Kamis, 09 April 2020

SEPUTAR PENULISAN ARTIKEL


SEPUTAR PENULISAN ARTIKEL

            APA yang dimaksud dengan artikel?
            Artikel suatu tulisan yang non-editorial. Artinya, artikel merupakan isi surat kabar atau media pers yang bukan dihasilkan oleh kerja redaksi atau wartawan media itu sendiri, sebagaimana halnya berita. Akan tetapi itu bukan berarti redaktur atau wartawan lantas dilarang menulis artikel.
            Sebagai isi surat kabar yang di luar kerja keredaksian, maka artikel sebagian besar datang dari luar lingkungan keredaksian surat kabar atau media pers tersebut. Artikel datang dari penulis-penulis di luar surat kabar atau media pers yang ingin mengemukakan gagasan, ide dan berbagai pemikiran lainnya.
            Secara singkat, artikel merupakan suatu tulisan yang bermaksud menyampaikan gagasan dan fakta. Tujuannya untuk menggugah, meyakinkan, mengajarkan dan juga menghibur.
            Berbeda dengan isi surat kabar atau media pers yang lain, artikel memiliki sifat lebih luwes dan terbuka. Jika isi surat kabar lainnya seperti berita, feature dan reportase berusaha menghindarkan diri dari perangkap opini, tidak demikian halnya dengan artikel.
            Karena artikel merupakan wujud dari gagasan atau ide dan pemikiran-pemikiran yang disampaikan penulisnya, maka sudah barang tentu opini atau pendapat pribadi penulis yang 'bermain' di dalamnya. Oleh sebab itu, artikel selalu ditempatkan pada tempat atau halaman yang sama dengan kolom 'tajuk rencana'.

            Menentukan Tema Artikel
            Apa yang harus diperhatikan terlebih dulu sebelum memulai menulis artikel? Pertama kali yang harus diperhatikan adalah gagasan atau ide yang akan dijadikan tema penulisan. Tanpa tema, suatu artikel tidak akan jelas apa maunya. Penulisnya sendiri pun akan kerepotan untuk mengarahkan dan membawa ke mana arah serta alur gagasan dan pemikiran-pemikirannya bila ia menulis tanpa tema yang jelas.
            Suatu tema atau topik akan berhasil dikerjakan, apabila penulis sudah berhasil memadukan jawaban dari dua pertanyaan: apa dan bagaimana. Tema atau masalah apa yang akan ditulis? Dan, bagaimana dengan pokok bahasan atau analisanya?
            Ada baiknya, tema atau topik dibawa pada daerah pembahasan yang kecil atau sempit. Membawa tema ke sudut pembicaraan yang menyempit, akan membantu mempermudah dalam mengutarakan pembahasan. Misalnya, tema "Meningkatkan peran serta guru dalam pendidikan budi pekerti" memiliki daerah pembahasan yang sempit dibanding tema "Meningkatkan peran serta guru dalam pembangunan bangsa".
            Di mana mencari tema?
            Tema ada di mana-mana. Tema senantiasa berada di seputar kehidupan kita. Tema atau topik suatu artikel dapat dicari dari hal-hal atau permasalahan-permasalahan yang sedang berkembang (hangat) di tengah-tengah masyarakat, perkembangan-perkembangan di dunia internasional, pada literatur-literatur ilmu pengetahuan, dan lain-lainnya. Tidak jarang pula tema artikel tersebut diperoleh dari berita di surat kabar atau media pers.
            Setiap penulis atau calon penulis artikel dituntut untuk peka dan tanggap terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di sekitarnya. Baik perkembangan politik nasional maupun internasional, tatanan moral di tengah masyarakat, persoalan-persoalan pendidikan, permasalahan-permasalahan hukum, perilaku sosial dan semacamnya. Oleh karena itu setiap calon penulis atau penulis artikel harus rajin memasang 'telinga' dan 'mata'nya untuk mendengar dan melihat topik-topik apa yang sedang hangat jadi perbincangan.
            Misalnya, tentang meningkatnya kejahatan di kalangan remaja yang sedang jadi perbincangan para pakar, baik pakar maupun pakar hukum maupun pakar-pakar ilmu sosial. Kenapa kita tidak mencoba 'campur tangan' ikut membicarakannya dengan melontarkan gagasan-gagasan atau ide-ide yang mungkin bermanfaat bagi penanggulangannya? Atau mungkin kita memiliki pengalaman dan pengetahuan yang bersinggungan dengan 'dunia kejahatan di kalangan remaja' itu, sehingga tahu persis bagaimana seluk-beluk dan permasalahan yang ada di dalamnya. Pengetahuan mengenai hal itu sangat bermanfaat bila kemudian diuraikan atau disampaikan lagi kepada masyarakat luas melalui artikel di surat kabar (media pers).
            Sedang untuk artikel yang temanya berasal dari isi berita di surat kabar (media pers), penulis hendaknya lebih menekankan pada makna dari berita tersebut, serta memberikan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
            Pada artikel semacam ini, biasanya opini penulis tidak selalu mendominasi di dalamnya. Penulis bisa merangsang pembaca dengan penuturan rangkaian demi rangkaian yang ada di dalam peristiwa berita tersebut, guna sasaran memberikan gambaran lebih jelas lagi terhadap peristiwa itu sendiri.

