Kamis, 22 Oktober 2015

PASAR KEMBANG (1)



          


              PASAR KEMBANG
          Wajah Yogya yang Buram  (1)
             Oleh: Sutirman Eka Ardhana dan Heniy Astiyanto

            MALAM baru saja turun di Yogya. Jalan Pasar Kembang yang membentang dari timur ke barat di sebelah selatan Stasiun Kereta Api Tugu itu tampak ramai. Pemakai lalu-lintas dengan kendaraannya masing-masing bagai saling memburu malam yang dinginnya mulai terasa. Kendaraan-kendaraan itu kemudian membelok ke selatan dan hilang di jalan Malioboro.
            Tak hanya di jalanan. Kesibukanpun terlihat di sebelah utara jalan, di deretan warung-warung dan kios-kios penjual pakaian bekas. Seorang lelaki muda merangkul wanita yang juga muda dengan rambut tergerai sebahu menyeberang dari selatan dan masuk ke sebuah warung.
            Sementara di selatan jalan, lagu It's Only Make Believe, sebuah lagu lama yang dinyanyikan Conway Twitt berkumandang dari sebuahn pub. Tak jelas siapa yang menyanyikannya. Mungkin penyanyi di pub itu atau pengunjung pub yang sengaja mendendangkan suaranya di depan para tamu lainnya. Tapi yang jelas, suara lelaki yang menyanyikan lagu itu merdu juga.
            Beberapa belas meter di sebelah barat pub, tiga wanita muda tampak sedang bercanda gembira. Dandanan mereka tampak menor. Salah seorang di antaranya, yang rambutnya sebatas tengkuk mengenakan T-Shirt warna merah dan celana panjang model mutakhir berwarna gelap dengan tas tergantung di pundak kirinya. Entah apa yang dijadikan bahan canda mereka.
            Sekitar sepuluh meter dari ketiga wanita itu, di sebelah barat, seorang lelaki separuh baya berteriak, "Nik, kamu mau ke mana? Nanti kalau ada tamu yang mencari bagaimana?"
            "Tidak ke mana-mana kok, Pak. Cuma mau lihat suasana di jalan saja. Sebentar lagi saya sudah masuk ke dalam," jawab wanita yang mengenakan T-Shirt warna merah dan celana panjang yang ternyata bernama Nik itu.
            Tak seberapa jauh di sebelah barat lelaki yang berteriak itu terdapat sebuah gang yang masuk ke selatan. Di mulut gang ada sebuah gapura kecil, dan dua lelaki berusia sekitar empatpuluh tahunan berdiri di depannya. Tampaknya ada yang sedang mereka tunggu.
            Betul juga. Seorang lelaki muda yang datang dari arah timur berhenti depan gapura. Lantas dengan cekatan, salah seorang dari dua lelaki yang sedang bersandar di tiang gapura itu mendekat.
            "Mas, mau cari hiburan di dalam? Kalau mau, mari saya carikan. Jangan khawatir, pokoknya yang ada di dalam Pasar Kembang ini ditanggung memuaskan. Ada yang baru datang, Mas. Dari Semarang dan Jepara. Pokoknya, ditanggung siip!" kata-kata dari mulut lelaki itu keluar beruntun.
            Tak jelas apa yang dikatakan lelaki muda itu. Tapi kemudian ia melangkah masuk ke dalam gang diikuti lelaki yang mencegatnya di depan gapura. Dan beberapa menit kemudian, tubuh lelaki muda itupun hilang di balik tikungan gang, yang di dalamnya tergelar sosok lain dari warna kehidupan.
***
            GANG yang terkesan agak sempit itu memang menuju ke kawasan yang oleh lelaki di depan gapura tersebut disebut "Pasar Kembang".
            Pasar Kembang, inilah sebuah 'perkampungan' yang tak kalah populernya dengan Malioboro. Di Yogya, siapa yang tak kenal Malioboro, jalan yang penuh kebanggaan itu? Wajah Yogya yang asri, penuh damai, penuh pesona dan penuh keramahan, semua tercermin di Malioboro.
            Nama Pasar Kembang sejak puluhan tahun lalu terlanjur mematrikan kesan 'kelam' buat Yogya. Di kawasan ini pulalah, desah kehidupan Yogya yang 'hitam' menggeliat bersama aktivitas kehidupan lainnya.
            Kita selama ini seakan mempunyai kesepakatan untuk memandang dan berpendapat bahwa kehidupan yang hitam merupakan perilaku sosial yang menyimpang dari norma-norma sosial yang ada. Dan, pelacuran atau bisnis seks, merupakan salah satu dari perilaku sosial yang menyimpang itu.
            Ada ahli yang mengatakan, pelacuran atau prostitusi merupakan bentuk budaya manusia yang tergolong tua. Bahkan ada pula yang bilang, penyelewengan seks dengan beragam bentuk dan caranya, berusia sama tuanya dengan lembaga perkawinan yang dikenal dan dihormati manusia hingga kini.
            Di Yogya, bukanlah berlebihan bila ada yang mengatakan, bentuk penyelewengan seks sudah muncul bersamaan dengan lahirnya kota ini sekitar duaratus tahun lebih yang lalu. Tapi, munculnya Pasar Kembang sebagai kawasan khusus yang menyediakan wanita untuk 'komoditi jasa' yang pelayanan seksnya dihargai dengan lembaran uang itu baru terlihat pada beberapa puluh tahun terakhir.
            Jalan Pasar Kembang memang berada di kawasan Pasar Kembang. Tetapi, yang disebut kawasan Pasar Kembang, yang terletak persis di seberat barat jalan Malioboro itu, merupakan 'perkampungan' yang arealnya terdapat di wilayah kampung Sosrowijayan Kulon. (bersambung)

