun 1856.  Keberhasilan Eastman tidak berhenti disitu. Tahun 1891, bersama mitra kerjanya Hannibal Goodwin, ia telah memperkaya dunia fotografi lagi dengan memperkenalkan satu rol film yang dimasukkan ke dalam kamera dan digunakan pada siang hari. Sebelum itu, pada bulan Junmi 1888 Eastman telah memperkenalkan pula kamera berukuran kecil, yang disebutnya kotak ”Kodak”. Kamera Kodak temuan Eastman di masa itu, merupakan peralatan fotografi yang luar biasa. Kamera ini memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada peralatan sebelumnya.
George Eastman memang telah membawa perkembangan yang besar  dalam dunia fotografi. Temuannya tentang rol film, kemudian dikembangkan oleh Eastman’s American Film dengan memproduksi rol kertas tipis yang dilapisi emulsi gelatin. Kemajuan teknologi fotografi ditandai lagi dengan dibuatnya film negatif yang terjadi setelah dipisahkannya emulsi dari kertas yang tidak tembus cahaya. Penemuan film negatif ini membawa perkembangan teknologi kamera semakin pesat. Para ahli pun kemudian menciptakan kamera-kamera dalam ukuran yang lebih kecil, praktis dan ringan. Kamera pun tidak hanya bermerek ”Kodak” temuan George Eastman itu, tapi bermacam-macam merek kamera kini telah memenuhi dunia fotografi.
Kemajuan teknologi telah membawa kemajuan yang sangat pesat di dunia fotografi. Dari tahun ke tahun teknologi fotografi mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat dan mencengangkan. Kini fotografi sudah memasuki era teknologi digital. Hal ini ditandai dengan terdapatnya beragam bentuk dan merek kamera digital, yang membuat teknologi fotografi menjadi lebih praktis lagi.

                                                                                     Sutirman Eka Ardhana



Jumat, 02 Desember 2011

Sekilas Riwayat Film Indonesia (1) “Terang Boelan”, Film Terlaris Pertama

Sekilas Riwayat Film Indonesia (1)
“Terang Boelan”, Film Terlaris Pertama

Oleh: Sutirman Eka Ardhana

ERA film bisu di dunia berakhir pada tahun 1927. Berakhirnya era film bisu ini ditandai dengan pembuatan film bicara (film suara) pertama di tahun 1927 yang berjudul Jazz Singer. Film bicara pertama ini diputar atau dipertontonkan pertama kali untuk umum pada 6 Oktober 1927 di New York, Amerika Serikat.
Dua tahun kemudian, tepatnya di akhir tahun 1929, panggung pertunjukan film di Hindia Belanda (Indonesia) ditandai dengan masuknya dua film bicara dari Amerika Serikat. Kedua film bicara itu berjudul Fox Follies dan Rainbow Man.
Masuknya film bicara produksi Amerika Serikat itu tentu saja mempengaruhi perusahaan film di Hindia Belanda untuk ikut memproduksi film bicara. The Teng Chun dengan perusahaan filmnya Cino Motion Pictures Corporation (CMPC) pada tahun 1931 dengan peralatan rekaman suara yang sederhana mencoba membuat film bicara berjudul Roos van Cikembang. Sebelumnya CMPC memproduksi San Pek Eng Tay. Menyusul, diproduksi pula  film Indonesia Maleise garapan Wong Bersaudara (1931) dan Terpaksa Menikah kerjasama Kruger dengan Tan Khoen Hian (Tan’s Film) diproduksi tahun 1932. 
Perkembangan berikutnya terjadi di tahun 1934, ketika seorang Indo-Belanda bernama Albert Balink yang berprofesi sebagai wartawan koran berbahasa Belanda De Locomotif membuat film berjudul Pareh di Bandung. Balink tak sendiri, ia mengajak Wong Bersaudara dan Mannus Franken seorang pembuat film dokumenter dari Belanda. Film Pareh produksi perusahaan film Java Pasific Film dibintangi Rd. Mochtar dan Soerkarsih ini merupakan film Indonesia pertama yang mendapat perhatian luas dari masyarakat pecinta film, meskipun dari segi pemasaran masih dipandang tidak terlalu berhasil.
 Cino Motion Pictures Corporation yang kemudian berganti nama The Java Industrial Film Co (JIF) tahun 1935 memroduksi film Lima Siloeman Tikoes. Film ini mendapat sambutan hangat masyarakat keturunan Cina.
Jika film Pareh dinyatakan sebagai film Indonesia pertama yang mendapat perhatian luas dan dipuji dari segi kualitas dan ceritanya, maka film Terang Boelan yang diproduksi tahun 1937 merupakan film pertama terlaris dan sukses secara bisnis di pasaran. Film ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Terlebih lagi song film dalam film ini adalah lagu “Terang Boelan” (Terang Bulan) yang di masa itu merupakan lagu sedang hits atau populer di masyarakat.
Film Terang Boelan digarap Albert Balink bersama Wong Bersaudara dan mengajak seorang wartawan pribumi, Saeroen, di bawah bendera perusahaan film Algeemene Nederlands Indische Film Syindicaat (ANIF) yang didirikan di Batavia. Film penuh nuansa romantisme, tari dan nyanyi ini dibintangi Miss Roekiah dan Rd. Mochtar. Miss Roekiah, penyanyi keroncong di panggung tonel (panggung sandiwara), sedang Rd. Mochtar bintang yang ketika itu sedang digandrungi lewat penampilan sebelumnya di film Pareh. Dan, lagu “Terang Bulan” di film ini dinyanyikan oleh Miss Roekiah, penyanyi yang di masa itu memang sedang populer.

