Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2015

Cerpen Karangsambung



         


            Karangsambung
            Cerpen  Sutirman Eka Ardhana

            KALAU saja Bambang tidak meneleponku, mungkin aku tak pernah datang lagi ke tempat ini. Dan, tak pernah lagi memandang hamparan pegunungan bebatuan yang indah menakjubkan itu. Bambang, teman sekolahku di SMEA dulu. Empat hari yang lalu aku bertemu dengannya di Malioboro. Saat itu ia bersama keluarga, isteri dan dua anaknya, perempuan semua, sedang liburan di Yogya.
“Aku tinggal di Jakarta. Sekarang sedang cuti, pulang kampung ke Kebumen. Dan, sekarang kumanfaatkan pula untuk jalan-jalan ke Yogya,” kata Bambang setelah kami saling bersalaman, berpelukan erat dan hangat.
Pertemuan itu sungguh menyenangkan, meski hanya sebentar. Maklumlah, sudah belasan tahun kami tidak pernah bertemu sejak setamat sekolah dulu.
“Ah, sebenarnya aku ingin bicara banyak dan lebih lama lagi denganmu. Tapi nantilah, setelah sampai di Kebumen, aku akan meneleponmu,” katanya kemudian setelah kami saling bertukar nomor hand-phone.
Benar. Sehari kemudian, ia meneleponku.
“Fir, besok kaudatang ke Kebumen, ya? Aku tunggu. Langsung saja ke rumahku,” kata Bambang di hand-phone.
“Ke rumahmu yang di Karangsambung? Di puncak gunung sana?” tanyaku sambil membayangkan jauhnya jarak yang akan kutempuh untuk sampai ke rumahnya.
“Ya, di mana lagi? Rumahku di Kebumen, ya hanya di kaki pegunungan Karangsambung itu. Bukankah dulu kausudah pernah datang ke desaku?”
Jalanan menanjak menuju ke kawasan pegunungan Karangsambung yang terletak di Kecamatan Sadang, sekitar 19 kilometer di sebelah utara pusat kota Kebumen, cukup lumayan halus dibanding dulu. Dulu, jalannya bergelombang, dan berlubang di sana-sini.
Menjelang senja, ojek sepedamotor yang kutumpangi sampai di desa yang terletak di kaki pegunungan Karangsambung ini. Dan, hamparan bebatuan gunung yang disiram warna senja itu langsung menggoda perhatianku. Pemandangan indahnya tidak ingin kusia-siakan. Aku ingin menikmati panorama senja hari di hamparan bebatuan itu lebih lama lagi. Karena itulah aku minta diturunkan di dekat jembatan desa.
Aku ingat, dari jembatan inilah dulu kunikmati pesona keindahan hamparan bebatuan gunung itu. Kini, aku ingin menikmatinya seperti dulu lagi. Ingin merekam segala keindahan di dalam kameraku. Karena sebagai wartawan, kedatanganku ini sekaligus memang akan kumanfaatkan untuk membuat tulisan khusus tentang Karangsambung. Setelah itu baru akan kulanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke rumah Bambang yang hanya tinggal beberapa ratus meter lagi.
 Bebatuan hijau keperakan di Karangsambung tidak hanya indah dan unik, tapi juga menyimpan misteri tentang sejarah purba perjalanan geologi yang tak ada duanya di Indonesia. Karena itulah, sejak tahun enampuluhan kawasan Karangsambung telah dijadikan Kampus Lapangan Geologi LIPI. Di tempat ini para pakar geologi telah menemukan setidaknya 30 situs bebatuan yang muncul pada sekitar 120 juta tahun lampau. Dari situs-situs itulah akan terlacak bagaimana aktivitas geologi yang terjadi pada sekitar 120 juta tahun lalu telah memunculkan suatu hamparan daratan yang kemudian dikenal dengan sebutan Pulau Jawa.
Di sini terdapat banyak struktur geologi dan beragam jenis bebatuan langka. Misalnya, tak jauh dari jembatan tempatku berdiri, persisnya di pinggiran Kali Brewok, terdapat hamparan jenis batuan sekis mika. Batuan ini penuh daya pesona. Terlebih bila tersiram sinar matahari, kemilaunya mengundang rasa takjub yang luar biasa. Di tepian-tepian jalan ditemukan pula jenis batuan serpentinit yang berwarna kehijauan. Selain itu, di tempat ini terdapat juga satu hamparan bebatuan beku yang menurut hasil penelitian berasal dari sebuah gunung yang gagal berproses menjadi gunung api.       
Aku masih hanyut dalam keterpukauan memandang keindahan hamparan bebatuan, ketika tiba-tiba terdengar ada sapaan suara perempuan di dekatku.
“Apa kabar, Mas Firman? Sudah lama datangnya?” sapaan itu sangat dekat.
Aku cepat menoleh ke samping kanan. Seorang perempuan muda berdiri di dekatku, hanya berjarak sekitar satu meter. Aku terpana sesaat. Heran. Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu kalau ada seorang perempuan yang datang mendekatiku? Kapan datangnya? Dalam temaram senja terlihat ia tersenyum. Senyumnya lembut dan khas. Mendadak aku ingat sebuah wajah.
“Masih ingat saya, kan?” tanyanya kemudian terdengar.
Aku berpikir sesaat. Mencoba membongkar dan memperjelas kembali ingatan tentang sebuah wajah. Wajah seorang perempuan. Tapi, apa benar dia? Lalu, terasa ada terpaan angin yang lembut dari lereng-lereng pegunungan ke wajahku.
“Bagaimana, ingat atau lupa?” lagi, terdengar suaranya, penuh harap.
“Kamu, Ris …….., Ristianti, kan?” ujarku seraya menepis keraguan.
Ia mengangguk. Pelan. Lembut. Dan, tersenyum.
Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah hamparan bebatuan yang mulai tenggelam dalam dekapan senja. Hening sesaat. Burung-burung senja saling melintas, lalu menghilang di balik bebatuan gunung. Aku pun ikut larut dalam keheningan itu. Mataku pun ikut menatap jauh ke puncak pegunungan dalam kesenyapan. Senyap. Kesenyapan yang asing.
“Saya sengaja datang ke sini, ke jembatan ini, untuk menyambut dan menjemput kedatangan Mas Firman. Tanpa seorangpun memberitahu, firasat saya mengatakan bahwa Mas Firman akan datang sore ini. Karena itulah saya datang ke sini, ke jembatan ini. Bukankah dulu, saya mengantar dan melepas Mas Firman pulang di jembatan ini? Dan, bukankah dulu saya juga berjanji, akan menjemput kedatangan Mas Firman lagi di jembatan ini? Apakah, Mas Fir masih mengingat semuanya itu?” terdengar lagi suaranya.
Aku mengangguk. Ya, aku masih mengingat semuanya. Dulu, empatbelas tahun lalu, ketika duduk di kelas tiga SMEA aku memang pernah datang ke sini. Selama seminggu berlibur di sini, menginap di rumahnya Bambang. Di hari kedua kedatanganku, Bambang memperkenalkanku dengan gadis tetangganya, Ristianti, yang ketika itu masih duduk di kelas tiga SMP. Ah, dia remaja desa yang cantik dan manis. Kecantikan yang alami. Kecantikan yang purbawi. Sungguh! Di mataku, senyumnya bagaikan kilauan mutiara yang terpancar dari dasar endapan bebatuan. Mutiara tak ternilai harganya, yang sudah terpendam puluhan juta tahun lebih di dasar hamparan pegunungan bebatuan.
Seperti lazimnya gadis-gadis di desa, pada awalnya ia sering malu-malu bila bertemu denganku. Tapi, karena seringnya aku berusaha bertemu dan mengajaknya berbincang-bincang, ia pun kemudian menjadi akrab dan dekat. Dan, dalam sekejap, aku pun menjalin kasih dengannya. Hari-hari liburanku di Karangsambung menjadi hari-hari bersama Ristianti. Hari-hari yang indah. Hari-hari penuh cinta. Tetapi, semuanya hanya berlangsung beberapa hari saja. Karena setelah masa berliburku di rumah Bambang habis, aku harus segera kembali lagi ke kota.    
Aku pun ingat, saat akan pulang bersama Bambang, ia mengantarku sampai di jembatan.
“Sudah ya Ris, aku pulang dulu. Nanti, kapan-kapan aku datang lagi kemari,” aku ingat, ini kata-kata yang kuucapkan waktu itu.
“Mas Fir janji mau datang dan menemui saya lagi?” tanyanya sendu, penuh harap.
Aku mengangguk. Berusaha meyakinkannya.
“Selamat jalan, Mas Fir. Dan nanti, kalau Mas Firman datang lagi, akan saya jemput di jembatan ini,” katanya, ya, katanya saat itu.
Akan tetapi, janjiku untuk datang lagi saat itu tak pernah terwujud. Kesibukanku menghadapi masa-masa ujian akhir sekolah membuatku seakan melupakan Ristianti.  Melupakan kelembutan tatapnya. Apalagi, setamat sekolah, aku langsung ke Yogya melanjutkan kuliah. Semenjak itu aku tak pernah lagi ke Karangsambung. Tak pernah lagi ke rumah Bambang. Tak pernah lagi bertemu dengannya;
Keheningan di kaki pegunungan itu semakin menusuk. Ada angin menerpa, terasa dingin di wajah, leher dan kedua lenganku. Aku baru saja akan menghela napas, ketika suaranya menyentak lamunanku.
“Sebagai perempuan desa yang tinggal di kaki pegunungan, saya juga akan selalu menjunjung tinggi sikap yang selama ini secara turun-temurun dipegang teguh oleh warga di sini, yaitu kesetiaan terhadap kata-kata. Kesetiaan terhadap janji. Kesetiaan kepada alam. Kesetiaan untuk menunggu Mas Firman datang. Kesetiaan menunggu dan menjemput di sini. Di jembatan ini.”
Aku terpana. Kata-kata itu begitu menusuk. Tusukannya seakan membius seluruh jaringan darah di tubuhku. Membuatku tak berdaya. Sehingga, ketika kemudian ia memintaku untuk datang ke rumahnya esok hari, aku tak mampu mengiyakannya dengan kata-kata, kecuali hanya mengangguk lemah.
“Ya, sudahlah. Saya telah menghabiskan waktu Mas Firman di jembatan ini. Tapi, terus terang, saya hari ini benar-benar bahagia, karena bisa membuktikan kesetiaan saya. Besok, datanglah ke rumah saya. Saya tunggu,” katanya seraya melangkah pergi.
Sekilas, dalam keremangan senja yang mulai memekat, masih sempat kulihat senyumnya. Aku pun terpaku. Terpana beberapa saat, memandangnya melangkah, terus melangkah, hingga ia seperti menghilang di balik kegelapan malam yang mulai datang.
“Mas, sedang menunggu siapa di sini?” suara seorang lelaki menyadarkan keterpanaanku.
Aku terkesiap. Seorang lelaki bersepeda, berhenti di dekatku.
“Oh, ….. tidak. Tidak menunggu siapa-siapa. Saya….. saya, sedang istirahat sebentar. Saya akan menuju ke rumahnya Mas Bambang,” ujarku agak terbata.
Lelaki itu ternyata tetangganya Bambang. Dan, ia pun kemudian menawarkan diri untuk mengantarkanku dengan sepedanya. Aku pun tak menolak tawaran itu.
“Kenapa sampai malam, Fir? Jam berapa tadi berangkatnya?” beruntun tanya pun  meluncur dari mulut Bambang, ketika aku sudah berada di mulut pintu rumahnya.
Setelah duduk di ruang tamu, barulah kuceritakan semuanya.
“Apa?! Kau bertemu Ristianti? Bertemu di jembatan itu? Ah, yang benar, Fir? Jangan ngarang-ngarang cerita,” ada keterkejutan besar di tanya Bambang ini.
“Sungguh, Bang! Aku bertemu dengannya di jembatan itu. Ia mengatakan, sengaja menjemput kedatanganku di jembatan itu. Karena ia dulu berjanji akan menjemputku di situ. Tapi anehnya, kok ia masih seperti belasan tahun lalu? Dan, tadi ia memintaku untuk datang ke rumahnya besok,” jelasku berusaha meyakinkan.
Bambang terdiam beberapa saat. Tampak ia menarik napasnya dalam-dalam.
“Tapi, rasanya itu tidak mungkin terjadi, Fir,” suara Bambang melemah.
“Kenapa tidak?”
“Karena ia sudah meninggal dunia sekitar tujuh tahun lalu.”
“Apa??! Meninggal?!” aku terhenyak, tak percaya.
“Ya, Risti sudah meninggal, akibat kecelakaan lalulintas. Ia tertabrak truk yang blong remnya, persis di dekat jembatan itu. Ia meninggal dalam kesendirian. Karena sampai akhir hayatnya ia masih tetap sendiri. Masih tetap melajang. Tetap setia dengan janjinya untuk menunggu kaudatang lagi.”
Aku benar-benar terhenyak. Bingung. Tak tahu harus berkata apa-apa lagi.
                                                                                          Yogya, 2009-2010

(Terhimpun di dalam buku kumpulan cerpen "Langit Biru Bengkalis".)

Sabtu, 03 Agustus 2013

Bulan di Atas Surau Oleh: Sutirman Eka Ardhana

Bulan di Atas Surau
Oleh: Sutirman Eka Ardhana



WAJAH bulan menyembul separuh di atas surau. Separuhnya lagi seperti sedang bersembunyi di balik dedaunan pohon karet. Daun-daun pohon karet yang meninggi di belakang surau itu bagai sedang saling berangkulan. Sedang di dalam surau, gema takbir berkumandang dengan merdunya. Sejak sehabis sembahyang Magrib, gema takbir itu tak henti-hentinya dikumandangkan para jemaah, tua maupun muda. Baik lelaki maupun perempuan.


Aku sedang berdiri di depan surau memandang wajah bulan yang tersembul separuh di balik dedaunan karet, seraya mendengarkan gema takbir yang berkumandang merdu dari dalam surau itu. Kucoba mengingat-ingat, kalau-kalau ada di antara para jemaah pelantun takbir itu yang kukenal suaranya. Ah, ternyata tidak. Tak ada satu pun yang kukenal. Semua terasa asing di telingaku.
Di mana Fikri, sahabat karibku semasa belajar mengaji di surau ini dulu?
Aku berharap mendengarkan suaranya di antara lantunan takbir itu. Suaranya yang merdu bertahun-tahun kurindukan. Di antara para murid atau santri yang belajar mengaji pada Pak Haji Dullah, hanya Fikri yang bersuara merdu ketika mengumandangkan takbir di setiap malam Lebaran tiba. Sepertinya kesemarakan bertakbir di malam Lebaran itu menjadi berkurang bila tak ada lantunan takbir yang merdu dari Fikri.
Juga di mana Khusnul, perempuan lembut bermata teduh yang suaranya pun sangat merdu dalam setiap kali melantunkan suara takbir itu?
Di mana, anak perempuan yang dulu didambakan Emak jadi menantunya, tapi kemudian kukecewakan? Di mana, perempuan yang setiap kali namanya kukenang, menimbulkan penyesalan di hatiku?
Di mana mereka? Ya, di mana Fikri dan Khusnul? Apakah mereka tidak ada di antara para jemaah yang sedang melantunkan takbir di dalam surau itu? Andaikan ada, kenapa aku tak mendengar suara mereka? Apakah suara mereka sudah berubah, tak semerdu dulu lagi? Bisa saja berubah. Kenapa tidak? Bukankah kemerduan suara Fikri, juga Khusnul itu ada pada dua puluh tahun lebih yang lalu? Ya, dua puluh tahun lebih sudah tak mendengarkan kemerduan suara mereka. Beruntun tanya seperti saling berdesakan dan bergebalau di hatiku.
Aku baru saja tiba di kampung. Aku pulang berserta isteri dan anak-anakku merayakan Lebaran bersama Emak. Sudah beberapa kali Lebaran aku tak pernah pulang. Karena kerinduan kepada Emak, kuputuskan tahun ini berlebaran di kampung. Sekaligus juga ingin melepas kerinduan kepada sesama kawan sepermainan atau kawan semasa belajar mengaji di surau dulu. Di antaranya yang ada dalam rinduku itu tentu saja Fikri, juga Khusnul.
Sehabis berbuka puasa dan sembahyang Magrib di rumah, kuputuskan untuk pergi ke surau. Aku tahu, seperti dulu setiap malam Lebaran, suasana di surau pasti lebih semarak dibanding malam-malam lainnya. Semarak dengan suara gema takbir yang dikumandangkan para jemaah atau santri-santri yang belajar mengaji di surau. Lantunan takbir yang memuji kebesaran Allah itu bagai menyelusup di celah-celah dedaunan pohon karet, dan daun-daun pohon senduduk yang tumbuh berjajar di sepanjang tepian parit. Lalu, suara takbir itu menyeruak lembut ke rumah-rumah penduduk. Dan, suasana seperti itu bertahun-tahun kurindukan.
"Saya mau ke surau, Mak," kataku kepada Emak.
"Mau sembahyang?" tanya Emak cepat.
"Ya, mau Isya dan bertakbiran di sana. Siapa tahu jumpa kawan-kawan lama di surau," jelasku.
"Mau jumpa....," timpal Emak, tapi kemudian kata-katanya terhenti begitu isteri dan anak-anakku datang.
Aku tahu, kata-kata Emak itu sesungguhnya akan bersambung. Tapi karena ada isteriku di dekatnya, ia pun tak melanjutkannya.
"Sudah ya Mak, saya ke surau dulu," kataku sambil berpikir tentang kata-kata Emak yang terputus itu.
"Ya, berangkatlah. Jangan pulang malam-malam. Kasihan isteri dan anak-anakkau ditinggal lama. Kau kan baru sampai, badan tentu masih penat," seru Emak.
"Baiklah, Mak," anggukku.
Emak benar. Badanku sebenarnya lumayan penat. Perjalanan dari Yogya sampai ke kampungku cukup memenatkan.
Tapi keinginan untuk menikmati suasana malam Lebaran di surau yang sudah lama kurindukan itu terlalu besar untuk dikalahkan oleh kepenatan badan.
Jemaah terus berdatangan ke surau. Aku benar-benar merasa asing, karena sepertinya tak ada seorang pun para jemaah yang berjalan di dekatku itu kukenal. Tak ada satu pun yang mengenalku, walau aku sudah mencoba tersenyum dengan beberapa yang kebetulan menoleh ke arahku. Hanya beberapa orang saja yang terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala kepadaku. Sebagian besar mereka memang anak-anak muda, yang lahir jauh di belakangku. Kupikir wajar juga jika mereka tak mengenalku. Mereka mungkin mengira aku ini tamu yang sedang berkunjung, atau pendatang baru di kampung ini.
Aku masih berdiri di depan surau. Aku sengaja ingin masuk belakangan, dengan harapan ingin mencari atau bertemu lebih dulu dengan orang-orang yang masih kukenal. Ya, aku berharap di depan surau ini bertemu dengan kawan-kawan lamaku dulu seperti Fikri, dan juga Khusnul yang namanya masih saja terngiang di ingatanku.
Aku sedang memandang ke arah dedaunan karet yang menyembunyikan separuh wajah bulan itu, ketika di dekatku berjalan sepasang lelaki dan perempuan melangkah ke tangga surau. Lelaki itu mengenakan krak atau tongkat penyangga di tangan kanannya. Sedang yang perempuan menggandeng tangan kirinya.Mungkin isterinya.
Lelaki itu sudah berada sekitar tiga langkah di depanku, ketika ia menoleh ke belakang, ke arahku. Aku terkesiap. Walaupun cahaya penerangan di depan surau itu tak begitu terang, aku dapat melihat agak jelas wajahnya. Wajah itu seperti pernah kukenal. Ketika pandangan kami bertatapan, aku mencoba tersenyum. Dan, lelaki itu menghentikan langkahnya. Ia memandangku beberapa saat. Pandangannya dalam. Aku pun demikian, memandangnya dalam-dalam dengan dada berdebar.
Lelaki itu kemudian membalikkan badannya, dan berjalan ke depanku. Pandangannya masih tetap di wajahku. Serius. Aku juga memandangnya serius. Tak syak lagi! Lelaki ini sangat kukenal! Dia pasti.....
Ketika aku baru akan berteriak menyebut namanya, lelaki itu sudah terlebih dulu berseru nyaring.
"Ha.....engkau pasti Ardhan, kan?! Pasti! Pasti, tak salah lagi! Engkau Ardhan!" serunya gembira.
Beberapa jemaah di depan surau, yang terkejut mendengar suara lelaki itu langsung memandang kami.
"Dan, engkau pasti Fikri!" seruku, kerasnya.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mendekat dan memeluknya erat-erat. Memeluk dengan penuh kerinduan. Betapa tidak. Fikri adalah sahabatku dalam suka dan duka. Sahabat sepermainan. Sahabat sepengajian.
"Beginilah aku sekarang, Ar. Kaki kananku sudah cacat. Tinggal separuh lagi. Diamputasi," katanya setelah kami saling bertanya tentang keadaan masing-masing, tentang keluarga, anak-anak, dan lain-lain.
"Kenapa bisa sampai begitu, Fik?" tanyaku.
"Beberapa tahun lalu, aku terpaksa bekerja di sebuah panglong atau perusahaan penebangan hutan. Ketika bekerja di hutan itu, aku mendapatkan musibah kecelakaan. Aku tertimpa kayu yang ditebang. Ada cabang kayu yang lumayan besar menimpa kaki kananku ini. Kakiku remuk. Karena lukanya yang parah, akhirnya ya diamputasi di rumah sakit. Dan, seperti inilah sekarang. Ke mana-mana harus pakai krak ini," urainya. Pedih hatiku mendengar kata-kata Fikri itu. Sahabat karibku, yang kemerduan suaranya ketika melantunkan adzan dan takbir sangat kukagumi, ternyata harus menjalani perjuangan hidup yang keras. Ia harus bekerja menjadi buruh penebang kayu di hutan demi menghidupi keluarga, isteri dan anak-anaknya. Pandanganku lalu beralih ke perempuan di sampingnya. Dan, wajah perempuan itu juga tak asing lagi buatku. Dia tentu saja Nurul, isterinya. Seketika aku hanyut dalam keharuan. Kalau saja cahaya separuh bulan yang tersembul di balik di dedaunan, di atas surau, sampai ke wajahku, maka akan terlihat jelas bagaimana aku menahan keharuan itu.
Baru saja aku akan berkata lagi, agar segera beralih dari keharuan itu, tiba-tiba ada suara yang mengejutkan datang dari arah belakang.
"Hei, Bang Fikri, kenapa tak masuk ke surau. Isya sebentar lagi," kata seorang lelaki di belakang aku dan Fikri. Suara itu seperti pernah kukenal.
Aku pun membalikkan badan dan memandang ke arah lelaki itu. Lelaki itu juga memandangku. Dia datang berdua dengan seorang perempuan. Perempuan di sampingnya tampak tersenyum. Ya, Tuhan! Senyum itu rasanya begitu sangat kukenal. Juga lelaki itu, wajahnya belum hilang dari ingatanku.
"Dan, ini..... kalau tak salah, pasti Bang Ardhan. Ya, ini Bang Ardhan, kan?! Bila sampai di kampung, Bang? Sudah berapa hari di sini?" beruntun tanya keluar dari mulut lelaki itu. Terus terang, aku terkesiap, sehingga tak mampu menjawab rentetan pertanyaannya itu. "Masih ingat dengan saya kan, Bang? Atau sudah lupa? Saya Hamid. Dan ini, isteri saya, Khusnul. Masih ingat kan Bang, sama Khusnul?" lagi tanyanya seraya menunjuk ke arah perempuan di sampingnya itu.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan keduanya. Hamid, yang keponakannya Pak Haji Dullah, guru mengajiku di surau itu, dulu juga begitu dekat denganku. Di mana ada aku dan Fikri, pasti di situ ada juga Hamid. Dan Khusnul, tak ada alasan untuk melupakannya dalam ingatanku. Dulu, dia gadis yang baik, dan teramat baik buatku. Di mataku, dia perempuan sempurna. Sangat sempurna. Terlebih lagi, dialah dulu perempuan yang didambakan Emak untuk menjadi pendamping hidupku. Emak sangat menyukainya. Sangat menginginkannya dijadikan menantu. Dan, Khusnul pun tahu akan itu, karena Emak pernah mengatakan kepadanya. Bahkan, Emak dulu sempat merencanakan akan melamarnya. Kalau saja ketika itu aku tak bilang agar Emak jangan buru-buru melamarnya, Ayah dan Emak pasti sudah melamar Khusnul. "Apa kabar, Bang? Pulang bersama keluarga? Maaf ya Bang, jangan bersalaman dulu, sudah wudlu dari rumah," kata-kata lembut Khusnul mengejutkan lamunan sesaatku.
Aku tergagap sesaat. "Minal aidzin wal faizin ya, Bang. Maaf lahir dan batin. Apalagi saya merasa dulu banyak berbuat salah dan khilaf kepada Bang Ar," sekali pun pelan dan ceria, kata-kata ini seperti menyayat di hatiku.
"Sama-sama, Nul. Abanglah mestinya yang dulu banyak salah dengan Khusnul........," kata-kataku terhenti, aku seperti kehilangan kemampuan untuk berkata lagi.
Kata-kataku terputus, karena suara muadzin melantunkan adzan sudah menggema nyaring dari dalam surau.
"Yuk kita masuk ke surau, Isya segera dimulai," kata Hamid, merangkulkan tangannya ke pundakku.
"Hamid dan Khusnul ini yang sekarang menjadi ustadz dan ustadzah di surau ini," timpal Fikri.


Wajah bulan separuh itu terlihat di atas surau, ketika kami melangkah masuk menuju ke tangga surau.
* Yogyakarta, Ramadhan 1434 H
Catatan Redaksi: (Suara Karya, Sabtu, 3 Agustus 2013)
Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Sejak 1972 menetap di Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi dan novel. Karya-karyanya yang sudah terbit di antaranya novel Surau Tercinta (Navila, 2002), Dendang Penari (Gita Nagari, 2003), Gelisah Cinta (Binar Press, 2005). Kumpulan puisi Risau (Pabrik tulisan, 1976), Emas Kawin (Renas, 1979), dan puisi-puisinya terhimpun pada sejumlah antologi puisi. *** 
 
 
 

Minggu, 02 Desember 2012

Gelisah Faisal
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

DESA itu seperti sedang disergap malam. Suara burung gagak di pucuk pepohonan ikut mencekam. Dan, di kejauhan, di jalanan menuju desa, sebuah truk menembus gelap malam.
Sekitar duapuluh orang berseragam dan bersenjata lengkap terguncang di dalam truk. Mereka semua bersiaga. Mata-mata mereka berkeliling, ke kiri-kanan jalan, ke depan dan  belakang truk, bagai mencari-cari sesuatu yang dicurigai di balik-balik gerumbul semak, di balik-balik rimbun pepohonan, di balik gelap malam.
Lampu truk itu menyorot tajam ke depan. Cahayanya yang terang seakan melalap apa saja yang ada di jalan. Mata pengemudinya senantiasa lurus ke depan, seperti mata elang, seakan tak pernah berkedip sedikitpun. Akan halnya, di samping sopir truk itu, Sersan Satu Faisal sedang bergelut dengan perasaan dan kenangannya.
Tujuh tahun lamanya sudah ia tidak pernah melewati jalan ini. Padahal dulu setiap hari ia melewati jalan ini, pergi dan pulang sekolah. Setiap hari ia pulang-pergi dari desanya ke kota kabupaten. Dulu, untuk sampai ke kota, ia memerlukan waktu sekitar satu jam dari desanya, dengan mengendarai sepedamotor tua.
Sepedamotor tua itu merupakan hadiah dari ayahnya ketika ia naik ke kelas tiga SMA. Sebelumnya ia harus bersepeda dulu sampai ke desa tetangga, kemudian menitipkan sepedanya di sebuah warung, baru melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkutan colt penumpang.
Sebagai seorang pendidik, ayahnya sangat berharap agar setamat SMA ia bisa melanjutkan kuliah sampai ke perguruan tinggi. Tapi harapan ayahnya tak pernah kesampaian. Dua bulan menjelang tamat SMA, ayahnya yang merupakan tumpuan keluarga mendadak sakit dan meninggal. Niat untuk kuliah pun diurungkan.
Ia pun kemudian merubah niatnya. Keinginan untuk kuliah dikuburnya dalam-dalam. Niat yang kemudian muncul adalah mencari kerja, dan pergi dari desanya, merantau ke tempat lain untuk mencari pengalaman hidup. Tangis ibu dan adik perempuan semata wayangnya yang waktu itu masih duduk di kelas dua SMP tak kuasa membendung tekadnya. Ia tetap pergi.
Dengan berbekal uang hasil penjualan sepedamotor tua miliknya, ia berangkat ke ibukota provinsi. Di kota provinsi ia berkenalan dengan seseorang yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Lelaki separuh baya yang baru saja menjengguk keluarganya di kota provinsi itu mengajaknya ikut ke Semarang. Tentu saja ajakan itu diterimanya dengan sukacita. Jalan untuknya pergi merantau jauh sudah terbuka.
Setelah setahun di Semarang dan tinggal di rumah lelaki yang mengajaknya itu, ia tertarik pada pembukaan pendaftaran bintara TNI Angkatan Darat. Kebetulan lelaki yang diikutinya juga memberikan dorongan agar ia mendaftar. Ia pun mendaftar untuk jadi tentara. Keinginannya dikabulkan Tuhan. Ia diterima. Ia ditempatkan pada salah satu batalyon infantri di Jawa Tengah. Pendidikan demi pendidikan kemiliteran diikutinya. Tanpa terasa sudah enam tahun ia menjadi tentara, dan kini berpangkat Sersan Satu.
Kini ia kembali ke desa ini. Tapi bukan kembali untuk melepas rindu. Ia kembali demi tugasnya sebagai militer. Daerah ini, termasuk desa kelahirannya, sedang menjadi daerah konflik. Ada kelompok perlawanan di sini. Kelompok perlawanan yang ingin memisahkan diri dengan negara. Dan, kelompok perlawanan itu harus ditumpas.
Tiba-tiba sebatang dahan kayu roboh dan melintang di tengah jalan. Sopir truk menginjak rem keras-keras. Sersan Faisal terkejut. Suara gemuruh dahan kayu yang jatuh dan bunyi rem yang diinjak mendadak telah membuyarkan lamunannya.
Jalanan jadi gelap. Pekat. Tidak ada setitik sinar pun yang menjatuhkan cahayanya di jalan itu.
Faisal yang diberi tugas menjadi komandan patroli memerintahkan anak buahnya untuk segera turun dari truk, dan memeriksa apa yang melintang di jalan. Empat orang bergerak cepat dan taktis ke depan. Sementara lainnya mengawasi sekeliling.
“Hanya sebatang dahan kayu kering,” seru salah seorang yang bergerak ke depan.
Jalan yang menuju ke desa itu seperti tidak punya suara kehidupan. Satu-satunya yang terdengar hanya deru mesin truk yang memecah sunyi malam.
Di jok truk, Faisal kembali dilamun masa lalu. Membayang wajah ibu dan adik perempuannya, Nuraini. Wajah yang bertahun-tahun dirindukannya.  Ia pun digelisahkan dengan beragam kata-kata di dalam hatinya. Pasti Emak sudah semakin tua. Semakin renta. Dan Nuraini, tentu sudah gadis dewasa. Bahkan mungkin sudah bersuami.
Kemudian membayang pula wajah Rohana. Membayang senyumnya yang lembut. Membayang tatap matanya yang teduh. Rohana, gadis sedesanya yang manis, tempat hati dan cinta remajanya ditambatkan. Gadis yang sudah memaut hatinya sejak kelas dua SMA. Sekitar dua tahun ia menjalani hari-hari penuh cinta dengan Rohana, sampai akhirnya ia berangkat ke Jawa.
Faisal ingat, ketika ia berpamitan akan merantau dulu, Rohana menangis terisak-isak. Menangis sedih. Menangis pilu. Wajahnya basah oleh air mata. Dan, isaknya sungguh mengharukan. Sampai-sampai ia pun ikut meneteskan air mata.
“Kalau Bang Faisal pergi, bagaimana dengan Rohana? Bagaimana dengan diri Rohana, Bang?” kata Rohana ketika itu di antara isak-isak tangisnya.
“Sudahlah Ana, jangan menangis. Abang mau pergi merantau. Mau pergi merubah nasib di rantau orang. Jagalah diri Ana baik-baik,” Faisal ingat kata-kata inilah yang dulu diucapkannya kepada Rohana.
Ah, Rohana, bagaimana dia sekarang? Apakah dia masih seperti dulu? Masih setia menunggu? Atau sekarang, sudah ada lelaki lain yang menjadi pendamping hidupnya? Faisal digelisahkan beruntun tanya di hatinya.
Pratu Hamdan yang mengemudikan truk agak memperlambat laju truk.
“San, kita sudah memasuki kawasan pemukiman penduduk,” kata Hamdan seraya kakinya memijak rem karena jalanan di depan dilihatnya berlubang-lubang.
Faisal tersentak. Kata-kata Hamdan itu telah menyadarkannya dari lamunan panjang. Ia melihat ke kiri dan kanan jalan. Rumah-rumah penduduk yang disaput gelap terlihat sedang dipagut sunyi.
“Mengapa desa ini jadi begini sunyi? Mengapa jadi sunyi sekali? Padahal hari masih sore, belum terlalu malam lagi. Ah, desa ini seperti tidak berpenduduk saja,” Faisal seperti berkata dengan dirinya sendiri.
“Bukankah beberapa hari lalu ada penghadangan dan kontak senjata di sini. Dan, beberapa penduduk desa ini ikut jadi korban, tertembak. Di antara korbannya, ada dua orang perempuan,” ujar Hamdan.
Faisal terhenyak.
“Jangan-jangan kedua perempuan itu Emak dengan Nuraini. Atau Rohana……”
Faisal dicabik gelisah. Gelisah yang dahsyat.  Sementara di kejauhan terdengar lagi suara burung gagak mengoyak malam.***
                                                                 (Pembuka dari sebuah kisah - 2012)

(Dimuat tabloid TeRAS edisi minggu terakhir November 2012)
Gelisah Faisal
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

DESA itu seperti sedang disergap malam. Suara burung gagak di pucuk pepohonan ikut mencekam. Dan, di kejauhan, di jalanan menuju desa, sebuah truk menembus gelap malam.
Sekitar duapuluh orang berseragam dan bersenjata lengkap terguncang di dalam truk. Mereka semua bersiaga. Mata-mata mereka berkeliling, ke kiri-kanan jalan, ke depan dan  belakang truk, bagai mencari-cari sesuatu yang dicurigai di balik-balik gerumbul semak, di balik-balik rimbun pepohonan, di balik gelap malam.
Lampu truk itu menyorot tajam ke depan. Cahayanya yang terang seakan melalap apa saja yang ada di jalan. Mata pengemudinya senantiasa lurus ke depan, seperti mata elang, seakan tak pernah berkedip sedikitpun. Akan halnya, di samping sopir truk itu, Sersan Satu Faisal sedang bergelut dengan perasaan dan kenangannya.
Tujuh tahun lamanya sudah ia tidak pernah melewati jalan ini. Padahal dulu setiap hari ia melewati jalan ini, pergi dan pulang sekolah. Setiap hari ia pulang-pergi dari desanya ke kota kabupaten. Dulu, untuk sampai ke kota, ia memerlukan waktu sekitar satu jam dari desanya, dengan mengendarai sepedamotor tua.
Sepedamotor tua itu merupakan hadiah dari ayahnya ketika ia naik ke kelas tiga SMA. Sebelumnya ia harus bersepeda dulu sampai ke desa tetangga, kemudian menitipkan sepedanya di sebuah warung, baru melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkutan colt penumpang.
Sebagai seorang pendidik, ayahnya sangat berharap agar setamat SMA ia bisa melanjutkan kuliah sampai ke perguruan tinggi. Tapi harapan ayahnya tak pernah kesampaian. Dua bulan menjelang tamat SMA, ayahnya yang merupakan tumpuan keluarga mendadak sakit dan meninggal. Niat untuk kuliah pun diurungkan.
Ia pun kemudian merubah niatnya. Keinginan untuk kuliah dikuburnya dalam-dalam. Niat yang kemudian muncul adalah mencari kerja, dan pergi dari desanya, merantau ke tempat lain untuk mencari pengalaman hidup. Tangis ibu dan adik perempuan semata wayangnya yang waktu itu masih duduk di kelas dua SMP tak kuasa membendung tekadnya. Ia tetap pergi.
Dengan berbekal uang hasil penjualan sepedamotor tua miliknya, ia berangkat ke ibukota provinsi. Di kota provinsi ia berkenalan dengan seseorang yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Lelaki separuh baya yang baru saja menjengguk keluarganya di kota provinsi itu mengajaknya ikut ke Semarang. Tentu saja ajakan itu diterimanya dengan sukacita. Jalan untuknya pergi merantau jauh sudah terbuka.
Setelah setahun di Semarang dan tinggal di rumah lelaki yang mengajaknya itu, ia tertarik pada pembukaan pendaftaran bintara TNI Angkatan Darat. Kebetulan lelaki yang diikutinya juga memberikan dorongan agar ia mendaftar. Ia pun mendaftar untuk jadi tentara. Keinginannya dikabulkan Tuhan. Ia diterima. Ia ditempatkan pada salah satu batalyon infantri di Jawa Tengah. Pendidikan demi pendidikan kemiliteran diikutinya. Tanpa terasa sudah enam tahun ia menjadi tentara, dan kini berpangkat Sersan Satu.
Kini ia kembali ke desa ini. Tapi bukan kembali untuk melepas rindu. Ia kembali demi tugasnya sebagai militer. Daerah ini, termasuk desa kelahirannya, sedang menjadi daerah konflik. Ada kelompok perlawanan di sini. Kelompok perlawanan yang ingin memisahkan diri dengan negara. Dan, kelompok perlawanan itu harus ditumpas.
Tiba-tiba sebatang dahan kayu roboh dan melintang di tengah jalan. Sopir truk menginjak rem keras-keras. Sersan Faisal terkejut. Suara gemuruh dahan kayu yang jatuh dan bunyi rem yang diinjak mendadak telah membuyarkan lamunannya.
Jalanan jadi gelap. Pekat. Tidak ada setitik sinar pun yang menjatuhkan cahayanya di jalan itu.
Faisal yang diberi tugas menjadi komandan patroli memerintahkan anak buahnya untuk segera turun dari truk, dan memeriksa apa yang melintang di jalan. Empat orang bergerak cepat dan taktis ke depan. Sementara lainnya mengawasi sekeliling.
“Hanya sebatang dahan kayu kering,” seru salah seorang yang bergerak ke depan.
Jalan yang menuju ke desa itu seperti tidak punya suara kehidupan. Satu-satunya yang terdengar hanya deru mesin truk yang memecah sunyi malam.
Di jok truk, Faisal kembali dilamun masa lalu. Membayang wajah ibu dan adik perempuannya, Nuraini. Wajah yang bertahun-tahun dirindukannya.  Ia pun digelisahkan dengan beragam kata-kata di dalam hatinya. Pasti Emak sudah semakin tua. Semakin renta. Dan Nuraini, tentu sudah gadis dewasa. Bahkan mungkin sudah bersuami.
Kemudian membayang pula wajah Rohana. Membayang senyumnya yang lembut. Membayang tatap matanya yang teduh. Rohana, gadis sedesanya yang manis, tempat hati dan cinta remajanya ditambatkan. Gadis yang sudah memaut hatinya sejak kelas dua SMA. Sekitar dua tahun ia menjalani hari-hari penuh cinta dengan Rohana, sampai akhirnya ia berangkat ke Jawa.
Faisal ingat, ketika ia berpamitan akan merantau dulu, Rohana menangis terisak-isak. Menangis sedih. Menangis pilu. Wajahnya basah oleh air mata. Dan, isaknya sungguh mengharukan. Sampai-sampai ia pun ikut meneteskan air mata.
“Kalau Bang Faisal pergi, bagaimana dengan Rohana? Bagaimana dengan diri Rohana, Bang?” kata Rohana ketika itu di antara isak-isak tangisnya.
“Sudahlah Ana, jangan menangis. Abang mau pergi merantau. Mau pergi merubah nasib di rantau orang. Jagalah diri Ana baik-baik,” Faisal ingat kata-kata inilah yang dulu diucapkannya kepada Rohana.
Ah, Rohana, bagaimana dia sekarang? Apakah dia masih seperti dulu? Masih setia menunggu? Atau sekarang, sudah ada lelaki lain yang menjadi pendamping hidupnya? Faisal digelisahkan beruntun tanya di hatinya.
Pratu Hamdan yang mengemudikan truk agak memperlambat laju truk.
“San, kita sudah memasuki kawasan pemukiman penduduk,” kata Hamdan seraya kakinya memijak rem karena jalanan di depan dilihatnya berlubang-lubang.
Faisal tersentak. Kata-kata Hamdan itu telah menyadarkannya dari lamunan panjang. Ia melihat ke kiri dan kanan jalan. Rumah-rumah penduduk yang disaput gelap terlihat sedang dipagut sunyi.
“Mengapa desa ini jadi begini sunyi? Mengapa jadi sunyi sekali? Padahal hari masih sore, belum terlalu malam lagi. Ah, desa ini seperti tidak berpenduduk saja,” Faisal seperti berkata dengan dirinya sendiri.
“Bukankah beberapa hari lalu ada penghadangan dan kontak senjata di sini. Dan, beberapa penduduk desa ini ikut jadi korban, tertembak. Di antara korbannya, ada dua orang perempuan,” ujar Hamdan.
Faisal terhenyak.
“Jangan-jangan kedua perempuan itu Emak dengan Nuraini. Atau Rohana……”
Faisal dicabik gelisah. Gelisah yang dahsyat.  Sementara di kejauhan terdengar lagi suara burung gagak mengoyak malam.***
                                                                 (Pembuka dari sebuah kisah - 2012)

(Dimuat tabloid TeRAS edisi minggu terakhir November 2012)

Minggu, 19 Agustus 2012


            BULAN DI MALAM LEBARAN

            Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

PESANTREN tempatku belajar mengaji Al-Quran setiap sore itu sebenarnya lebih pantas disebut sebagai madrasah biasa. Bangunannya sederhana, tidak terlalu besar, dan ruangannya pun hanya ada tiga lokal. Setiap lokal idealnya hanya untuk 35 sampai 40 orang. Tapi kenyataannya, di pesantrenku, setiap lokal dijejali murid atau santri sampai 50 orang lebih.  Pengajarnya pun hanya tiga orang, Ustadz Nurdin dibantu isterinya, Ustadzah Syarifah, dan Ustadz Maksum.
Di kampungku, Pesantren Al-Islam itu satu-satunya sekolah agama. Para santri di pesantren ini hanya diberi pelajaran tentang agama. Tentu saja pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan Islam. Seperti membaca Al-Quran, tafsir Al-Quran, pengetahuan tentang hadist, fiqih, tarikh, dan lainnya.
Selama bulan Ramadhan, kegiatan di pesantren berlangsung sampai malam hari. Ada buka puasa bersama, dilanjutkan sholat tarawih berjamaah yang diisi pula dengan ceramah-ceramah keagamaan, serta tadarus Al-Quran.
Menurut cerita beberapa tetua di kampung, dulu, setelah mendengar banyak cerita tentang pesantren di Jawa, orang-orang di kampungku pun rindu punya pesantren. Karenanya, ketika ada yang mendirikan sekolah agama, warga kampung beramai-ramai sepakat menyebutnya sebagai pesantren. Mereka tak mau menyebutnya hanya sebagai madrasah.
Seperti pernah diuraikan Ustadz Nurdin, kalau di Jawa, yang dinamakan pesantren atau seringpula disebut pondok pesantren adalah suatu komplek yang di dalamnya tidak hanya terdapat bangunan untuk mengaji saja, tetapi juga terdapat masjid, rumah kyai, dan asrama para santri. Bahkan terdapat juga warung-warung yang menyediakan berbagai macam kebutuhan santri.
Tetapi di komplek pesantrenku yang sederhana itu, yang ada hanyalah bangunan untuk belajar mengaji dan sebuah surau. Tak ada rumah kyai. Tak ada asrama santri. Rumah Ustadz Nurdin berada di luar komplek pesantren. Jaraknya dari pesantren sekitar 500 meter. Biasanya, dari rumahnya yang tak terlalu jauh itu, Ustadz Nurdin berangkat ke pesantren dengan mengayuh sepeda.
Sedang para santri, hampir seluruhnya berasal dari kampungku yang tempat tinggalnya masih berdekatan dengan komplek pesantren. Hanya ada beberapa santri saja yang berasal dari kampung tetangga.
“Kalau di Jawa, santri-santri seperti kalian ini namanya santri kalong,” kata Ustadz Nurdin suatu ketika di depan para santri.
“Santri kalong? Santri apa itu, Ustadz?” aku mencoba memberanikan diri bertanya.
“Santri di pondok pesantren itu biasanya terbagi dalam dua kelompok, yakni santri mukim dan santri kalong. Santri mukim itu sebutan untuk para santri yang tinggal atau menetap di asrama santri yang ada di pesantren. Biasanya, santri mukim ini berasal dari kampung-kampung atau daerah-daerah yang jauh dari lokasi pondok pesantren. Sedang santri kalong adalah santri-santri yang berasal dari kampung-kampung di sekitar pesantren, yang bolak-balik dari rumahnya ke pesantren, dan tidak tinggal di asrama santri,” jelas Ustadz Nurdin.
“Kenapa disebut kalong, Ustadz? Padahal, kalong kan sejenis dengan kelelawar yang binatang malam itu?” tanyaku lagi.
Para santri lainnya tertawa mendengar pertanyaanku.
“Saya sendiri pun sampai hari ini masih belum tahu, kenapa santri-santri yang tidak tinggal di pesantren disebut santri kalong,” jawab Ustadz Nurdin seraya tersenyum.
Sejak diperkenalkan oleh Ustadz Nurdin, istilah ‘kalong’ dan ‘kelelawar’ menjadi populer sebagai bahan gurauan di kalangan para santri, terutama santri remaja. Arifin yang rambutnya keriting misalnya, selalu dijuluki kelelawar keriting. Marwan yang badannya gelap sering dipanggil kekelawar keling. Dan, santri-santri perempuan yang cantik, mendapat julukan kelelawar cantik.
***
DAN, malam ini, ‘kelelawar cantik’ itu berdiri di depanku. Ya, Zamilah yang ‘kelelawar cantik’ itu sudah berada sekitar satu meter di depanku, selang beberapa menit aku bersama Furqon, teman kentalku, keluar dari surau setelah selesai mengikuti acara takbiran bersama menyongsong datangnya Idul Fitri esok pagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap malam Lebaran tiba, seusai sholat Isya para santri dipimpin langsung oleh Ustadz Nurdin bersama-sama melantunkan kumandang takbir.
Furqon mencuil lenganku, memberi tanda kalau ada Zamilah. Dadaku berdegup ketika Zamilah tersenyum. Betapa tidak. Baru saja sehabis buka bersama di serambi surau senja tadi, aku dan Furqon membicarakan dirinya, kini dia sudah berada di depanku. Tersenyum pula. Senyum itu terlihat jelas, selain karena bantuan cahaya lampu di teras surau, juga berkat cahaya bulan yang sedang berada persis di atas surau.   
“Ke mana rencanamu di hari pertama Lebaran besok? Tak ada rencana bersilaturahim ke rumah Pak Haji Mahmud, ayahnya Zamilah itu?” inilah pertanyaan Furqon sehabis berbuka tadi.
“Aku takut, Fur. Nanti aku diusirnya lagi seperti dulu. Kau masih ingat kan, bagaimana malam itu ia begitu marah kepadaku, hanya karena aku mengantarkan Zamilah pulang dari acara malam Israq Mi’raj di pesantren,” dan, aku ingat inilah jawabanku tadi.
“Kenapa kaujadi penakut seperti ini? Kenapa menjadi lemah tak berdaya? Ayo, cinta itu harus diperjuangkan! Ibaratnya, sekali pun ada lautan api yang menghadang, kauharus tetap menyeberanginya. Tunjukkan kepada Pak Haji Mahmud itu bahwa kau benar-benar jatuh cinta pada anak gadisnya, Zamilah itu,” kata Furqon lagi.
Lamunanku mendadak buyar, dan aku tergagap, ketika tiba-tiba Zamilah berkata, “Kenapa ni, diam terpaku seperti itu? Terkejutkah dengan kehadiran Milah di sini?”
Aku pun seketika bagaikan kehilangan kata-kata, tak tahu harus berkata apa. Seakan-akan di kerongkonganku ada batu tajam yang menyekat, membuat aku seperti sulit untuk berkata, walau hanya sepatah kata sekali pun. Untunglah Furqon, cepat memahami hal itu. “Bagaimana tak terkejut, Mil. Kami baru saja membicarakan tentang Milah. Dia ni menanyakan, kenapa Milah sekarang semakin sombong……,” ujar Furqon seraya telunjuk jari tangannya tertuju kepadaku.
“Siapa bilang Milah sombong. Buktinya, sekarang Milah ada di sini. Ada di depan Bang Arman dan Bang Furqon,” kata Zamilah lembut, dan dalam waktu bersamaan dari cahaya lampu di teras surau, maupun cahaya bulan di atas surau, terlihat jelas senyumnya juga begitu lembut, sejuk.
Kegugupanku mulai reda. Suara degup di dadaku pun terasa kembali beraturan. Aku pun mulai menyusun kata-kata.
“Mau ke mana, Milah?” serangkai tanya singkat inilah yang mampu terucap dariku setelah kegugupan dan degup di dada itu benar-benar mereda.
“Tak ke mana-mana. Milah sengaja ke sini, mau jumpa Bang Arman,” ucapnya dengan senyum tak juga hilang.
Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Betapa tidak. Kata-kata yang diucapkannya itu di luar dugaanku. Ingin jumpa denganku?! Hah, ada apa gerangan?  Beruntun tanya seketika muncul di benakku. Dadaku kembali berdegup. Tapi tidak begitu kencang.
Spontan aku mengarahkan pandangan ke Furqon. Furqon tampak tersenyum seraya mengernyitkan mata kirinya.
“Ada apa Milah? Sepertinya serius betul,” tanyaku sambil menahan degup di dada.
“Tampaknya, ada hal yang menggembirakan ni…..,” timpal Furqon.
Tak bisa kupungkiri, dadaku berdegup juga menunggu jawaban Zamilah.
“Bang Furqon bisa meninggalkan kami sekejap. Milah hanya ingin bercakap berdua dulu dengan Bang Arman. Setelah selesai nanti, Bang Furqon bisa segera kemari lagi,” Zamilah kemudian berkata begini kepada Furqon.
“Alahmak, ada masalah penting dan rahasia rupanya, sehingga orang lain pun tak boleh tahu,” seru Furqon cepat.
“Sudahlah, menjauhlah dulu Fur,” pintaku pula.
Seraya meninggalkan tawa, Furqon pun melangkah meninggalkan kami.
“Ada apa Milah?” tanya ini kuulang lagi setelah Furqon menjauh.
“Milah hanya ingin menyampaikan pesan dari Abah,” ujarnya.
“Pesan dari Abah? Abahnya Milah?”
“Ya, dari Abah Milah.”
Pesan apa?! Koq?! Dadaku berdegup lagi.
“Abah berpesan, agar besok Bang Arman datang ke rumah. Terserah Bang Arman, mau datang sesudah sholat Ied, siang, petang atau malam,” kata Milah kemudian, sebelum aku sempat bertanya lagi.
Aku terdiam sesaat. Pesan Pak Haji Mahmud itu mengejutkan dan menggelisahkanku. Ada apa ini?! Sementara di sekitar bangunan surau, para santri tampak sibuk mempersiapkan diri untuk pulang. Di sisi selatan surau, Furqon tampak pula sedang berbincang-bincang dengan beberapa santri lainnya. Dan, di atas surau, yang juga di atas pesantren, bulan masih mengirimkan cahaya indahnya.
“Kenapa Abah berpesan begitu, Mil?! Apa Abah akan memarahi abang lagi?” tanyaku bernada heran.
“Baiklah, agar Bang Arman tak penasaran dengan pesan Abah itu. Milah kasi bocoran. Tapi, bocorannya sedikit saja ya, Bang. Begini, Bang Ar masih ingat ketika sehabis malam Israq Mi’raj itu, kan? Ketika Bang Ar dimarahi habis-habisan oleh Abah, gara-gara mengantar Milah pulang sampai ke depan pintu rumah itu. Nah, ternyata menjelang Ramadhan tiba, Abah dapat informasi bila Bang Arman mengantarkan Milah pulang malam itu karena disuruh oleh Ustadz Nurdin, dan bukan karena keinginan Abang sendiri. Tak tahu siapa yang memberitahu informasi itu. Mungkin juga Ustadz Nurdin sendiri yang memberitahukannya. Setelah tahu, bahwa Bang Ar mengantarkan Milah karena menjalankan perintah Ustadzs Nurdin, Abah sepertinya menyesal telah marah sama Abang. Karena itulah Abah ingin bertemu dengan Bang Arman di saat Lebaran besok,” jelas Zamilah.
***
PESANTREN dan juga surau sudah mulai menyepi, tak seramai tadi. Di dalam surau hanya tinggal lima orang santri saja. Mereka secara bergantian masih tetap mengalunkan gema takbir. Zamilah sudah pulang bersama santri-santri putri yang lain, sekitar setengah jam lalu. Ustadz Nurdin, serta ustadz-ustadz lainnya juga sudah pulang.
Aku dan Furqon masih duduk di bangku panjang, di bawah pohon jambu merah, tak jauh di depan surau. Furqon sesekali menyenandungkan gema takbir dengan lirih. Sedangkan aku, tak henti-hentinya memandang ke arah bulan, walau posisinya sudah bergeser, tak lagi tepat di atas surau seperti tadi. Cahaya bulan di malam Lebaran itu telah mendorong semangatku untuk pagi-pagi sesudah sholat Idul Fitri segera ke rumah Pak Haji Mahmud, ayahnya Zamilah. Cahaya bulan itu telah membuat hidupku kembali bergairah. ***
                                                                                          Yogya, Agusus 2012
BIODATA

                Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Sejak 1972 menetap di Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi dan novel. Karya-karyanya yang sudah terbit di antaranya novel Surau Tercinta (Navila, 2002), Dendang Penari (Gita Nagari, 2003), Gelisah Cinta (Binar Press, 2005), kumpulan cerpen “Langit Biru Bengkalis” (Surat Emas Pustaka, 2010), kumpulan puisi Risau (Pabrik tulisan, 1976), Emas Kawin (Renas, 1979), dan puisi-puisi terhimpun pada sejumlah antologi puisi di antaranya Tugu, Dermaga I, Dermaga II, Merapi Gugat, Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia, dllnya. *

           *** Dimuat Harian "SUARA KARYA", edisi Sabtu, 18 Agustus 2012.


Sabtu, 02 Juni 2012

TERHENYAK Cerpen : Sutirman Eka Ardhana

    TERHENYAK
    Cerpen : Sutirman Eka Ardhana

    PERNAHKAH kau merasakan keterkejutan seperti yang kurasakan ini?  Pernahkah kau terhenyak dan gugup sedahsyat ini? Pernahkah kaualami peristiwa seperti yang  kualami? Peristiwa yang tak pernah kuduga dan tak pernah kubayangkan akan terjadi di saat usiaku sudah mulai merambat tua.
Gadis itu masih duduk di depanku. Dia cantik. Usianya sekitar 20 tahunan lebih. Matanya yang tak berhenti menatapku, bagaikan ujung sebilah belati yang tajam berkilau. Aku bagaikan seorang pesakitan, atau seorang terdakwa yang terhenyak tak berdaya di depan hakim. Di depan gadis itu, aku benar-benar kehilangan daya.
Sehari sebelumnya ia meneleponku. Tak kutahu, entah dari mana ia memperoleh nomor hp-ku. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswi yang mengikuti mata kuliahku di kampus. Ia mengatakan keinginannya untuk bertemu denganku.
“Ya, kita bisa ketemu besok di kampus,” ini jawabku.
“Tapi, saya tidak ingin bertemu di kampus, Pak. Saya ingin bertemu di luar kampus saja,” katanya cepat menanggapi jawabanku itu.
“Koq…serius banget. Ada masalah apa? Sepertinya penting sekali?” ujarku heran.
“Ada hal sangat penting yang ingin saya sampaikan ke Bapak,” katanya lagi.
Meski dadaku dijejali beragam tanda tanya dan rasa penasaran, akhirnya kupenuhi permintaannya itu. Disepakati kami bertemu sore hari di café ini.
Aku datang lebih dulu di café. Lalu mengambil posisi di meja paling sudut, yang tak jauh dari pintu masuk.  Sembari duduk, sambil mendengarkan alunan musik lembut di café ini, pandanganku tak henti-hentinya tertuju ke arah pintu masuk, mencari tahu siapa gerangan mahasiswi yang ingin bertemu denganku itu.
Waitres yang mengantarkan segelas coklat hangat pesananku baru saja berlalu, ketika aku dikejutkan dengan kemunculan seorang gadis muda di depanku.
“Sudah lama, Pak?” tanyanya seraya tersenyum. Dan, senyum itu manis. Manis sekali. Seperti sebuah senyum yang datang dari masa lalu.
“Oh…., kamu yang ……?” tanyaku tergagap.
“Ya …., saya yang …..kemarin menelepon Bapak. Maaf…., kemarin saya mengaku sebagai ….. mahasiswi Bapak. Tapi….. itu terpaksa saya lakukan, agar bisa bertemu dengan Bapak,” entah mengapa gadis itu menjawabnya dengan agak terbata-bata, sambil menarik kursi dan duduk.
“Lho, sebenarnya kamu ini siapa?” sebenarnya tanyaku ini bisa meninggi, tapi begitu melihat wajahnya, aku terpaksa menurunkan volume atau tekanan suara.
Gadis itu  diam sesaat. Tapi pandangan matanya tetap tertuju ke arahku. Di balik pelupuk matanya seperti ada yang coba ditahannya.
“Itulah yang ingin saya katakan kepada Bapak sore ini. Saya berharap Bapak bersedia mendengarkannya,” ujarnya kemudian, dan bola matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mengangguk pelan, sebagai tanda mempersilakannya untuk mengutarakan apa yang ingin dikatakannya.
“Apakah Bapak masih ingat dengan seorang perempuan bernama Miranti?” tanya gadis itu pelan.
Sekalipun pelan, tapi pertanyaan itu telah membuatku tergagap dan terhenyak.
“Apakah Bapak masih ingat dengannya? Dengan Miranti itu?” ulangnya lagi.
Ya, tentu saja aku ingat! Miranti, sebuah nama yang pernah mengukir cerita indah di dalam hatiku.
“Bagaimana, Pak? Ingat?” kejarnya.
“Ya….,” jawabku lirih, nyaris tak terdengar.
“Syukurlah, kalau Bapak masih mengingatnya. Dan, satu hal yang perlu Bapak ketahui, saya adalah anaknya. Anak perempuan yang diakui oleh lelaki lain yang baik hati sebagai anaknya, sekali pun sesungguhnya lelaki yang seharusnya menjadi ayah kandungnya itu bernama  Ardhian Suherman,” pelupuk mata gadis itu terlihat jelas tak mampu membendung luapan air mata ketika mengatakan hal ini.
Rentetan kata-kata gadis itu bagaikan sambaran petir yang menggelegar dahsyat di telingaku. Betapa tidak. Nama Ardhian Suherman yang disebutnya itu adalah namaku. Jadi??!! Kalau begitu dia….??!! Beribu tanya saling bergebalau di hatiku. Dadaku sesak.
 “Lelaki yang baik hati itu bernama Sumarwan. Dialah yang menjadi suami ibu saya, Miranti. Dan, dia jugalah yang telah membesarkan dan mengakui saya sebagai anaknya sendiri. Tapi setahun lalu lelaki yang sangat saya hormati dan sayangi itu telah berpulang. Setengah tahun kemudian, ibu saya, Miranti, menyusulnya berpulang ke sisi Allah. Seminggu sebelum meninggal, ibu menceritakannya semua kepada saya. Menceritakan siapa saya sesungguhnya. Menceritakan siapa sesungguhnya ayah kandung saya. Ibu bercerita, ketika saat kehamilannya diketahui, ia berharap lelaki bernama Ardhian Suherman itu datang. Tetapi setelah ditunggu sekian lama, lelaki itu tetap tak pernah datang. Sehingga kemudian datanglah, lelaki bernama Sumarwan, yang katanya merupakan sahabat dekat Ardhian Suherman, dan menyatakan kesediaannya untuk menikahi. Ibu juga sempat berpesan, agar saya mencari lelaki bernama Ardhian Suherman itu, dan menyampaikan semua kisah ini,” gadis itu menarik napasnya dalam-dalam sambil menyeka air mata di pipinya.
Aku terhenyak dahsyat. Bahkan juga terhempas sangat dahsyat. Terhempas dari ketinggian yang tak terkira. Terhempas dan terpuruk ke lubang bumi yang dalam dan penuh bebatuan tajam. Bebatuan tajam dan keras itu bagai menghimpit tubuhku. Rongga dadaku seperti remuk. Aku seperti sulit bernapas. Dan, aku benar-benar seperti kehilangan daya untuk memandang dalam-dalam wajah gadis yang mengaku anakku itu. .
Aku tak bisa mengingkari semua itu. Miranti benar. Setelah malam penuh cinta dan nafsu itu, aku memang tak pernah datang lagi menemuinya. Ketika itu begitu cepat semuanya berubah. Dan, Sumarwan, sahabat karibku, ternyata dialah yang telah menyelamatkan Miranti.
“Sudah ya, Pak. Saya lega, sudah bisa melaksanakan pesan dari ibu saya untuk menemui Bapak dan menceritakan semuanya. Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu kehidupan Bapak, saya hanya sekadar ingin melaksanakan pesan ibu saya. Itu saja. Tapi, kalau Bapak ingin mengatakan sesuatu, mungkin ingin membantah atau menyanggah cerita itu, Bapak bisa menghubungi saya. Ini alamat rumah, dan nomor hp saya,” kata gadis itu, seraya berdiri, kemudian meletakkan sehelai kartu nama di atas meja, dan kemudian melangkah pergi.
Aku terpana. Tak tahu harus berbuat apa-apa. Aku benar-benar kehilangan daya.
“Ya Allah, beri aku jalan keluar. Atau beri aku hukuman yang setimpal untuk itu semua,” hanya ini yang terucap dari mulutku setelah adzan mahgrib terdengar mengejutkan keterpakuanku.                                      
                                                                         Yogya, Mei 2012

(Dimuat: Harian "MERAPI" - Yogyakarta, edisi Minggu, 3 Juni 2012)