            Pola Penulisan
            Artikel pada dasarnya suatu tulisan ilmiah populer. Dalam penulisannya, selama ini dikenal ada lima pola. Kelima pola itu meliputi pola pemecahan topik, masalah dan pemecahannya, kronologi, pendapat dan alasan pemikiran  serta pola pembandingan (Slamet Soeseno, 1980).
            Secara garis besarnya, kelima pola penulisan itu memiliki tujuan yang sama, membawa gagasan serta ide-ide kita kepada masyarakat pembaca, tetapi dengan cara pembahasan serta penelaahan yang berbeda. Kita tinggal memilih pola mana yang lebih mudah membawa gagasan sampai ke sasarannya.
            Sekarang, mari kita mencoba melihat kelima pola itu.
           
            Pola pemecahan topik
            Dalam pola ini, penulis mengambil pola atau cara penulisan dengan memecah suatu tema (topik) menjadi sub-sub tema atau bagian-bagian lebih kecil. Setiap sub-tema atau sub-topik harus dianalisa.
            Contoh tema: "Pengiriman tenaga guru ke daerah-daerah terpencil dan permasalahannya". Tema ini dipecah menjadi beberapa sub-tema. Misalnya, guru seperti apa dan bagaimana sebaiknya dikirim (sub-tema 1), perlu atau tidaknya pendidikan tambahan bagi guru (sub-tema 2), serta bagaimana cara menjaga keselamatan kerja mereka (sub-tema 3), dan sub-sub tema lainnya. Setiap sub-tema dianalisa dan dibahas.

            Pola masalah dan pemecahannya
            Dalam pola ini, penulis harus mengemukakan  suatu masalah dan kemudian menganalisa pemecahan-pemecahannya.
            Contoh tema: "Melawan hama wereng". Dengan pola ini, penulis dapat mengemukakan makhluk macam apa yang disebut hama wereng itu. Kenapa ia jadi gemar 'menggoda' tanaman padi? Lantas, bagaimana cara mencegah dan mengatasinya? Penulis dapat memberikan pemecahannya dengan memaparkan cara-cara melawan atau memusnahkannya.
           
            Pola kronologi
            Pola ini mengajak penulis untuk memaparkan urutan peristiwa demi peristiwa secara kronologis.
            Contoh tema: "Pemberontakan Moro di Filipina Selatan". Penulis dapat memaparkan sejarah suku-bangsa Moro dan asal mula kedatangan agama Islam, sejak kapan mereka dinyatakan sebagai orang Filipino (bangsa Filipina), padahal mereka meyakini diri sebagai orang Melayu. Kenapa mereka memberontak atau ingin memisahkan diri, seberapa jauh perlawanan mereka terhadap pemerintah Filipina, mengapa terjadi perpecahan di antara mereka, dan bagaimana perkembangannya terakhir sekarang?

            Pola pendapat dan alasan pemikiran
            Dalam pola ini, penulis lebih 'memainkan' pendapatnya terhadap suatu permasalahan dan kemudian memaparkan alasan-alasan pendapatnya itu. Penulis mengemukakan pendapatnya sendiri tentang sesuatu masalah atau tema yang digarap, dan kemudian menyampaikan alasan-alasan atau dalil-dalil kenapa pendapatnya itu diyakini.
            Contoh tema: "Penerapan Kurikulum 2013 dan permasalahan-permasalahannya". Penulis misalnya, merupakan seseorang yang keberatan dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 dalam proses pendidikan di sekolah. Untuk itu penulis harus mengemukakan pendapatnya tentang Kurikulum 2013 itu. Kalau penulis berpendapat bahwa Kurikulum 2013 itu tidak layak diberlakukan, maka ia harus menjelaskan atau memaparkan alasan-alasan pendapatnya itu.