Sukses di Malaya
Kesuksesan film Terang Boelan yang berkisah tentang kehidupan masyarakat asli di pulau-pulau Laut Selatan ini kemudian menjadi pemicu perusahaan-perusahaan film lainnya untuk memproduksi tema yang sama, dengan tujuan meraih kesuksesan dari segi pemasaran. Apalagi film Terang Boelan tidak hanya sukses di dalam negeri sendiri, tapi juga meraih sukses ketika ditayangkan di Malaya (Malaysia) dan Singapura.
Semenjak film Terang Boelan, dunia perfilman di negeri kita saat itu mengalami masa-masa menggembirakan. Masa-masa itu (1939-1942) oleh Misbach Jusa Biran disebut sebagai masa panen pertama perfilman Indonesia.
Di dalam Selintas Kilas Sejarah Film Indonesia (terbitan Badan Pelaksana FFI 1982) Misbach Jusa Biran menyatakan – Film Terang Boelan memperlihatkan bukti yang amat jelas kepada para pemilik  modal bahwa usaha pembuatan film bisa menjadi bisnis yang hebat. Maka sejak 1939 mulai bermunculan perusahaan-perusahaan film baru. Semuanya berpedoman kepada pola resep film Terang Boelan. Pasangan Roekiah-Rd. Mochtar yang namanya menjulang ke langit popularitas, juga menjadi model dalam mendapatkan bintang bagi masing-masing perusahaan. Sejak saat itu kedudukan bintang dalam film Indonesia merupakan unsur amat penting, “star system” dimulai.
Seperti juga Roekiah, maka semua bintang baru khususnya ditarik dari dunia tonel. Termasuk pemain panggung paling cemerlang saat itu, seperti Fifi Young, Tan Tjeng Bok, Rd. Ismail, Astaman dan Ratna Asmara.
Tapi masa panen pertama perfilman Indonesia itu, menurut Misbach Jusa Biran, hanya berusia singkat, karena harus mendadak terhenti pada awal tahun 1942. Hal itu terjadi setelah Jepang menduduki Indonesia dan menyingkirkan kekuasaan Belanda pada Maret 1942.
Ada cerita menarik seputar lagu “Terang Bulan” yang menjadi song film di film “Terang Bulan” tersebut. Sejak zaman Hindia Belanda hingga negeri ini merdeka dan bernama Indonesia, lagu “Terang Bulan” telah dinyanyikan atau dipopulerkan oleh sejumlah penyanyi. Bahkan beberapa penyanyinya adalah keturunan Indo-Belanda (keturunan Belanda-Indonesia), seperti Wieteke van Dort, dan Rudy van Dalm.
Terakhir, di tahun 50-an, lagu “Terang Bulan” itu dinyanyikan oleh Nien Lesmana. Akan tetapi kemudian oleh Presiden Sukarno diminta agar lagu itu tidak dinyanyikan lagi di Indonesia, karena kemudian telah djadikan lagu kebangsaan Malaya (sekarang Malaysia), “Negaraku”. Ketika menjadi lagu kebangsaan Malaya (Malaysia), hanya judul dan syair lagunya saja yang berubah, sementara lagu atau iramanya sema sekali tidak berubah.   @ SEA

           KET. GAMBAR.
           1. Salah satu adegan dalam film "Terang Boelan".

           2. Cover atau sampul piringan hitam Rudy van Dalm yang menyanyikan lagu "Terang Boelan".


Selasa, 29 November 2011

Cita-cita :Indonesia Raya” Pernah Berkumandang di Malaya (Malaysia)


Cita-cita :Indonesia Raya”
Pernah Berkumandang di Malaya (Malaysia)

Oleh: Sutirman Eka Ardhana

SAMPAI hari ini kita masih tetap meyakini bahwa Indonesia, Malaysia (dulu Malaya), Brunei dan juga Filipina adalah bangsa yang serumpun. Keyakinan sebagai bangsa serumpun, yakni rumpun Melayu sudah dimiliki jauh sebelum negara-negara yang serumpun ini memiliki kedaulatannya sendiri sebagai bangsa yang merdeka.
Orang-orang Barat dulu menamakan Kepulauan Nusantara kita ini bersama-sama dengan Semenanjung Melayu (dulu Malaya dan kini Malaysia) dan pulau-pulau di sekitarnya sebagai Malay-Archipelago atau Kepulauan Melayu.
Jauh sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan di tahun 1945, orang-orang Melayu di Malaya (Malaysia) telah meyakini dirinya sebagai satu bangsa dengan rakyat Indonesia. Keyakinan itu semakin kuat ketika di Indonesia kemudian menggelora semangat pergerakan kebangsaan untuk mencapai Indonesia Raya.

Warisan Masa Lalu
Sekitar tahun 1920-an cita-cita Melayu Raya pernah tumbuh di Malaya. Namun kemudian pemimpin-pemimpin muda Melayu terbakar pula semangatnya untuk mengembalikan kejayaan-kejayaan masa lalu dengan menegakkan warisan-warisan yang dimiliki Sriwijaya, Majapahit dan Melaka. Mereka merindukan bangkitnya kembali Kesatuan Nusantara yang pernah ditegakkan Sriwijaya dan Majapahit.
Semangat itu kian menggelora, setelah pemimpin-pemimpin muda Melayu itu melihat dan terpengaruh dengan semangat pergerakan kebangsaan yang bangkit di Indonesia. Semangat pergerakan untuk mencapai Indonesia Raya yang merdeka itu membakar dada segenap putera-putera Melayu di Malaya yang juga merindukan kemerdekaan.
Sejak itu cita-cita nasional “Indonesia Raya” digenggam oleh pemuda-pemuda Malaya. Bahkan pada tahun 1929, tidak sedikit pemuda-pemuda Malaya yang menggabungkan diri dan semangatnya di dalam wadah Persatuan Nasional Indonesia (PNI).

KesatuanMelayu Muda
Meskipun cita-cita nasional “Indonesia Raya” itu sudah tumbuh di tahun 1920-an, namun secara tegas baru dinyatakan pada tahun 1938 oleh Kesatuan Melayu Muda (Malay Youth Organization).
Pada tahun 1930-an, kesadaran nasional tumbuh secara meyakinkan di kalangan pemuda-pemuda Melayu, khususnya pemuda-pemuda yang progresif. Mereka lalu membangun gerakan-gerakan bawah tanah melawan Inggris.
Tahun 1938 di Malaya (Malaysia) berdiri Kesatuan Melayu Muda (KKM). Organisasi pemuda ini dalam perjuangannya tidak menyatakan setia kepada Sultan-sultan maupun Pemerintah Inggris yang berkuasa. Tetapi juga tidak menyatakan menolak kerjasama.
KMM menyatakan mereka berdiri hanya untuk membangkitkan kesadaran berbangsa bagi segenap orang-orang Melayu.
Yang tentu saja mengejutkan penguasa Inggris di masa itu, adalah sikap mereka yang menyatakan menghendaki bangkitnya kesadaran nasional secara besar, yakni “Melayu Raya”.
KMM mengartikan dan mendefinisikan “Melayu Raya” sebagai cita-cita nasional “Indonesia Raya”. Bahkan dipertegas oleh KMM, bahwa Malaya merupakan sebagian dari Indonesia yang dipisahkan oleh Belanda dan Inggris.
Penguasa Inggris yang melihat sepak-terjang KMM yang pada kenyataannya benar-benar tidak mau bekerjasama dengan Pemerintah Inggris, merasa khawatir dan menganggap KMM sebagai organisasi yang berbahaya. Bahkan pemimpin-pemimpin KMM seperti Ishak Haji Mohammad dan Ibrahim Yaacob secara terang-terangan menyatakan anti Inggris. Melihat hal itu sejumlah pemuka KMM ditahan atau ditangkap oleh Pemerintah Inggris.
Namunpun demikian KMM berkembang pesat di seluruh Malaya dan Singapura. Anggota-anggotanya pun tersebar sampai ke Riau (Indonesia) dan Brunei.

Menuntut kepada Jepang
Pada bulan April 1942, setelah balatentara Jepang mengusir Pemerintah Inggris, KMM dibubarkan oleh Pemerintah Tentara Jepang. Akan tetapi pemimpin-pemimpin dan anggota KMM melanjutkan perjuangan melawan Jepang.
Mereka bergabung di dalam gerakan-gerakan bawah tanah Malaya Peoples Anti Japanese Army (MPAJA). Sementara sejumlah pemimpin dan anggotanya lagi secara diam-diam menyelinap dan masuk menjadi pimpinan pasukan Malay Giyu Gun yang dibentuk Jepang di akhir tahun 1943.
Di masa kekuasaan Balatentara Jepang itu, semangat dan cita-cita KMM untuk mewujudkan “Indonesia Raya” tetap menggelora. Bahkan di luar dugaan Pemerintah Jepang, tokoh-tokoh KMM yang juga menjadi pemimpin Malay Giyu Gun mengajukan tuntutan kepada penguasa Jepang agar Malaya diikutsertakan di dalam kesatuan Indonesia Merdeka. Tuntutan tokoh-tokoh KMM itu diajukan pada awal tahun 1945, ketika sudah ada tanda-tanda Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Di luar dugaan pula, pada bulan Juli 1945 tuntutan Malaya disatukan ke dalam wadah Indonesia Merdeka itu dikabulkan oleh Jepang. Kesediaan Jepang itu disambut gembira oleh pemuda-pemuda Malaya, khususnya KMM. Sehingga pada tanggal 8 Agustus 1945 bendera Merah Putih dikibarkan di Singapura. Pada bulan itu juga dikibarkan pada beberapa tempat lainnya di Malaya.
Serangkaian acara pun telah disusun ketika itu dalam rangkaian mewujudkan bergabungnya Malaya ke dalam Indonesia Raya. Pertemuan-pertemuan telah diadakan antara pemimpin-pemimpin nasionalis Melayu dengan pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia. Di antaranya pertemuan tanggal 13 Agustus 1945 di Taiping (Malaya).
Namun karena situasi wakti itu yang belum memungkinkan, mengakibatkan ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan tanggal 17 Agustus 1945, Semenanjung Melayu atau Malaya belum dapat terikut-sertakan.

Adakan Kongres
Pada saat Jepang kepada pasukan Sekutu, semangat untuk bersatu di dalam kesatuan Indonesia Merdeka semakin membara. KMM pada bulan Agustus di tahun 1945 itu, tepatnya tanggal 15, 16 dan 17 menyelenggarakan kongres di Kuala Lumpur. Salah satu keputusan dari kongres KMM itu adalah meneruskan perjuangan kemerdekaan dan bersatu dengan Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari langkah perjuangan itu, pemimpin-pemimpin KMM dan kaum nasionalis Melayu lainnya lalu membentuk Partai Kebangsaan Melayu KMM dan kaum nasionalis Melayu lainnya lalu membentuk Partai Kebangsaan Melayu dan Malay Nationalist Party (MNP).
Pada tahun 1946 MNP mengadakan kongres. Salah satu keputusan kongres MNP itu adalah tuntutan masuknya Malaya ke dalam Indonesia. Bersamaan dengan itu berdirilah organisasi-organisasi kebangsaan lainnya, seperti Angkatan Pemuda Insyaf (API), dan Angkatan Wanita Sedar (AWAS) serta banyak lagi.
Pada dasarnya organisasi-organisasi tersebut mempunyai tujuan yang sama, mengenyahkan penguasa Inggris dan mewujudkan kesatuan Indonesia Merdeka di mana Malaya tergabung di dalamnya.

Ditindas
Akan tetapi cita-cita yang mulia itu gagal dan tak pernah terwujud hingga hari ini. Pemerintah Inggris lalu menindas gerakan MNP, API, AWAS, dan lain-lainnya, setelah terjadi perlawanan di tahun 1948. Tokoh-tokoh mereka ditangkap, dan organisasinya dibekukan.
Namun semangat perjuangan MNP dan sekutu-sekutunya tak pernah pudar. Meski dipatahkan di dalam negeri, mereka lalu membangun perjuangan di luar Malaya. Lalu di bulan Juni 1950, pejuang-pejuang Melayu itu mendirikan Kesatuan Malaya Merdeka (KMM) yang berkedudukan di luar Malaya. Dan, tokoh yang dipercayakan memimpin pergerakan itu itu Ibrahim Yaacob yang meneruskan perjuangan tersebut dari Indonesia.
Ibrahim Yaacob, seorang pemimpin nasional Melayu , tokoh KMM dan MNP yang sejak awal perjuangannya senantiasa membangkitkan semangat dan cita-cita “Indonesia Raya”. ***

(Dimuat Harian “Berita Nasional”, Sabtu, 3 Agustus 1985).

KET. GAMBAR: (di atas)
AWAS. Beberapa wanita Melayu yang tergabung di dalam Angkatan Wanita Sedar (AWAS) bergambar bersama sehabis pertemuan. AWAS merupakan kelanjutan dari perjuangan Kesatuan Melayu Muda. (Foto: Repro/Bernas)