Senin, 19 Oktober 2015

KISI-KISI FOTOGRAFI JURNALISTIK 2015



            KISI-KISI FOTOGRAFI JURNALISTIK 2015

            1. Sejarah perjalanan  fotografi  tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ilmuiwan Arab yang bernama Al-Hazen. Pada abad ke-10, Al-Hazen sudah mengutarakan penemuannya mengenai  tehnik fotografi yang  sederhana, yakni melihat gerhana matahari melalui media ruangan gelap yang di dalamnya terdapat  lubang kecil (pinhole). Pernyataan atau penjelasan Al-Hazen itu kemudian dikembangkan secara lebih nyata lagi oleh seorang ahli fisika dan mate,matika  berkebangsaan Belanda, Reinerus Gemma-Frisius (1544), seorang ahli fisika dan matematika berkebangsaan Belanda. Apa yang dikemukakan Al-Hazen dan dikembangkan oleh Reinerus Gemma-Frisius itu kemudian terwujud di dalam kamera yang disebut obscura.
            2. Sejarah perjalanan dan perkembangan fotografi berikutnya antaralain: dibuatnya kamera metal yang pertama oleh Fiedrich Voigtlander pada tahun 1840, kemudian di tahun 1884 seorang ilmuwan Amerika, George Eastman, menemukan film fotografi yang menggunakan seluloid, yakni bahan ’plastik’ pertama buatan manusia. Seluloid ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Parkes, seorang ahli kimia Inggris, di tahun 1856.  Keberhasilan Eastman tidak berhenti disitu. Tahun 1891, bersama mitra kerjanya Hannibal Goodwin, ia telah memperkaya dunia fotografi lagi dengan memperkenalkan satu rol film yang dimasukkan ke dalam kamera dan digunakan pada siang hari. Sebelum itu, pada bulan Junmi 1888 Eastman telah memperkenalkan pula kamera berukuran kecil, yang disebutnya kotak ”Kodak”. Kamera Kodak temuan Eastman di masa itu, merupakan peralatan fotografi yang luar biasa. Kamera ini memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada peralatan sebelumnya.
            3. Peran karya fotografi di dalam jurnalistik tidak hanya sebatas bisa menjadi ‘penyampai atau pemberi informasi’, tapi juga bisa sebagai ‘mempercantik wajah’ media itu sendiri.
4. Bagi media pers, baik surat kabar maupun majalah, berita tulis dan berita foto (foto jurnalistik) mempunyai peran dan kekuatan yang sama. Berita tulis menyampaikan informasi dalam deskripsi verbal, sementara berita foto menyampaikan dalam deskripsi visual.
5. Di dalam kerja jurnalistik dikenal ada enam sifat foto jurnalistik. Keenam sifat yang dimiliki foto jurnalistik itu, meliputi: mudah dibuat, akurat, universal, visual, kompak, dan selalu aktual.
6. Foto memiliki  nilai informasi yang selalu aktual. Artinya, ni;ai informasi dan daya pesona yang dimiliki selembar foto akan senantiasa aktual atau ‘baru’ sampai kapanpun. Berbeda dengan nilai informasi dan daya pesona suatu berita (berita tulis) yang memiliki batas waktu tertentu, nilai informasi dan daya pesona foto memiliki batas waktu yang panjang.
7. Di dalam kerja jurnalistik selama ini dikenal ada tujuh jenis atau ragam foto jurnalistik. Ketujuh jenis foto jurnalistik itu meliputi: foto berita (spot news), foto human interest, foto esai, foto cerita, foto humar, foto feature, dan foto olahraga. Khusus untuk foto esai   adalah foto yang menghadirkan sejumlah aspek dari suatu masalah yang bisa menjadi bahan pembahasan, bahan analisa atau bahan kajian. Foto esai bisa hadir secara tunggal, atau secara berangkai. Misalnya, foto tentang kehidupan anak jalanan, foto siswa sekolah menengah di dalam komplek pelacuran, dll. Sedang foto cerita – adalah foto yang memiliki kesamaan dengan foto esai. Hanya bedanya, foto cerita yang hadir secara berangkai, tidak menghadirkan suatu informasi yang harus dibahas, dianalisa, dikaji atau diperdebatkan oleh pembaca yang melihatnya. Foto cerita hanya menyampaikan informasi secara apa adanya. Dan, foto cerita harus selalu faktual.
8. Foto human interest adalah foto yang menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan daya tarik manusiawi, atau foto yang berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Dengan kata lain, foto human interest adalah foto yang mampu menggugah emosi kemanusiaan kita yang melihatnya.
9. Foto feature adalah foto tunggal yang tidak sekadar memiliki nilai informasi, tapi juga menyampaikan suatu gagasan berharga pada orang yang melihatnya. Sekalipun hadir tunggal, foto feature bisa menghadirkan beragam penafsiran.
10. Meski memiliki kedekatan, tetapi ada perbedaan antara foto feature dan foto human interest. Perbedaannya, foto human interest hanya bicara atau menyampaikan tentang kehidupan manusia, sedang foto feature menampilkan semua warna kehidupan yang ada, dan tidak sebatas soal manusia. ***

KISI-KISI UTS MANAJEMEN REDAKSI



          KISI-KISI UTS MANAJEMEN REDAKSI

            1. Coba simak pertemuan ke-1 tentang Pengantar Manajemen Redaksi. Antara lain disebutkan di pertamuan bahwa manajemen redaksi adalah suatu proses perencanaan dan pengorganisasian kerja dalam kerja keredaksian di suatu media massa atau media pers demi tercapainya tujuan yang ingin dicapai media massa atau media pers tersebut.
            Di dalam Ensiklopedi Pers Indonesia disebutkan, media massa merupakan saluran yang digunakan oleh jurnalistik atau komunikasi massa. (Kurniawan Junaedhie, 1991).
            Tetapi secara umum juga diartikan, media massa adalah media yang menyampaikan produk-produk informasi, baik itu berbentuk informasi berita maupun tayangan-tayangan lainnya kepada publik (masyarakat).
            Dalam pengertian khusus, terutama di dalam kerja jurnalistik, media massa juga sering disebut sebagai media pers. Secara umum dipahami pula, bahwa media pers adalah media yang menyampaikan pesan dan informasi kepada publik melalui kerja jurnalistik.
            2. Disebutkan juga dalam pertemuan ke-1 bahwa media massa khususnya media massa cetak diterbitkan oleh Perusahaan Penerbitan Pers. Dan, produk Perusahaan Penerbitan Pers itu adalah informasi yang dikemas dalam bentuk surat kabar, baik terbit harian maupun mingguan, juga majalah, tabloid, dan lainnya. Di dalam Perusahaan Penerbitan Pers terdapat tiga bidang garap utama, yakni bidang redaksi, bidang produksi dan bidang usaha. 
            Bidang redaksi bertugas mempersiapkan isian produk informasi tersebut. Bidang produksi bertugas memproduksi produk sesuai kemasannya. Sedang bidang usaha bertugas memasarkan atau menjual produk informasi tersebut.
            Masing-masing bidang garap tersebut memiliki manajemen pengelolaan sendiri-sendiri, sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. Bidang redaksi misalnya, dimenej atau dikelola untuk bisa menghasilkan informasi-informasi yang baik dan menarik bagi publik atau pembaca. Proses perencanaan, penataan, pengelolaan dan pengorganisasian kerja untuk menghasilkan informasi-informasi yang baik, menarik dan disukai publik atau pembaca itulah yang kemudian disebut sebagai Manajemen Redaksi.
            3. Coba simak pertemuan kedua tentang Organisasi Redaksi yang menyebutkan bahwa Bidang Redaksi merupakan salah satu bidang kerja yang ada di dalam suatu perusahaan penerbitan media pers. Secara lengkap di dalam perusahaan penerbitan media pers, baik itu surat kabar, majalah, tabloid dan lainnya, terdapat tiga bidang kerja, yakni: 1. Bidang Redaksi. 2. Bidang Usaha. 3. Bidang Produksi.
            4. Masih di pertemuan ke-2 tentang Organisasi Redaksi, disebutkan bahwa di dalam organisasi kerja redaksi terdapat empat elemen utama, yakni Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur atau redaksi, dan reporter. Secara lengkap di elemen Pemimpin Redaksi terdapat juga Wakil Pemimpin Redaksi (dan di sejumlah media dilengkapi dengan Dewan Redaksi). Sedang di elemen reporter, di sejumlah media terdapat juga koresponden, pembantu khusus atau kontributor.
            Organisasi kerja redaksi atau bidang redaksi dipimpin oleh Pemimpin redaksi. Tugas utama Pemimpin Redaksi adalah mengendalikan kegiatan keredaksian yang meliputi penyajian berita, penentuan liputan, pencarian fokus pemberitaan, penentuan topik, pemilihan berita utama (headline), membuat tajuk (editorial), dan lain-lainnya lagi. Jadi, Pemimpin Redaksi bertugas atau bertanggungjawab menggerakkan semua roda kerja di organisasi redaksi atau bidang redaksi demi tercapainya target atau tujuan yang ingin dicapai oleh media massa tersebut.
            Redaktur Pelaksana bertugas atau bertanggungjawab membantu Pemimpin Redaksi dalam melaksanakan atau menggerakkan roda kerja keredaksian. Redaktur Pelaksana bertugas melaksanakan semua rencana dan kebijakan isian media sesuai dengan yang digariskan oleh Pemimpin Redaksi. Redaktur dalam melaksanakan kerjanya langsung bertanggungjawab kepada Pemimpin Redaksi.
            Redaktur bertugas atau bertanggungjawab dalam proses pengisian halaman atau bidang-bidang yang ada pada media massa (media pers). Tugas redaktur menerima, menyeleksi atau mengedit, sekaligus menentukan karya-karya jurnalistik dari reporter (wartawan) yang akan dimuat pada halaman atau bidang yang menjadi tanggungjawabnya.
            Sedang reporter atau wartawan bertugas atau bertanggungjawab dalam mencari dan mengumpulkan bahan informasi, kemudian mengolah atau membuatnya menjadi berita untuk dimuat di media pers.
            5. Coba simak pertemuan ke-4 tentang Manajemen Kerja Redaksi. Dalam pertemuan ini antara lain disebutkan mekanisme Rapat Redaksi. Rapat redaksi merupakan forum pertemuan jajaran redaksi suatu media pers dalam merencanakan, membahas serta menentukan isian media pers tersebut. Di media pers apa pun, setiap isian atau sajian informasi yang akan disampaikan ke publik (masyarakat), haruslah dirancang dan ditentukan (diputuskan) melalui forum rapat redaksi.
            6. Simak pula pertemuan ke-5 tentang Manajemen Peliputan dan Pengisian Media. Dalam pertemuan ini antara lain disebutkan bahwa secara umum di dalam kerja jurnalistik dikenal dua jenis peliputan. Pertama, peliputan yang direncanakan atau diagendakan. Kedua, peliputan yang tidak direncanakan atau tidak diagendakan.
            Untuk peliputan yang direncanakan dapat dibagi dalam lima jenis peliputan. 1. Peliputan berdasarkan waktu. 2. Peliputan berdasarkan isu. 3. Peliputan berdasarkan momen (hari besar). 4. Peliputan berdasarkan wilayah sirkulasi. 5. Peliputan berdasarkan marketing (iklan).
            Peliputan berdasarkan waktu adalah peliputan yang didasarkan pada kepentingan waktu terbit. Misalnya, surat kabar harian merencanakan isian atau sajian untuk penerbitan esok hari. Karena waktunya mendesak, maka peliputan dilaksanakan sesegera mungkin.
            Peliputan berdasarkan isu adalah peliputan yang direncanakan dan dilakukan berdasarkan isu atau permasalahan yang sedang berkembang dan menarik perhatian masyarakat.
            Peliputan berdasarkan momen (hari besar) adalah peliputan yang direncanakan dan dilakukan berdasarkan acuan pada peristiwa-peristiwa maupun hari-hari besar tertentu (hari besar atau bersejarah) yang memiliki nilai istimewa serta daya tarik bagi masyarakat.
            Peliputan berdasarkan wilayah sirkulasi adalah suatu peliputan yang direncanakan dan dilakukan berdasarkan target pengembangan wilayah sirkulasi atau wilayah edar media pers tersebut.
            Peliputan berdasarkan marketing (iklan) adalah peliputan yang direncanakan dan dilakukan berdasarkan kepentingan raihan iklan atau bisnis.
            7. Coba simak pula pertemuan ke-6 tentang Manajemen Berita. Dalam pertemuan ini antara lain disebutkab bahwa setidaknya ada empat hal utama yang harus diperhatikan dalam Manajemen Berita. Ke empat hal utama itu: 1. Objek. 2. Sasaran. 3. Tujuan. 4. Strategi.
            1). Objek berupa informasi atau isu yang dipilih.
            2). Sasaran berupa sasaran atau target yang akan dituju. Jadi kepada siapa atau untuk siapa informasi atau isu yang dipilih itu ditujukan. Sasaran bisa terbagi dua, sasaran umum dan sasaran khusus.
            3). Tujuan adalah untuk kepentingan apa informasi atau isu yang dipilih itu disajikan. Misalnya, menarik simpati publik (masyarakat), mempengaruhi publik (masyarakat), untuk kepentingan bisnis, atau kepentingan politik.
            4). Strategi adalah cara atau langkah yang akan dilakukan dalam memperoleh, mengolah serta menyampaikan informasi atau isu yang dipilih itu ke publik.
            8.  Di pertemuan ke-6 itu juga disebutkan bahwa manajemen berita pada suatu media itu tidak bisa lepas dari kepentingan politik media yang dimiliki media pers tersebut. Politik media adalah cara media mengekspresikan sikap dalam muatan pemberitaannya.
            9. Simak pula pertemuan ke-7 tentang Manajemen Opini. Dalam pertemuan ini disebutkan bahwa selama ini dikenal ada enam saluran opini, yakni: tajuk rencana (editorial), pojok, karikatur, surat pembaca dan artikel.
            Secara khusus di pertemuan itu disebutkan tentang Tajuk Rencana (editorial). Disebutkan, tajuk rencana merupakan pernyataan dan tanggapan dari media pers mengenai fakta dan opini yang ada dan sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Secara lengkap bisa disebutkan bahwa tajuk rencana adalah pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita yang menonjol.
            10. Masih di pertemuan ke-7, simak pula tentang proses pengelolaan karya opini yang berbentuk artikel. Karya opini berbentuk artikel pada media pers bisa berasal dari penulis di luar media pers maupun dari dalam media pers itu sendiri. Pemuatan suatu karya artikel di media pers itu melalui proses seleksi oleh redaktur yang bertanggungjawab (redaktur opini). Sering kali suatu karya artikel itu dipilih untuk dimuat, selain memang bahasan, kajian, analisis dan setruktur penulisannya bagus atau memenuhi standar penulisan, tetapi juga karena kesesuaiannya dengan kepentingan bisnis atau kepentingan politik yang ingin diraih media pers tersebut.

Selasa, 13 Oktober 2015

MENCARI JATI DIRI DI TANAH KELAHIRAN KEDUA



           


             MENCARI JATI DIRI DI TANAH KELAHIRAN KEDUA

                Sutirman Eka Ardhana

            Hidup adalah pengembaraan, mengembara dari gelisah ke gelisah, dari sunyi ke sunyi, dari rindu ke rindu. Dan, sebagai "anak pulau", hidup bagi saya juga ibarat sebuah jung atau sampan yang menyeberangi selat demi selat, laut demi laut, serta menyinggahi dermaga demi dermaga, pulau demi pulau.
            "Jung"! Ya, "Jung". Inilah judul puisi yang pertama kali saya tulis bersama empat judul puisi lainnya. Jung adalah perahu atau sampan kecil yang digunakan nelayan mencari ikan di laut atau selat. Selain itu, jung juga merupakan alat transportasi rakyat dari pulau ke pulau.
            Malam itu, suatu malam menjelang purnama pada 1968, Saya, berdua dengan seorang sahabat karib dan teman sekelas di kelas tiga SMP Negeri I Bengkalis, Surya Dharma, duduk di ujung boom atau pelabuhan. Malam itu kami berdua datang ke ujung boom, bukan sekadar untuk merasakan betapa lembutnya belaian angin Selat Bengkalis yang memisahkan Pulau Bengkalis dengan daratan Pulau Sumatera, atau sengaja menunggu purnama yang akan menyemburatkan cahayanya cahayanya di atas permukaan air laut. Tapi, kami berdua sengaja datang mencari inspirasi untuk menulis syair. Ya, menulis syair. Menulis puisi!
            Saya dan sahabat saya itu sedang tergoda pada salah satu acara di Radio Singapura (harap dimaklumi, ketika itu warga di kota saya lebih akrab dengan siaran Radio Malaysia dan Radio Singapura daripada dengan radio nasional sendiri). Di Radio Singapura setiap minggu sekali ada satu acara yang secara khusus menerima kiriman syair. Setiap minggu banyak sekali syair yang masuk, dan sebagian besar pengirimnya (hampir seluruhnya) berasal dari Malaysia dan Singapura sendiri. Dari sekian banyak syair itu akan dipilih beberapa judul (sekitar tiga dan empat judul) yang dikategorikan "terbaik". Selain dibacakan di udara, syair terbaik itu juga mendapatkan hadiah berupa ringgit (dolar) Singapura. Tak hanya itu saja, menurut sang penyiar, syair terbaik itu akan diserahkan ke pencipta lagu untuk dijadikan syair atau lirik lagu. Dan, layaknya seniman profesional, malam itu kami berdua datang ke ujung boom mencari inspirasin untuk menulis syair yang akan dikirimkan ke Radio Singapura.
            Ada lima judul puisi atau syair yang saya tulis di ujung boom malam itu. Saya ingat, tiga judul sudah selesai seluruhnya, salah satu di antaranya berjudul "Jung". Dua puisi lainnya berjudul "Hanya Teman Biasa" dan "Menunggu Malam" baru berupa konsep penuh coret-coretan, yang kemudian saya selesaikan di rumah.
            Dua hari kemudian kelima syair itu saya kirimkan ke Radio Singapura. Tak lama menunggu, dua minggu kemudian salah satu dari kelima syair itu pun mengudara di Radio Singapura. Syair atau puisi yang berjudul "Hanya Teman Biasa" dinyatakan sebagai salah satu syair terbaik minggu itu dan berhak mendapatkan hadiah.
            Saya sesungguhnya mengunggulkan serta mengharapkan "Jung" dan "Menunggu Malam" yang bisa mengudara di Radio Singapura itu. Tapi, tampaknya redaktur di acara Radio Singapura itu menilai puisi "Hanya Teman Biasa" yang lebih layak dan mengena bila dijadikan lirik lagu.
                                                                ***
            Perkenalan saya dengan dunia sastra sudah diawali sejak kecil meskipun baru sebatas berkenalan dengan pantun. Pantun Melayu, yang disebut sebagai salah satu bentuk puisi lama itu, sudah merasuk ke dalam denyut kehidupan, sejak saya mulai mengenal arti dan makna kata-kata.