            Pola pembandingan
            Dalam pola ini, penulis memaparkan tentang persamaan dan perbandingan dari dua aspek atau mungkin lebih dari suatu tema.
            Contoh tema: "Organisasi guru dan guru". Penulis mengemukakan dua aspek dari tema yang ditulisnya. Misalnya, aspek pertama: dengan adanya organisasi guru seberapa jauh perannya bagi peningkatan kesejahteraan guru. Sedang aspek kedua: andai tidak ada organisasi guru seberapa jauh pula pengaruhnya bagi peningkatan kesejahteraan guru. Andai ada persamaan di antara kedua aspek itu, maka penulis harus menguraikannya secara jelas. Demikian pula bila ada perbedaan-perbedaan di antara kedua aspek itu, hal itu juga harus diuraikan.
            Struktur Artikel
            Pada umumnya dalam struktur tulisan artikel terdapat bagian-bagian seperti: judul, pendahuluan, tubuh dan penutup.
           
            Judul
            Judul suatu artikel haruslah memiliki daya rangsang yang cepat. Judul harus mewakili isi tulisan atau artikel secara singkat, tepat dan jelas. Usahakan jangan membuat judul terlalu panjang. Karena judul yang panjang bisa melelahkan pembaca. Buatlah yang pendek, tapi jelas maknanya.

           

            Pendahuluan
            Pendahuluan bagi suatu artikel hanyalah bermakna implisit. Artinya, dengan pendahuluan itulah suatu gagasan akan berangkat. Jadi, tidak perlu  dituliskan di bagian paling awal dari artikel sederet huruf bertuliskan: Pendahuluan.
            Kalimat demi kalimat di dalam bagian pendahuluan harus mampu memancing dan menarik minat baca pembaca untuk terus mengikuti artikel tersebut.
            Banyak pola untuk membuat pendahuluan ini. Pola-pola itu merupakan gaya atau cara seorang penulis untuk merangsang pembaca. Di antaranya: pola ringkasan, pernyataan yang mengejutkan (menonjol), penggambaran (pelukisan), anekdot, bertanya, kutipan dan amanat atau nasehat langsung.
            Pola ringkasan - Dengan pola ini, pada pendahuluan, tema atau topik beserta pokok-pokok bahasannya dikemukakan. Hal ini sekadar memberikan gambaran kepada pembaca tentang apa yang ingin disampaikan.
            Pola pernyataan yang mengejutkan (menonjol) - Misalnya, penulis memilih tema tentang "Membasmi kejahatan". Dengan pola ini, pada bagian pendahuluan, misalnya penulis mengemukakan kalimat-kalimat seperti ini: Pelaku kejahatan sekarang benar-benar tidak bermoral. Bayangkan, di samping menjarah barang-barang, korban pun kadangkala harus menderita kerugian yang lain. Seorang ibu rumah tangga telah diperkosa tiga perampok di depan mata suaminya yang terikat tak berdaya. Peristiwa yang terjadi pekan lalu di kota B ini dan  dilansir banyak surat kabar tersebut, tentu bukan satu-satunya peristiwa kejahatan yang membuat dada kita sesak. Berpuluh-puluh peristiwa serupa terjadi di banyak tempat pula.
            Pola penggambaran (pelukisan) - Penulis mengawali artikel tersebut dengan memberikan gambaran atau melukiskan  sesuatu, baik yang sudah terjadi atau sedang terjadi.
            Pola anekdot - Penulis berupaya menghibur pembaca dengan pendahuluan yang berusaha memancing tawa dan senyum.
            Pola bertanya - Penulis ajukan pertanyaan yang menggoda pembaca untuk mengetahui apa jawabnya.
            Pola kutipan - Penulis dapat mengambil ucapan atau tulisan seseorang yang ternama (tokoh). Misalnya, ucapan atau pendapat Bung Karno tentang revolusi, cinta, kebudayaan dan lainnya.
            Pola amanat (nasehat langsung) - Penulis dapat berakrab-akrab bersama pembaca dengan cara memberitahu atau menasehati (tidak menggurui). Misalnya, artikel tentang kesehatan "Mencoba Melawan Maag". Pada pendahuluannya, penulis dapat menulis seperti ini: Anda sudah makan? Kalau belum, ayo cepat-cepat, jangan sampai terlambat. Sebab, terlambat makan itu berbahaya.

            Tubuh
            Tubuh di dalam artikel berisi semua gagasan, pemikiran-pemikiran, ide, ungkapan-ungkapan peristiwa yang akan dituturkan kembali , dan semua pokok permasalahan di dalam tema atau topik artikel tersebut. Untuk lebih mudahnya, di dalam artikel dibagi dengan beberapa sub-judul atau anak judul.

            Penutup
            Penutup juga bermakna implisit. Jadi, kata-kata 'penutup' ini (sebaiknya) tidak ditulis sebagai suatu istilah di dalam artikel. Penutup haruslah dinyatakan melalui kalimat-kalimat yang menyelesaikan artikel, dengan sasaran pembaca akan terbawa untuk berpikir, menjawab, mengingat dan memperdebatkan lagi dalam dirinya sendiri. ***
                                                            (Sutirman Eka Ardhana)
           

1 komentar: