Jumat, 03 Januari 2014

KISI-KISI UAS FOTOGRAFI JURNALISTIK 2013



                   KISI-KISI UAS FOTOGRAFI JURNALISTIK 2013

1.      Di dalam kerja jurnalistik dikenal ada enam sifat foto jurnalistik (foto berita). Keenam sifat yang dimiliki foto jurnalistik itu, meliputi: mudah dibuat, akurat, universal, visual, kompak dan selalu aktual.

2.      Mudah dibuat – Teknologi fotografi yang terus berkembang dari masa ke masa, membuat proses pembuatan foto menjadi sesuatu yang mudah. Terlebih dengan teknologi digital, sebuah karya foto sekarang sudah bisa dibuat hanya dalam hitungan menit.

Akurat – Dalam bentuk aslinya (bukan rekayasa), foto selalu akurat, dan tidak bisa berbohong. Selembar foto merekam suatu peristiwa secara apa adanya.

Universal – Bahasa foto adalah bahasa yang universal. Bahasa yang bisa diterima dan dipahami oleh manusia di belahan dunia mana pun. Secara visual, selembar foto akan menginformasikan suatu berita atau peristiwa, dengan bahasa yang akan dimengerti oleh bangsa atau etnis apa pun.

Visual – Bahasa foto adalah bahasa visual. Bahasa visual, bahasa yang bisa dimengerti dan dipahami oleh siapa pun. Artinya, bahasa visual yang disampaikan selembar foto akan bisa ‘dibaca’, dimengerti dan dipahami oleh orang yang bisa membaca sampai ke orang yang tidak bisa membaca sekali pun.

Kompak – Ketika suatu peristiwa terekam di dalam berbagai lembar foto secara berurutan, urutan foto-foto itu tetap menyampaikan informasinya secara kompak. Informasi yang disampaikan foto-foto secara berurutan itu akan semakin memperjelas pengertian dan pemahaman orang yang melihatnya. Karena informasi itu hadir secara kompak, berurutan dan teratur.

Selalu aktual – Foto memiliki nilai informasi yang selalu aktual. Artinya, nilai informasi dan daya pesona yang dimiliki selembar foto akan senantiasa aktual atau ‘baru’ sampai kapan pun. Berbeda dengan nilai informasi dan daya pesona suatu berita (berita tulis) yang memiliki batas waktu tertentu, nilai informasi dan daya pesona foto memiliki batas waktu yang panjang.

3.      Di dalam kerja jurnalistik selama ini, dikenal ada tujuh jenis atau ragam foto jurnalistik. Ketujuh jenis foto jurnalistik itu meliputi: foto berita (spot news), foto human interest, foto essay,  foto cerita, foto humor, foto feature, dan foto olahraga.

4.      Foto berita (spot news) – Foto berita adalah suatu foto yang menyajikan atau menyampaikan informasi mengenai satu peristiwa yang berdiri sendiri. Misalnya, foto tentang tabrakan di jalan rata atau kecelakaan lalulintas, dengan cepat dipahami bahwa telah terjadi suatu peristiwa tabrakan atau kecelakaan. Informasinya akan menjadi lebih jelas dengan tambahan keterangan pada keterangan gambarnya.

5.   Foto human interest adalah foto yang menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan daya tarik manusiawi, atau foto yang berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Foto human interest adalah foto yang mampu menggugah emosi kemanusiaan kita yang melihatnya.
Foto human interest memiliki daya tarik yang berbeda dengan foto-foto jurnalistik
lainnya.
Daya tariknya meliputi:
1.      Mampu bercerita mengenai keadaan manusia, dengan pesonanya.
2.      Mampu bercerita atau berkisah banyak dibanding berlembar-lembar
      halaman tulisan.
3.       Mampu menggugah emosi atau memiliki kemampuan untuk
4.       mempengaruhi perasaan dan pikiran (mampu mengembangkan imajinasi).

5.      Foto cerita – Foto cerita memiliki kesamaan dengan foto essay. Hanya bedanya, foto cerita yang hadir secara berangkai, tidak menghadirkan suatu informasi yang harus dibahas, dianalisa, dikaji atau diperdebatkan oleh pembaca yang melihatnya. Foto cerita hanya menyampaikan informasi secara apa adanya. Dan, foto cerita harus selalu faktual.

6.      Foto feature – Foto feature adalah foto tunggal yang tidak sekadar memiliki nilai informasi, tapi juga menyampaikan suatu gagasan berharga pada orang yang melihatnya.  Sekalipun hadir tunggal, foto feature bisa menghadirkan beragam penafsiran. Misalnya, foto tentang seseorang yang baru bebas dari menjalani hukuman di LP. Ekspresi orang yang baru bebas dari LP itu bisa dijadikan foto feature yang menarik.

7.      KOMPOSISI adalah penempatan posisi objek pada bidang pemotretan, sehingga menjadi pusat perhatian. Dengan demikian, komposisi menuntun mata kita menuju titik perhatian yang menyatukan objek foto secara keseluruhan.
•    KOMPOSISI secara sederhana dapat diartikan sebagai cara menata elemen-elemen atau unsur-unsur dalam gambar. Elemen-elemen itu meliputi sudut pemotretan, sepertiga bagian, pola, garis, warna, bingkai, latar belakang, dan latar depan.