            Di bangku sekolah, terutama saat di SMP, perkenalan dan pemahaman saya tentang dunia sastra agak sedikit meluas. Melalui pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, saya mulai mengenal Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji (1808-1873), yang merupakan sastrawan Melayu Riau terkemuka itu. Terlebih lagi, saya berulang kali disuruh maju ke depan kelas untuk membacakan Gurindam Dua Belas tanpa boleh melihat teks tulisannya. Menghafal Gurindam Dua Belas seakan-akan merupakan sesuatu yang wajib. Kemudianj, saya pun mulai mengenal nama sastrawan seperti Suman Hs, Amir Hamzah, Chairil Anwar, hingga ke novelis N.H. Dini.
            Suman Hs adalah sastrawan atau pengarang Pujangga Baru yang berasal dari Bengkalis, kota kelahiran saya itu. Bagi saya, sungguh sesuatu yang luar biasa, dari kota kecil yang terpencil sunyi di pulau kecil bernama Bengkalis itu, pada masa jauh sebelum kemerdekaan telah muncul seorang pengarang yang memperkenalkan nama Bengkalis melalui karyanya. Salah satu roman karya Suman Hs yang terkenal dan menjadi kesukaan saya adalah Menangkap Pencuri Anak Perawan.
            Tentang N.H. Dini, saya punya catatan khusus tentang novelis dan cerpenis kelahiran Semarang ini. Kalau ada yang bertanya karya prosa apa yang sangat berkesan dan berarti bagi saya, saya akan menjawab, "Novel Menangkap Pencuri Anak Perawan karya Suman Hs dan kumpulan cerpen Dua Dunia karya N.H. Dini."
            Di kota saya, Bengkalis, hanya ada satu toko buku (waktu itu). Tokonya kecil dan sederhana. yang terletak di deretan toko-toko kecil, tak begitu jauh dari kawasan boom atau pelabuhan. Toko buku kecil itu hanya menjual buku pelajaran sekolah, buku tulis dan perlengkapan sekolah lainnya. Tapi, suatu hari pada 1968, saya melihat beberapa novel dan kumpulan cerpen terpajang di etalasenya. Entah mengapa, saya hanya tertarik pada kumpulan cerpen Dua Dunia karya N.H. Dini yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Bukittinggi, Sumatera Barat (CV Nusantara). Menangkap Pencuri Anak Perawan dan Dua Dunia merupakan dua karya sastra yang pertama kali saya baca secara utuh di luar karya puisi Gurindam Dua Belas serta sejumlah puisi karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar.
            Karya-karya sastra itu hanya saya baca, saya kagumi, dan semua pesan ceritanya saya resapi dalam-dalam. Jujur saya akui, karya sastra itu memang mampu menanamkan rasa cinta dan suka terhadap sastra, tetapi belum membuat saya gelisah untuk mencoba  terlibat di dalamnya.
            Kalau boleh berterus terang dan berkata jujur, sesungguhnya acara pengiriman syair di Radio Singapura itulah yang pertama kali membuat saya gelisah berhari-hari dan membakar semangat untuk menulis. Menulis! Ya, menulis syair atau puisi! Acara di radio itu pula yang membuat saya rela berjam-jam duduk duduk di ujung pelabuhan, berdingin-dingin memandang laut, memandang riak gelombang yang keemasan diterpa cahaya purnama, dan memandang jung-jung menjauh dan hilang di kegelapan malam, demi mencari inspirasi untuk menulis puisi.
            "Jung" dan "Hanya Teman Biasa" memang telah mengawali pengembaraan sekaligus kegelisahan saya dalam bergelut dengan dunia sastra. Dan, "Jung" pulalah yang telah membawa saya untuk berlayar dan mengembara ke tempat yang lebih jauh lagi
                                                                     ***
            Setamat SMP saya meninggalkan kota kelahiran, Bengkalis. Saya berangkat ke Jawa dengan tujuan untuk melanjutkan sekolah. Sebelum sampai di Yogya, saya "berhenti" di Kebumen, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah. Tiga tahun saya tinggal di kota ini, yakni tahun 1969 sampai 1971.
            Tahun pertama tinggal di Kebumen, gairah menulis yang telah muncul semasa masih di Bengkalis seakan padam. Saya tidak berbuat apa-apa. Baru di tahun kedua, keinginan atau gairah untuk menulis itu kembali muncul. Ini semua berkat saja baik sahabat saya, Yunus Esbe (alm), asal Yogyakarta, yang setiap kali datang dari Yogya selalu membawakan majalah Basis, dan sejumlah buku sastra.
            Saya kembali gelisah. Kembali gelisah untuk menulis. Saya kembali mencoba menulis puisi. Ketika itu sebuah mingguan terbitan Bandung yang terpajang di kios koran menarik perhatian saya. Di mingguan itu (saya lupa namanya) terdapat rubrik sastra yang memuat cerpen dan puisi. Kemudian, puisi-puisi saya pun sering muncul di mingguan tersebut.
            Kegelisahan untuk kembali menulis itu membuat saya dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba mengarang tingkat SMTA se-Kabupaten Kebumen. Hasilnya sungguh menggembirakan. Saya menang di tingkat kabupaten. Lantas kemudian, saya dikirim ke Semarang untuk mengikuti lomba mengarang tingkat SMTA se-Jawa Tengah mewakili Kabupaten Kebumen.
            Setamat sekolah di Kebumen, saya mengembara di Yogyakarta. Saya mengawali pengembaraan di Yogya pada 1972. Yogya, dengan segala desah dan warna kehidupannya telah membuat mata kehidupan saya menjadi terbuka lebih lebar dan luas. Yogya, dengan segala senandung, lenggang-lenggok dan liukan kehidupannya telah membuat pengembaraan saya menjadi lebih berarti. Saya menemukan sesuatu di sini, menemukan sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan.
            Di Yogya saya menemukan banyak hal yang sebelumnya sulit didapatkan. Di kota ini seorang "anak pulau" seakan menemukan lagi jung baru yang bisa membawa gelisahnya mengembara ke mana-mana, dan "berlayar" ke "pulau-pulau" yang sebelumnya tak pernah mampu diraih. Saya menemukan berbagai prasarana dan sarana yang bisa mendukung kegelisahan serta semangat untuk menulis menjadi semakin menyala. Di sini tersedia beragam media yang bisa menampung semua kegelisahan itu, dan salah satu di antaranya mingguan Pelopor Yogya.
            Setelah beberapa bulan tinggal di Yogya, saya pun mulai berkirim karya ke Pelopor Yogya dan terlibat di dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) yang diasuh Umbu Landu Paranggi itu. Umbu dengan PSK-nya, tidak hanya membuat seorang "anak pulau" menemukan dunia baru dalam kehidupannya yang sebelumnya sunyi dan terpencil jauh dari kehiruk-pikukan. Tapi juga lewat 'perbincangan-perbincangan malam' di sepanjang Malioboro, telah membuat mengenal arti dan makna kehidupan yang lebih luas, membuatnya lebih memahami arti keberagaman dan perbedaan, serta membuatnya mampu menghormati keanekaragaman budaya yang ada.
            Pada 1973 saya sempat pulang sebentar ke kota kelahiran, Bengkalis. Di luar dugaan, saya menemukan kembali buku tulis yang berisi tulisan puisi "Jung" serta empat puisi lainnya yang ditulis di ujung boom itu. Buku tulis itu sudah lusuh dan terhimpit di buku-buku bekas lainnya di lemari tua.
            Puisi-puisi itu saya bawa ke Yogya. Dan, khusus untuk puisi "jung" sengaja saya tulis ulang. Kemudian, saya kirimkan ke Pelopor Yogya untuk dimuat di lembaran PSK. Dan, untuk mengesankan Umbu kalau puisi itu merupakan karya yang baru, saya mengubah waktu penulisannya menjadi Nopember 1973. Puisi "Jung" itu pun kemudian dimuat pada Pelopor Yogya edisi 3 Februari 1974.

            Jung

            Jung yang mungil
            memukau suara laut
            di silir senja hari

            Jung yang mungil
            kau bawa dukaku
            ke laut biru

            Bengkalis, Nop. 1973

            Dengan "Jung" saya berlayar sampai ke Yogya, yang kemudian saya yakini menjadi kota kelahiran kedua. Karena di kota ini, melalui pergulatan yang penuh kesan dan sarat arti di Persada Studi Klub, saya berproses dalam menemukan jati diri. ***

                                                                                           Yogya, April 2007
           

            (Tulisan ini terhimpun di dalam buku "ORANG-ORANG MALIOBORO", Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, 2010)