8.      Sepertiga bagian merupakan salah satu unsur dalam komposisi.
Dalam fotografi, suatu bidang di dalam pandangan kamera dibagi menjadi sembilan bagian yang sama. Komposisi yang baik adalah bila objek ditempatkan pada duapertiga bagian bidang tersebut. Sedang sepertiga bidang lainnya dikosongkan.

9.      Garis juga merupakan salah satu unsur komposisi.
Dalam pemotretan di luar ruangan (alam bebas), garis menjadi pusat perhatian objek foto. Objek pemotretan yang bisa digunakan sebagai elemen garis antara lain pagar, pohon, garis atap rumah, jalanan dan lain-lainnya.
Elemen garis pada komposisi, sebaiknya diletakkan pada sepertiga bagian bidang pemotretan. Dan, elemen garis dapat membuat keseluruhan komposisi menjadi lebih dinamis, seimbang atau mendukung objek foto.

10.  Warna juga merupakan salah satu unsur komposisi.
Warna merupakan kekuatan foto. Melalui warna, mata akan mudah menangkap sesuatu pesan yang disampaikan oleh foto itu. Warna juga menciptakan kesan tertentu.
Warna cerah atau terang, seperti merah dan kuning, akan menarik perhatian orang dan memberikan kesan kegembiraan, semangat dan keberanian. Warna putih mengesankan kelembutan, kesucian dan kasih sayang. Warna-warna muda seperti pink, biru muda dan toska, memberikan kesan kelembutan dan ketenangan.
Untuk menjadi kekuatan foto, maka rencanakan perpaduan warna seluruh unsur-unsur pemotretan, baik objek maupun latar belakang atau latar depan, khususnya dalam pemotretan profil, busana (fashion), properti dan latar belakang.  

                                                               (SEA)

KISI-KISI UAS SINEMATOGRAFI - 2013



              KISI-KISI UAS SINEMATOGRAFI - 2013

                  1. Film cerita mempunyai berbagai jenis atau genre. Genre diartikan sebagai jenis film yang ditandai oleh gaya, bentuk atau isi tertentu.
Jenis-jenis film tersebut ada yang disebut jenis film drama, film horror, film perang, film musical, film koboi, film sejarah, film komedi, dan film fiksi ilmiah. Meskipun begitu penggolongan jenis film tidaklah kaku atau ketat. Sebab sebuah film dapat saja dimasukkan ke dalam beberapa jenis.

2.       Film pada dasarnya bisa dikelompokkan dalam dua jenis atau kategori. Pertama, film cerita (film fiksi). Kedua, film noncerita (film nonfiksi).
Film cerita merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang dan dimainkan oleh actor dan aktris.
Kebanyakan atau pada umumnya film cerita bersifat komersial. Pengertian komersial diartikan bahwa film dipertontonkan di bioskop dengan harga karcis tertentu. Artinya, untuk menonton film itu di gedung bioskop, penonton harus membeli karcis terlebih dulu. Demikian pula bila ditayangkan di televisi, penayangannya didukung dengan sponsor iklan tertentu pula.
Sedangkan film noncerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya.

3. Seperti halnya film cerita, film noncerita kini juga bias dikategorikan dalam berbagai jenis. Tetapi pada awalnya film noncerita hanya dikenal punya dua jenis, yakni film faktual dan film documenter.
Film faktual adalah suatu jenis film noncerita yang pada umumnya menyajikan fakta. Sekarang film faktual dapat dilihat dalam bentuk film berita (news reel) dan film dokumentasi.
Film berita meletakkan titik berat penyajiannya pada segi pemberitaan suatu peristiwa atau kejadian yang faktual. Contoh film berita dewasa ini dapat kita saksikan di tayangan-tayangan berita dalam siaran televise. Film berita ditayangkan setelah terlebih dulu melalui proses pengolahan.
Sedangkan film dokumentasi adalah film faktual yang hanya merekam suatu peristiwa atau kejadian tanpa melalui proses pengolahan lagi. Film dokumentasi merekam peristiwa dengan apa adanya. Contoh film dokumentasi ini misalnya dokumentasi mengenai kejadian perang, dan dokumentasi upacara kenegaraan.

4.. Film dokumenter adalah film noncerita yang selain mempunyai unsur fakta tetapi juga mengandung unsur subyektifitas pembuatnya. Subyektifitas di dalam film dokumenter merupakan pendapat, pandangan, sikap atau opini terhadap peristiwa yang direkam.
Dengan demikian peran pembuatnya (produser/sutradara) memiliki arti penting bagi keberadaan serta keberhasilan proses pembuatan film dokumenter. Dalam film dokumenter, faktor manusia (pembuat) mempunyai peran yang besar dan penting. Sebab persepsi tentang suatu kenyataan atau realitas yang ada sangat bergantung pada pembuatnya.

5. Film Pareh dinyatakan sebagai film Indonesia pertama yang mendapat perhatian luas dan dipuji dari segi kualitas dan ceritanya, sedang film Terang Boelan yang diproduksi tahun 1937 merupakan film pertama yang terlaris dan sukses secara bisnis di pasaran. Film ini mendapat sambutan hangat masyarakat pecinta hiburan film ketika itu.

6. Sejarah perjalanan pembuatan film cerita di Hindia Belanda diawali dengan diproduksinya sebuah film berjudul “Loetoeng Kasaroeng”. Jika sejarah kelahiran bioskop diawali di Batavia, maka sejarah kelahiran film cerita di negeri kita diawali di kota Bandung pada tahun 1926. Film cerita bisu pertama produksi Java Film Company yang mengangkat tentang legenda di bumi Priangan itu merupakan karya bersama seorang Belanda bernama L. Heuveldorp dan seorang Jerman bernama G. Kruger.

7.      Film merupakan hasil karya bersama atau hasil kerja kolektif. Dengan kata lain, proses pembuatan film pasti melibatkan kerja sejumlah unsur atau profesi. Unsur-unsur yang dominan di dalam proses pembuatan film antaralain: produser, sutradara, penulis skenario, penata kamera (kameramen), penata artistik, penata musik, editor, pengisi dan penata suara, aktor-aktris (bintang film), dan lain-lain.

8.      Sutradara merupakan pihak atau orang yang paling bertanggungjawab terhadap proses pembuatan film di luar hal-hal yang berkaitan dengan dana dan properti lainnya. Karena itu biasanya sutradara menempati posisi sebagai ‘orang penting kedua’ di dalam suatu tim kerja produksi film.
Di dalam proses pembuatan film, sutradara bertugas mengarahkan seluruh alur dan proses pemindahan suatu cerita atau informasi dari naskah scenario ke dalam aktivitas produksi. Sutradara bertanggungjawab menggerakkan semua unsur pekerja (tim kerja) yang terlibat di dalam proses produksi film. Oleh karenanya, berhasil atau tidaknya, bagus atau tidaknya suatu karya film yang diproduksi berada di tangan sang sutradara.
Di dalam tim kerja produksi film, sutradara memimpin Departemen Penyutradaraan.

9.      Film mempunyai tiga nilai penting ketika dihadirkan sebagai ‘tontonan’ ke publik atau masyarakat luas. Ketiga nilai itu adalah nilai hiburan, nilai pendidikan dan nilai artistik. Hampir semua film dalam beberapa hal bermaksud untuk menghibur, mendidik dan menawarkan rasa keindahan kepada publik yang menontonnya. Film yang baik tentunya film yang memiliki ketiga nilai penting tersebut. Seandainya ada film yang hanya menampilkan nilai menghibur semata, tapi mengabaikan nilai mendidik dan nilai artistiknya, tentunya film tersebut tidak layak disebut sebagai film yang baik.

10. Nilai hiburan (menghibur) sangat penting. Suatu film bisa dikategorikan sebagai film yang gagal atau tidak berhasil bila sejak awal hingga akhir tayangannya tidak mampu mengikat atau menarik perhatian penonton.
Nilai menghibur suatu film tidak hanya sekadar membuat orang bahagia, senang, tertawa, tegang, bahkan bergairah dalam menikmati sensasi gambar atau adegan demi adegan di dalam film tersebut. Sebab, sesungguhnya hiburan yang lebih dalam tertuju kepada pikiran maupun emosi penontonnya. Film dengan hiburan seperti itu biasanya memberikan semacam renungan kepada penonton.
                                                                                            (SEA)

Sabtu, 03 Agustus 2013

Bulan di Atas Surau Oleh: Sutirman Eka Ardhana

Bulan di Atas Surau
Oleh: Sutirman Eka Ardhana



WAJAH bulan menyembul separuh di atas surau. Separuhnya lagi seperti sedang bersembunyi di balik dedaunan pohon karet. Daun-daun pohon karet yang meninggi di belakang surau itu bagai sedang saling berangkulan. Sedang di dalam surau, gema takbir berkumandang dengan merdunya. Sejak sehabis sembahyang Magrib, gema takbir itu tak henti-hentinya dikumandangkan para jemaah, tua maupun muda. Baik lelaki maupun perempuan.


Aku sedang berdiri di depan surau memandang wajah bulan yang tersembul separuh di balik dedaunan karet, seraya mendengarkan gema takbir yang berkumandang merdu dari dalam surau itu. Kucoba mengingat-ingat, kalau-kalau ada di antara para jemaah pelantun takbir itu yang kukenal suaranya. Ah, ternyata tidak. Tak ada satu pun yang kukenal. Semua terasa asing di telingaku.
Di mana Fikri, sahabat karibku semasa belajar mengaji di surau ini dulu?
Aku berharap mendengarkan suaranya di antara lantunan takbir itu. Suaranya yang merdu bertahun-tahun kurindukan. Di antara para murid atau santri yang belajar mengaji pada Pak Haji Dullah, hanya Fikri yang bersuara merdu ketika mengumandangkan takbir di setiap malam Lebaran tiba. Sepertinya kesemarakan bertakbir di malam Lebaran itu menjadi berkurang bila tak ada lantunan takbir yang merdu dari Fikri.
Juga di mana Khusnul, perempuan lembut bermata teduh yang suaranya pun sangat merdu dalam setiap kali melantunkan suara takbir itu?
Di mana, anak perempuan yang dulu didambakan Emak jadi menantunya, tapi kemudian kukecewakan? Di mana, perempuan yang setiap kali namanya kukenang, menimbulkan penyesalan di hatiku?
Di mana mereka? Ya, di mana Fikri dan Khusnul? Apakah mereka tidak ada di antara para jemaah yang sedang melantunkan takbir di dalam surau itu? Andaikan ada, kenapa aku tak mendengar suara mereka? Apakah suara mereka sudah berubah, tak semerdu dulu lagi? Bisa saja berubah. Kenapa tidak? Bukankah kemerduan suara Fikri, juga Khusnul itu ada pada dua puluh tahun lebih yang lalu? Ya, dua puluh tahun lebih sudah tak mendengarkan kemerduan suara mereka. Beruntun tanya seperti saling berdesakan dan bergebalau di hatiku.
Aku baru saja tiba di kampung. Aku pulang berserta isteri dan anak-anakku merayakan Lebaran bersama Emak. Sudah beberapa kali Lebaran aku tak pernah pulang. Karena kerinduan kepada Emak, kuputuskan tahun ini berlebaran di kampung. Sekaligus juga ingin melepas kerinduan kepada sesama kawan sepermainan atau kawan semasa belajar mengaji di surau dulu. Di antaranya yang ada dalam rinduku itu tentu saja Fikri, juga Khusnul.
Sehabis berbuka puasa dan sembahyang Magrib di rumah, kuputuskan untuk pergi ke surau. Aku tahu, seperti dulu setiap malam Lebaran, suasana di surau pasti lebih semarak dibanding malam-malam lainnya. Semarak dengan suara gema takbir yang dikumandangkan para jemaah atau santri-santri yang belajar mengaji di surau. Lantunan takbir yang memuji kebesaran Allah itu bagai menyelusup di celah-celah dedaunan pohon karet, dan daun-daun pohon senduduk yang tumbuh berjajar di sepanjang tepian parit. Lalu, suara takbir itu menyeruak lembut ke rumah-rumah penduduk. Dan, suasana seperti itu bertahun-tahun kurindukan.
"Saya mau ke surau, Mak," kataku kepada Emak.
"Mau sembahyang?" tanya Emak cepat.
"Ya, mau Isya dan bertakbiran di sana. Siapa tahu jumpa kawan-kawan lama di surau," jelasku.
"Mau jumpa....," timpal Emak, tapi kemudian kata-katanya terhenti begitu isteri dan anak-anakku datang.
Aku tahu, kata-kata Emak itu sesungguhnya akan bersambung. Tapi karena ada isteriku di dekatnya, ia pun tak melanjutkannya.
"Sudah ya Mak, saya ke surau dulu," kataku sambil berpikir tentang kata-kata Emak yang terputus itu.
"Ya, berangkatlah. Jangan pulang malam-malam. Kasihan isteri dan anak-anakkau ditinggal lama. Kau kan baru sampai, badan tentu masih penat," seru Emak.
"Baiklah, Mak," anggukku.
Emak benar. Badanku sebenarnya lumayan penat. Perjalanan dari Yogya sampai ke kampungku cukup memenatkan.
Tapi keinginan untuk menikmati suasana malam Lebaran di surau yang sudah lama kurindukan itu terlalu besar untuk dikalahkan oleh kepenatan badan.
Jemaah terus berdatangan ke surau. Aku benar-benar merasa asing, karena sepertinya tak ada seorang pun para jemaah yang berjalan di dekatku itu kukenal. Tak ada satu pun yang mengenalku, walau aku sudah mencoba tersenyum dengan beberapa yang kebetulan menoleh ke arahku. Hanya beberapa orang saja yang terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala kepadaku. Sebagian besar mereka memang anak-anak muda, yang lahir jauh di belakangku. Kupikir wajar juga jika mereka tak mengenalku. Mereka mungkin mengira aku ini tamu yang sedang berkunjung, atau pendatang baru di kampung ini.
Aku masih berdiri di depan surau. Aku sengaja ingin masuk belakangan, dengan harapan ingin mencari atau bertemu lebih dulu dengan orang-orang yang masih kukenal. Ya, aku berharap di depan surau ini bertemu dengan kawan-kawan lamaku dulu seperti Fikri, dan juga Khusnul yang namanya masih saja terngiang di ingatanku.
Aku sedang memandang ke arah dedaunan karet yang menyembunyikan separuh wajah bulan itu, ketika di dekatku berjalan sepasang lelaki dan perempuan melangkah ke tangga surau. Lelaki itu mengenakan krak atau tongkat penyangga di tangan kanannya. Sedang yang perempuan menggandeng tangan kirinya.Mungkin isterinya.
Lelaki itu sudah berada sekitar tiga langkah di depanku, ketika ia menoleh ke belakang, ke arahku. Aku terkesiap. Walaupun cahaya penerangan di depan surau itu tak begitu terang, aku dapat melihat agak jelas wajahnya. Wajah itu seperti pernah kukenal. Ketika pandangan kami bertatapan, aku mencoba tersenyum. Dan, lelaki itu menghentikan langkahnya. Ia memandangku beberapa saat. Pandangannya dalam. Aku pun demikian, memandangnya dalam-dalam dengan dada berdebar.
Lelaki itu kemudian membalikkan badannya, dan berjalan ke depanku. Pandangannya masih tetap di wajahku. Serius. Aku juga memandangnya serius. Tak syak lagi! Lelaki ini sangat kukenal! Dia pasti.....
Ketika aku baru akan berteriak menyebut namanya, lelaki itu sudah terlebih dulu berseru nyaring.
"Ha.....engkau pasti Ardhan, kan?! Pasti! Pasti, tak salah lagi! Engkau Ardhan!" serunya gembira.
Beberapa jemaah di depan surau, yang terkejut mendengar suara lelaki itu langsung memandang kami.
"Dan, engkau pasti Fikri!" seruku, kerasnya.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mendekat dan memeluknya erat-erat. Memeluk dengan penuh kerinduan. Betapa tidak. Fikri adalah sahabatku dalam suka dan duka. Sahabat sepermainan. Sahabat sepengajian.
"Beginilah aku sekarang, Ar. Kaki kananku sudah cacat. Tinggal separuh lagi. Diamputasi," katanya setelah kami saling bertanya tentang keadaan masing-masing, tentang keluarga, anak-anak, dan lain-lain.
"Kenapa bisa sampai begitu, Fik?" tanyaku.
"Beberapa tahun lalu, aku terpaksa bekerja di sebuah panglong atau perusahaan penebangan hutan. Ketika bekerja di hutan itu, aku mendapatkan musibah kecelakaan. Aku tertimpa kayu yang ditebang. Ada cabang kayu yang lumayan besar menimpa kaki kananku ini. Kakiku remuk. Karena lukanya yang parah, akhirnya ya diamputasi di rumah sakit. Dan, seperti inilah sekarang. Ke mana-mana harus pakai krak ini," urainya. Pedih hatiku mendengar kata-kata Fikri itu. Sahabat karibku, yang kemerduan suaranya ketika melantunkan adzan dan takbir sangat kukagumi, ternyata harus menjalani perjuangan hidup yang keras. Ia harus bekerja menjadi buruh penebang kayu di hutan demi menghidupi keluarga, isteri dan anak-anaknya. Pandanganku lalu beralih ke perempuan di sampingnya. Dan, wajah perempuan itu juga tak asing lagi buatku. Dia tentu saja Nurul, isterinya. Seketika aku hanyut dalam keharuan. Kalau saja cahaya separuh bulan yang tersembul di balik di dedaunan, di atas surau, sampai ke wajahku, maka akan terlihat jelas bagaimana aku menahan keharuan itu.
Baru saja aku akan berkata lagi, agar segera beralih dari keharuan itu, tiba-tiba ada suara yang mengejutkan datang dari arah belakang.
"Hei, Bang Fikri, kenapa tak masuk ke surau. Isya sebentar lagi," kata seorang lelaki di belakang aku dan Fikri. Suara itu seperti pernah kukenal.
Aku pun membalikkan badan dan memandang ke arah lelaki itu. Lelaki itu juga memandangku. Dia datang berdua dengan seorang perempuan. Perempuan di sampingnya tampak tersenyum. Ya, Tuhan! Senyum itu rasanya begitu sangat kukenal. Juga lelaki itu, wajahnya belum hilang dari ingatanku.
"Dan, ini..... kalau tak salah, pasti Bang Ardhan. Ya, ini Bang Ardhan, kan?! Bila sampai di kampung, Bang? Sudah berapa hari di sini?" beruntun tanya keluar dari mulut lelaki itu. Terus terang, aku terkesiap, sehingga tak mampu menjawab rentetan pertanyaannya itu. "Masih ingat dengan saya kan, Bang? Atau sudah lupa? Saya Hamid. Dan ini, isteri saya, Khusnul. Masih ingat kan Bang, sama Khusnul?" lagi tanyanya seraya menunjuk ke arah perempuan di sampingnya itu.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan keduanya. Hamid, yang keponakannya Pak Haji Dullah, guru mengajiku di surau itu, dulu juga begitu dekat denganku. Di mana ada aku dan Fikri, pasti di situ ada juga Hamid. Dan Khusnul, tak ada alasan untuk melupakannya dalam ingatanku. Dulu, dia gadis yang baik, dan teramat baik buatku. Di mataku, dia perempuan sempurna. Sangat sempurna. Terlebih lagi, dialah dulu perempuan yang didambakan Emak untuk menjadi pendamping hidupku. Emak sangat menyukainya. Sangat menginginkannya dijadikan menantu. Dan, Khusnul pun tahu akan itu, karena Emak pernah mengatakan kepadanya. Bahkan, Emak dulu sempat merencanakan akan melamarnya. Kalau saja ketika itu aku tak bilang agar Emak jangan buru-buru melamarnya, Ayah dan Emak pasti sudah melamar Khusnul. "Apa kabar, Bang? Pulang bersama keluarga? Maaf ya Bang, jangan bersalaman dulu, sudah wudlu dari rumah," kata-kata lembut Khusnul mengejutkan lamunan sesaatku.
Aku tergagap sesaat. "Minal aidzin wal faizin ya, Bang. Maaf lahir dan batin. Apalagi saya merasa dulu banyak berbuat salah dan khilaf kepada Bang Ar," sekali pun pelan dan ceria, kata-kata ini seperti menyayat di hatiku.
"Sama-sama, Nul. Abanglah mestinya yang dulu banyak salah dengan Khusnul........," kata-kataku terhenti, aku seperti kehilangan kemampuan untuk berkata lagi.
Kata-kataku terputus, karena suara muadzin melantunkan adzan sudah menggema nyaring dari dalam surau.
"Yuk kita masuk ke surau, Isya segera dimulai," kata Hamid, merangkulkan tangannya ke pundakku.
"Hamid dan Khusnul ini yang sekarang menjadi ustadz dan ustadzah di surau ini," timpal Fikri.


Wajah bulan separuh itu terlihat di atas surau, ketika kami melangkah masuk menuju ke tangga surau.
* Yogyakarta, Ramadhan 1434 H
Catatan Redaksi: (Suara Karya, Sabtu, 3 Agustus 2013)
Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Sejak 1972 menetap di Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi dan novel. Karya-karyanya yang sudah terbit di antaranya novel Surau Tercinta (Navila, 2002), Dendang Penari (Gita Nagari, 2003), Gelisah Cinta (Binar Press, 2005). Kumpulan puisi Risau (Pabrik tulisan, 1976), Emas Kawin (Renas, 1979), dan puisi-puisinya terhimpun pada sejumlah antologi puisi. *** 
 
 
 

Jumat, 28 Juni 2013

KISI-KISI SOAL UAS REPORTASE MEDIA CETAK



            KISI-KISI SOAL UAS
SEMESTER GENAP TA 2012/2013
            MATA KULIAH : REPORTASE MEDIA CETAK
KPI FAK DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN SUNAN KALIJAGA



1.      Baca ulang dan cermati tentang hal-hal yang harus diperhatikan ketika akan menulis berita. Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan ketika akan menulis suatu berita atau menginformasikan suatu peristiwa kepada publik melalui media pers.
Keempat hal itu meliputi:
I.        Apakah peristiwa atau informasi yang akan dijadikan berita itu sudah mengandung unsur 5 W dan 1 H. Unsur  5 W dan 1 H itu adalah What, Who, When, Where, Why dan How. Perlu diingat apabila kehilangan satu unsure saja dari 5 W + 1 H itu, maka berita tersebut tidak memiliki nilai informasi yang layak diinformasikan kepada khalayak.
II.     Berita harus ditulis dengan sistem atau struktur “Piramida Terbalik”. Secara mudahnya, dalam sistem Piramida Terbalik, bagian terpenting harus berada di bagian atas, sedang bagian yang tidak terlalu penting berada di bawah.
III.   Harus dilihat (untuk berita) apakah berita atau informasi itu sudah mengandung fakta mutakhir (terbaru), atau belum.
IV.  Apakah berita atau informasi berita itu memiliki unsur-unsur layak berita atau tidak. Unsur-unsur layak berita itu meliputi: termasa (baru), jarak, penting, keluarbiasaan (keanehan), manusiawi (nasib manusia), drama (dramatis), konflik, prominence (menonjol, populer), kemajuan-kemunduran dan akibat.

2.      Baca ulang pula tentang perihal anatomi berita. Sebelum mengetahui sistem Piramida Terbalik, terlebih dulu haruslah diketahui tentang anatomi berita.
Anatomi berita meliputi.
(1). Judul Berita.
(2). Dateline (baris tanggal/kota).
(3). Teras berita (lead).
(4). Tubuh berita.
(5). Penutup.
      
3.      Baca lagi lebih cermat tentang sistem “Piramida Terbalik” dalam penulisan berita. Dalam sistem “Piramida Terbalik”, bagian terpenting harus diletakkan pada bagian atas, dan bagian tidak penting berada di bagian bawah.
Bagian yang terpenting, menarik dan menonjol diletakkan pada teras atau lead berita. Kemudian pada tubuh berita, baru seluruh kelengkapan peristiwa dijelaskan secara berurutan dari fakta ke fakta. Sedang pada bagian penutup, baru dimasukkan bagian-bagian yang sifatnya pelengkap atau sampingan.

4.      Baca dan cermati tentang unsur akibat dalam unsur-unsur layak berita.
Unsur akibat artinya peristiwa itu apabila diberitakan atau diinformasikan akan menarik  publik (pembaca), karena pembaca merasa ada akibat yang akan dirasakan dari peristiwa yang diinformasikan tersebut.

5.      Baca dan simak lagi tentang hal utama yang harus diperhatikan ketika akan menulis feature.
Hal utama yang harus diperhatikan ketika akan menulis feature adalah seberapa banyak, seberapa lengkap, seberapa besar dan seberapa jelas serta seberapa rinci data informasi yang dimiliki. Hal ini penting, karena feature memiliki sifat membawa fakta lebih rinci, dan menerangkan serta memperjelas persoalan dengan tidak terburu-buru.

6.      Baca dan simak juga tentang 10 hal yang harus diketahui tentang feature. Paling tidak ada 10 hal yang harus diketahui ketika akan menulis feature.
(1). Faktual
      Feature ditulis berdasarkan fakta. Feature menceritakan kenyataan yang ada di dalam masyarakat.
(2). Menerangkan masalah.
      Feature menerangkan masalah dengan mengungkapkan jawaban unsur Why dan How, secara lebih rinci.
(3). Tidak paksakan opini.
      Penafsiran harus menyertakan fakra-fakta pendukungnya. Sedang interpretasi yang dikemukakan harus didukung argument yang jelas.
(4). Tidak terikat struktur Piramida Terbalik.
      Struktur yang digunakan bebas.
(5). Tidak selalu terikat dengan rumus 5 W + 1 H.
      Tidak semua jenis feature perlu menjawab atau menjelaskan 5 W + 1 H. Ada jenis feature yang bisa mengabaikan salah satu dari 5 W + 1 H itu. Misalnya, feature yang mengajarkan cara menanam bunga, tidak perlu menjawan unsur Who.
(6). Tidak terikat waktu.
      Kebanyakan jenis feature tidak terikat dengan waktu, kecuali news feature.
(7). Lead harus aktraktif.
      Lead atau paragraf pertama feature mengutamakan uraian yang aktraktif.
(8). Memperhatikan estetika bahasa.
Feature sangat memperhatikan estetika bahsa. Bahasa yang digunakan harus bahasa yang populer dan mudah dicerna.
(9). Menggunakan angle tunggal.
      Feature hanya memilih satu sudut pandang (angle) saja. Sudut pandang lain, untuk masalah yang sama, bisa digunakan untuk penulisan feature lainnya sja.
(10). Sempitkan lingkup persoalannya.

7.      Simak lagi tentang lead atau intro (teras) dalam penulisan laporan utama (laput) maupun laporan khusus (lapsus).
Lead (teras) laput maupun lapsus haruslah mengandung kekuatan ‘daya stroom’ atau daya tarik yang kuat bagi pembaca. Kalimat atau rangkaian kata-kata dalam lead haruslah mampu membius, mengikat, dan memukau, kemudian merangsang keingintahuan pembaca untuk mengikuti laput atau lapsus tersebut sampai selesai.

8.      Baca ulang tentang lead Laput maupun lapsus.
Lead (teras) dari laporan utama (laput) maupun laporan khusus (lapsus) bisa berbentuk tujuh hal, yakni:
1.      Gambaran suasana;
2.      Kilas balik;
3.      Mengingatkan kembali;
4.      Prediksi ke depan;
5.      Pertanyaan dari suatu permasalahan;
6.      Kumpulan fakta-fakta;
7.      Peristiwa yang menyentuh.

9.      Baca ulang tentang hal-hal yang mengharuskan dilakukannya editing.
Ada sejumlah hal yang mengharuskan dilakukannya editing terhadap suatu naskah atau tulisan jurnalistik. Tapi yang sering dilakukan adalah dikarenakan enam (6) hal utama, yakni:
1.      Karena teknik penulisan atau struktur berita yang tidak benar.
2.      Karena kalimat, bahasa dan gaya bahasa yang salah.
3.      Karena terlalu cenderung berorientasi atau berpihak kepada kepentingan sumber berita, bukan kepada pembaca (nilai obyektifitasnya rendah).
4.      Karena punya kecenderungan melanggar Kode Etik Jurnalistik atau peraturan perundang-undangan (hokum).
5.      Karena kurangnya keakuratan berita.
6.      Karena keterbatasan kolom atau space halaman.

10.  Baca ulang juga tentang sifat-sifat khusus bahasa jurnalistik.
Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat yang khusus. Sifat-sifat khusus itu terlihat jelas pada bahasa yang digunakan sesuai dengan karakteristik cara kerja pers, yaitu: jelas, lugas, logis, singkat padat, sederhana, menarik, baik, dan benar.  (SEA)

Sabtu, 22 Juni 2013

KISI-KISI SOAL UAS HUKUM DAN ETIKA JURNALISTIK


            KISI-KISI SOAL UAS
SEMESTER GENAP TA 2012/2013
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAK DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
            MATA KULIAH : HUKUM DAN ETIKA JURNALISTIK



1.      Baca ulang pengertian tentang Delik Pers.
Pahami pengertian Delik Pers yang menyebutkan Delik Pers merupakan perbuatan pidana yang diancam dengan hukuman, karena pelanggaran yang berkaitan dengan penerbitan pers. Delik pers dapat juga disebut sebagai perbuatan pidana yang dilakukan dengan pengumjuman atau penyebarluasan pikiran melalui penerbitan pers.

2.      Ada tiga unsur atau kriteria yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan yang dilakukan melalui per situ dapat digolongkan sebagai Delik Pers, yaitu:
a.       Adanya pengumuman pikiran dan perasaan yang dilakukan melalui barang cetakan;
b.      Pikiran dan perasaan yang diumumkan/disebarluaskan melalui barang cetakan itu harus merupakan perbuatan yang dapat dipidana menurut hokum;
c.       Pengumuman pikiran dan perasaan yang dapat dipidana tersebut serta yang dilakukan melalui barang cetakan tadi harus dapat dibuktikan telah disiarkan kepada masyarakat umjum atau dipublikasikan.

3.      Ada dua unsur yang harus dipenuhi supaya seorang wartawan dapat dimintai pertanggungjawabannya dan dituntut secara hukum yaitu:
a.       Apakah wartawan yang bersangkutan mengetahui sebelumnya isi berita dan tulisan yang dimaksud;
b.      Apakah wartawan yang bersangkutan sadar sepenuhnya bahwa tulisan yang dimuatnya dapat dipidana.

4.      Baca kembali tentang pengelompokan Delik Pers.
Delik Pers dapat dibagi dalam lima kelompok.
(1)   Kejahatan terhadap ketertiban umum.
Bentuk kejahatan ini diatur dalam pasal-pasal 154, 155, 156, dan 157 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Pasal-pasal ini dikenal dengan sebutan Haatzaai Artikelen yakni pasal-pasal tentang penyebarluasan kebencian dan permusuhan di dalam masyarakat terhadap pemerintah.
(2)   Kejahatan penghinaan.
Kejahatan penghinaan ini dibagi dalam dua kelompok. Pertama, penghinaan terhadap Presiden dan wakil presiden, yakni pasal 134 dan 137 KUHP. Termasuk juga penghinaan terhadap penguasan atau badan umum, pasal 207, 208 dan 209 KUHP. Kedua, penghinaan umum, yang meliputi pasal 310 dan 315 KUHP.
(3)   Kejahatan melakukan penghasutan.
Menghasut adalah melakukan upaya atau tindakan serta mendorong, mengajak, membangkitkan, atau mempengaruhi orang lain supaya melakukan suatu perbuatan, seperti diatur dalam pasal 160 dan 161 KUHP.
(4)   Kejahatan menyiarkan kabar bohong.
Perbuatan ini diatur dalam pasal XIV dan XV UU No. 1 Th 1946 yang menggantikan pasal 171 KUHP yang 5telah dicabut.
(5)   Kejahatan kesusilaan (Delik Kesusilaan), sebagaimana diatur dalam pasal 282 dan 533 KUHP.

5.      Cermati tentang sifat Delik Pers.
Sifat Delik Pers itu ada dua jenis, yakni Delik Aduan dan Delik Biasa.
Delik Aduan adalah Delik Pers yang terjadi baru bisa diproses secara hukum setelah ada pihak yang mengadu. Dalam hal ini, pihak yang terkait dalam pemberitaan pers, atau pihak yang merasa dirugikan karena pemberitaan pers mengadu ke pihak berwajib (polisi).
Sedangkan Delik Biasa adalah Delik Pers tersebut bisa langsung diproses secara hukum oleh pihak berwajib meski tanpa ada pihak yang mengadu.

6.      Cermati juga tentang sejumlah pasal di dalam KUHP yang bisa digunakan dalam Delik Aduan, yakni pasal 310 tentang penyerangan atau pencemaran kehormatan (pencemaran nama baik), pasal 311 (fitnah), pasal 315 (penghinaan ringan), pasal 316 (penghinaan terhadap pejabat pada waktu menjalakan tugas secara sah), pasal 317 (fitnah karena pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa), pasal 321 (penghinaan atau pencemaran nama seseorang yang sudah mati),

7.      Baca ulang tentang Dewan Pers. Sebagai badan pengatur media, eksistensi Dewan Pers telah diatur secara jelas di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
Di dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers telah disebutkan tentang fungsi-fungsi Dewan Pers itu. Fungsi-fungsinya meliputi:
a.       Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;
b.      Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers;
c.       Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
d.      Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers;
e.       Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah;
f.       Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
g.      Mendata perusahaan pers.

8.      Kemudian baca ulang tentang Pasal 15 ayat 3 UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang mengatur tentang keanggotaan Dewan Pers. Ayat 3 di pasal itu menyebutkan anggota Dewan Pers terdiri dari;
a.       Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;
b.      Pimpinsn perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers;
c.       Tokoh masyarakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

9.      Pelajari lagi tentang Fairness dalam kerja media pers atau dalam peliputan berita.
Fairness merupakan perlakuan adil dan sikap menghargai dari wartawan dan pers dalam peliputan berita, terutama terhadap semua pihak yang terkait atau menjadi bahan pemberitaan. Selain itu fairness juga merupakan sikap wartawan dan pers untuk menghargai khalayak pembaca media pers, pendengar siaran radio dan penoton siaran televisi.

10.  Baca juga kembali bahwa fairness merupakan nilai-nilai professional yang harus dimiliki oleh wartawan dan pers. Nilai-nilai professional lainnya sebagaimana yang tercantum dalam setiap kode etik jurnalistik atau etika pers adalah akurasi, objektivitas, ketidakbiasaan dan keseimbangan.  ***  (SEA)